Berita

Adnan Anwar/Humas BNPT

Pertahanan

WNI Di Suriah Ingin Pulang, Harus Dipilah Korban Propaganda Dengan Kombatan

JUMAT, 05 APRIL 2019 | 07:43 WIB | LAPORAN:

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) telah mengumumkan kehancuran total jaringan kelompok teroris, Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS).

Pengumuman ini seakan menjadi akhir dari perjuangan dan pertempuran lama terhadap para militant ISIS. Namun demikian, pasca runtuhnya ISIS tersebut, tantangan terbesar adalah mencegah tersebarnya ideologi ISIS agar tidak mempengaruhi masyarakat dan mendorong lahirnya kekerasan baru di Tanah Air.

Karena unsur-unsur ideologi yang melekat pada kombatan ISIS yang ada di Tanah Air tidak mudah luntur.


Untuk itu ormas-ormas (organisasi massa) Islam seperti Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan ormas lainnya yang ada di Tanah Air memiliki peran yang cukup strategis untuk ikut serta mewaspadai, membendung dan menangkal berkembangnya ideologi-ideologi radikal dari kelompok ISIS.

"Karena salah satu kelebihan ormas ini adalah punya basis konstituen yang nyata dan jelas. Ormas-ormas ini harus terlibat secara aktif,  baik di level hulu dalam artian ikut terlibat dalam merumuskan kebijakan termasuk untuk membendung di level apakah itu di undang-undang maupun peraturan," ujar peneliti di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Associate, Adnan Anwar di Jakarta, Jumat (5/4).

Adnan menambahkan, ormas juga harus terlibat secara aktif memasukkan prioritas bahwa pencegahan untuk melarang organisasi radikal seperti ISIS menjadi semacam platform atau program yang secara intensif mereka.

"Peran ormas ini tidak dimiliki negara lain. Karena di negara lain peran ormas sangat kurang terlihat. Sementara di Indonesia, ormas itu sangat strategis karena lahir bersama masyarakat. Apalagi ormas punya jangkauan untuk mencegah dan menghadang berbagai macam pembesaran paham ideologi seperti itu, karena mereka memiliki basis massa yang jelas dan terukur jumlahnya," kata tokoh muda NU ini.

Tak hanya ormas, Adnan juga melihat bahwa tokoh agama atau mubaliq yang memiliki wawasan islam moderat juga punya peran pentimg dalam membendung idologi kekerasan tersebut di masyarakat. Karena tokoh agama atau mubaliq-mubaliq ini juga sering terjun ke masyarakat.

"Jadi kekuatan arusnya dari atas maupun bawah itu bersama-sama untuk menjadikan bahwa ISIS ini sebagai ideologi yang sangat membahayakan," ujar alumni Universitas Airlangga Surabaya ini.

Jika peran ormas dan para tokoh agama ini bisa saling disinergikan tentunya menjadi kekuatan berlapis dan akan sulit untuk ditembus.

"Modelnya seperti pendidikan keluarga seperti zaman dulu seperti P4, bentuknya seperti itu, konvensional diintervensi melalui pertemuan warga, RT/RW, pertemuan kerukunan dan sebagainya tetapi materinya tentang bahayanya ISIS. Dan itu cukup efektif dan berhasil memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk waspada," kata instruktur Pendidikan Kader Penggerak NU ini.
 
Tak hanya itu, menurutnya lembaga pendidikan juga harus membentengi para pelajarnya agar siswanya tidak mudah termakan bujuk rayu propaganda ISIS.  Karena biasanya jika terkait materi dan konten ini anak-anak sekolah atau pelajar ini sangat bergantung dengan gurunya.

"Jadi perlu ada semacam pembinaan dan pemantauan guru-guru yang sering dilakukan oleh instansi terkait seperti Kemendiknas atau Kementerian Agama untuk selalu melakukan sosialisasi bahaya penyebaran bahaya radikalisme ISIS ini di kalangan guru," ujar Adnan.

Terkait dengan kemungkinan adanya warga Indonesia yang sudah terlanjur berhijrah ke Suriah lalu mereka ingin kembali ke Tanah Air, Adnan mengatakan perlu instrumen deradikalisasi dari pemerintah. Selain itu juga harus dilakukan pemilahan mana warga yang berangkat karena awam akibat korban propaganda dengan kombatan.

"Kalau yang berangkat karena terpengaruh propaganda mungkin bisa dilakukan upaya pendekatan deradikalisasi dan harus berkesinambungan," jelasnya.

Namun menurutnya, perlakuan berbeda harus ditujukan kepada kombatan, karena tidak bisa diperlakukan secara pendekatan yang sifatnya soft approach.

Kombatan yang kembali ke Tanah Air harus dilakukan proses hukum dan diperlakukan seperti teroris-teroris lainnya yang menjalani hukuman di Lapas-lapas lalu masuk ke dalam program deradikalisasi yang  lebih sistematis.

"Karena jika satu orang yang pulang lalu dibiarkan saja ini bisa mempengaruhi banyak orang. Jadi ini harus dipilah-pilah dulu mana yang berangkat sebagai kombatan atau yang berangkat karena awam akibat propaganda," ujarnya mengakhiri.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya