Berita

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu lalu/Net

Global

Rusia Kirim Pasukan Spesialis Ke Venezuela, AS Ketar-ketir

SABTU, 30 MARET 2019 | 12:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Amerika Serikat tampak ketar-ketir dengan kehadiran Rusia di Venezuela. Betapa tidak, pada Jumat (29/3), Gedung Putih mewanti-wanti agar Rusia dan negara-negara lain yang mendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak mengirim pasukan dan peralatan militer ke Venezuela.
 
Negeri Paman Sam menganggap tindakan seperti itu sebagai ancaman langsung terhadap keamanan kawasan.
 
Perwakilan Khusus Amerika Serikat untuk Venezuela, Elliott Abrams menyebut bahwa Sekretaris Negara Amerika Serikat, Mike Pompeo telah diberikan daftar opsi untuk menanggapi kehadiran Rusia yang semakin meningkat di Venezuela. Termasuk di dalam daftar opsi itu adalah penerapan sanksi baru.
 

 
“Kami memiliki opsi dan itu akan menjadi kesalahan bagi Rusia untuk berpikir bahwa mereka memiliki kebebasan di sini," kata Abrams, seperti dimuat Reuters.
 
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump awal pekan ini mengatakan, Rusia harus keluar dari Venezuela dan mengatakan semua opsi terbuka untuk memaksa Rusia melakukannya.
 
Penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton mengeluarkan peringatan kedua pada hari Jumat (29/3).
 
"Kami sangat memperingatkan para aktor di luar Belahan Barat agar tidak mengerahkan aset militer ke Venezuela, atau di tempat lain di Belahan Bumi, dengan maksud membangun atau memperluas operasi militer," kata Bolton.
 
“Kami akan mempertimbangkan tindakan provokatif seperti itu sebagai ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional di kawasan ini. Kami akan terus membela dan melindungi kepentingan Amerika Serikat, dan kepentingan mitra kami di Belahan Barat," tambahnya.
 
Padahal, Rusia hanya mengirumkan pasukan spesialis ke Venezuela. Pengiriman dilakukan di bawah kerangka kerja sama militer antara kedua negara. Rusia bahkan bersikeras bahwa kehadiran pasukan Rusia di Venezuela tidak akan mengancam stabilitas regional.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya