Berita

Capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto/Net

Politik

Migrasi Pemilih Jokowi Kian Meluas

KAMIS, 04 APRIL 2019 | 16:59 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Migrasi pemilih penyebab elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) gembos. Jelang hari H pencoblosan pilpres, migrasi pemilih Jokowi terjadi kian meluas di berbagai latar belakang pemilih.

"Ini tentu sangat menguntungkan pasangan Prabowo-Sandi. Karena migrasi pemilih Jokowi hanya bermuara kepada memilih Prabowo-Sandi atau menjadi golongan putih (golput)," kata Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM) Bin Firman Tresnadi melalui pesan elektronik kepada redaksi, Kamis (4/4).

Dia mengatakan migrasi pemilih Jokowi terdeteksi sejak lama. Survei IDM pada Mei 2018 menunjukkan migrasi pemilih didominasi kelompok masyarakat yang termarjinalkan oleh janji Jokowi, yakni petani dan buruh.


Petani merasa tidak puas atas turunnya harga komoditas dan impor beras yang digenjot pemerintah. Peternak ayam skala kecil banyak gulung tikar karena tidakstabilnya harga pakan yang berlangsung cukup lama. Adapun para buruh ogah memilih Jokowi karena terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 78/2015 (PP 78) tentang Pengupahan yang mengebiri hak upah buruh.

Bin Firman menjelaskan survei IDM yang dilakukan pada 8-21 Oktober 2018 menggambarkan migrasi terjadi akibat ketidakpuasan terhadap kinerja Jokowi di bidang ekonomi. 38.9% responden mengatakan kondisi ekonomi mengalami penurunan sementara 48,4% mengatakan kondisi ekonomi mereka sama saja alias stagnan.

"Hasil survei IDM pada bulan Maret ini menunjukkan sebanyak 71.7% responden mengatakan sulit mencari pekerjaan. Ini menambah migrasi pemilih Jokowi di kalangan milenial yang memang sangat membutuhkan lapangan kerja," papar dia.

Migrasi pemilih Jokowi juga melanda kelas menengah perkotaan, dimana isu korupsi dan demokrasi merupakan hal penting bagi kelas ini. Tertangkapnya Romahurmuziy sebagai salah satu tim inti Jokowi dalam operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan juga kriminalisasi terhadap pengkritik Jokowi, masih kata Bin, menambah deret barisan migrasi pemilih Jokowi.

Bin mengingatkan pada Pemilu 2014, pertarungan antara Jokowi dengan Prabowo adalah pertarungan value (nilai) dan pertarungan idiologi (gagasan). Jokowi mengusung kerakyatan dan Prabowo mengusung kemandirian nasional. Jokowi sebagai simbol gerakan politik kerakyatan dicitrakan sebagai “si Marhaen” seperti rakyat Indonesia pada umumnya. Hal ini nampak dalam wujud kampanye Jokowi seperti menjadi tukang tambal ban, mengayuh becak, harga pakaian yang dikenakan, dan sejenisnya.

Sedangkan Prabowo mencitrakan sebagai pelanjut para pendiri bangsa, bisa dilihat dari gaya berpakaian Prabowo yang mencontoh busana para pejuang kemerdekaan. Pun dalam orasi-orasinya, Prabowo selalu mengatakan, "percaya dan bangun kekuatan diri sendiri, kita akan menjadi macan Asia".

"Rakyat pun memilih Jokowi sebagai Presiden. Kemenangan Jokowi saat itu sangat tipis, hanya selisih 6,3% dari suara yang memilih Prabowo. Tapi apa lacur, Trisakti program unggulan Jokowi di masa kampanye 2014 masuk tong sampah. Subsidi-subsidi rakyat dikurangi, impor merajalela, BUMN di privatisasi. Rakyat pun meradang," demikian kata Bin Firman.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya