Berita

bowo Sidik/RMOL

Politik

Kader Terjerat Kasus, Golkar Perlu Kerja Ekstra Untuk Tembus Tiga Besar

SENIN, 08 APRIL 2019 | 21:49 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Jelang Pemilihan Umum 2019 yang tinggal menghitung hari, Partai Golongan Karya (Golkar) dinilai perlu perjuangan ekstra untuk menembus posisi tiga besar.

Hal itu makin berat dengan melihat catatan kadernya yang sempat tersandung kasus hukum baru-baru ini, seperti kasus Bowo Sidik, Eni Saragih, hingga mantan Ketum Golkar, Setya Novanto.

"Dengan banyak tertangkapnya kader Golkar maka ini akan memperlemah suara Golkar. Bila Pileg sebelumnya dapat 14 persen, mungkin kali ini 10 persen saja," kata Pengamat Politik, Hendri Satrio kepada wartawan, Senin (8/4).


Catatan ini dinilai makin sulit lantaran partai pesaing terdekatnya, Gerindra mendapat coattail effect dari pencalonan Prabowo Subianto sebagai capres.

"Berat dua besar, (kalau) tiga besar perlu perjuangan. Mungkin di Pileg 2019 bisa jadi pencapaian terendah Golkar sejak pemilu berlangsung," lanjutnya.

Hal ini makin menjadi PR besar Golkar lantaran sistem Pemilu saat ini digelar serentak antara Pileg dan Pilpres. Karakteristik Golkar yang memiliki kekuatan individu kader yang baik juga tercoreng dengan kasus hukum kadernya.

Yang masih diingat adalah Setya Novanto dengan basis Nusa Tenggara Timur.

"Otomatis di daerah tersebut akan kekuranga suara dengan masuknya Setnov di kasus hukum. Golkar kuat di masing-masing individu," paparnya.

Sebagai catatan, Pileg 2014 Golkar berada di posisi dua dengan persentase 14,75%. Posisi pertama ditempati PDIP dengan perolehan 18,95%, dan di posisi ketiga ada Gerindra dengan 11,81%.

Seperti diketahui, KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kader Golkar yang juga anggota Komisi VI DPR RI, Bowo Sidik Pangarso. Ia ditangkap akhir Maret (27/3) lantaran diduga menerima suap terkait distribusi pupuk.

Pada Senin (1/4), KPK juga menahan kader Golkar, Markus Nari setelah sebelumnya berstatus tersangka pada 19 Juli 2017 dalam kasus KTP-el yang melibatkan Setnov.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Prabowo Bidik Produksi Sedan Listrik Nasional Mulai 2028

Kamis, 09 April 2026 | 16:15

Program Magang Nasional Tidak Tersentuh Efisiensi

Kamis, 09 April 2026 | 15:56

BGN Siap-siap Dicecar DPR soal Pengadaan Motor Listrik MBG

Kamis, 09 April 2026 | 15:41

Gedung Kementerian PU Mendadak Digeledah Kejati DKI

Kamis, 09 April 2026 | 15:33

Gibran Dukung Hakim Ad Hoc di Persidangan Andrie Yunus

Kamis, 09 April 2026 | 15:21

Purbaya Sebut World Bank Salah Hitung soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:19

Prabowo Dorong VKTR Jadi National Champion Industri Otomotif RI

Kamis, 09 April 2026 | 15:08

Jalan Merangkak Demokrasi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:01

Gibran Ajak Deddy Sitorus Sama-sama Berkantor di IKN

Kamis, 09 April 2026 | 14:37

Susun RUU Ketenagakerjaan, Kemnaker Serap Aspirasi 800 Serikat Buruh

Kamis, 09 April 2026 | 14:30

Selengkapnya