Berita

Abdullah Rasyid/RMOL

Nusantara

Dua Pekan Geger, Ini Cerita Abdullah Rasyid Tentang Amplop...

KAMIS, 04 APRIL 2019 | 23:00 WIB | LAPORAN: TUAHTA ARIEF

Dua pekan belakangan, Indonesia digemparkan oleh dua "temuan" amplop.

Amplop pertama adalah Operasi tangkap Tangan (OTT) KPK terhadap Kader Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso dengan barang bukti 400.000 amplop dan uang senilai Rp87 miliar bakal "serangan fajar".

Kedua adalah amplop yang diberikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan kepada KH Zubair Muntasor, di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.


Menurut buku "The History Of Envelopes" yang ditulis Maynard H Benjamin, amplop pertama digunakan oleh bangsa Babilonia, 2000 tahun sebelum masehi. Tentunya Amplop itu berbeda dengan hari ini. Karena saat itu amplop tidak digunakan untuk surat-menyurat, tapi untuk menyimpan catatan dan dokumen penting.

Pada zaman itu, amplop dibuat dalam bentuk kotak sederhana. Bahan bakunya bukan kertas melainkan tanah liat. Karena itulah, amplop di zaman Babilonia tidak bisa dilipat seperti amplop kertas yang ada saat ini.

Amplop kertas mulai dikenal sekitar tahun 1775 dan digunakan untuk berkirim surat lewat pos di Eropa dan Amerika.

Fungsi amplop pun terus berkembang sesuai keadaan dan perkembangan jaman.

"Ternyata amplop memang multi fungsi, seiring waktu dan kemajuan jaman amplop terus mendapat fungsi yang baru. Pada masa Orde Baru kita kenal istilah, 'Kasih amplop, habis perkara!'. Nah, sejak masa inilah kata Amplop jadi terkesan minor," kata Sekjen Boemipoetera, Abdullah Rasyid.

Politikus Demokrat itu juga menambahkan, di Indonesia, pernah ada masa dimana amplop menjadi senjata pamungkas tatkala berurusan dengan birokrasi yang terkesan mempersulit langkah.

"Ada amplopnya enggak?" lanjut Rasyid.

Yang miris, tradisi jelek dari penyimpangan fungsi amplop itu, berlanjut hingga ke jaman Reformasi.

Berharap tradisi selesai di era Orde baru, alih-alih, justru kini semakin mengkhawatirkan.

"Kini ternyata semakin parah, amplop bukan kita berikan hanya untuk pejabat, tapi juga untuk rakyat.  Dalam Demokrasi pasca Reformasi, ketika kita menyepakati pemilihan langsung, maka tanpa kita sadari kita menyepakati Demokrasi Amplop," kata Rasyid yang juga Caleg Partai Demokrat untuk DKI Daerah Pemilihan II ini.

"Demokrasi langsung mengakibatkan terjadinya praktik 'vote buying' atau jual beli suara," kritik Rasyid pada sistem yang memudahkan praktik penyimpangan amplop terus tumbuh.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

PBB Dorong Implementasi Segera Prinsip Bisnis Berbasis HAM di Indonesia

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:05

Membongkar Praktik Haram MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:00

Indonesia Sedang Hadapi Perang Sumber Daya

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:34

Berantas Korupsi di BGN jadi Bukti Prabowo Jalankan Amanat Reformasi 98

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:28

Warga Tuntut Pengurus P3SRS Apartemen Taman Rasuna Diberhentikan

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:07

Pemuda Katolik Dukung Kejagung Bersih-bersih BGN

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:40

Ketua SC Muktamar X PPP Ngaku Borong Kamar Lantai 10 untuk Persidangan

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:17

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Dadan Hindayana Cs Terlalu Berani Korupsi!

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:02

Badko HMI Sultra Laporkan Dua Perusahaan Tambang ke Kejagung

Rabu, 03 Juni 2026 | 23:50

Selengkapnya