Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Oyster Terbelah Dua

SABTU, 23 MARET 2019 | 05:02 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BUKAN hatinya yang terbelah dua: tapi wilayah negaranya. Yang seperti itu banyak. Di negara kaya tidak masalah. Misalnya Amerika Serikat. Untuk ke wilayahnya yang di Alaska harus melewati Kanada.

Di Pakistan masalahnya sangat besar. Dulu. Untuk ke Pakistan Timur harus menyeberangi   India. Padahal sejak perceraiannya dulu India-Pakistan selalu bermusuhan. Setidaknya di bawah selimut. Akhirnya Pakistan Timur tidak terurus. Minta merdeka. Jadilah Bangladesh.

Masih ada dua negara yang seperti itu. Timor Leste punya distrik Oecusse. Yang ibukotanya Pante Makassar. Yang untuk ke sana harus melewati propinsi Nusa Tenggara Timur.


Di Kroasia sama: untuk ke satu daerahnya harus melewati Bosnia Herzegovina. Atau harus menyeberang selat Mali Ston. Yang membuat Kroasia mendapat gelar negara oyster.

Timor Leste belum punya rencana besar untuk mengatasi Oecusse. Tapi Kroasia sudah lega. Kini Kroasia sedang membangun jembatan melintasi laut. Panjangnya 2,5 km. Tidak seberapa untuk zaman modern ini. Sudah terlalu banyak jembatan yang lebih panjang dari itu. Pun yang sampai lebih dari 30 km. Bahkan jembatan yang baru diresmikan ini panjangnya 50 km: dari Hongkong ke Makau dan Zuhai.

Yang masalah adalah: siapa yang membangun jembatan di Kroasia itu.

Jawabnya pun Anda sudah bisa menduga: Tiongkok! Apanya yang salah? Tidak ada.

Tapi Kroasia itu di Eropa. Anggota Uni Eropa. Proyek ini dinilai tonggak mulai takluknya Eropa pada Tiongkok. Setidaknya inilah awal penaklukan itu. Kaki Tiongkok sudah mendapatkan pijakan pertamanya. Kokoh pula.
Sebenarnya sudah sejak 12 tahun lalu jembatan ini direncanakan. Tapi dananya tidak cukup tersedia. Pun ada krisis keuangan dunia. Di tahun 2008 itu. Ditambah protes dari Bosnia.

Kalau jembatan itu dibangun Bosnia khawatir terganggu. Terutama lalu-lintas ke pelabuhannya.
Kroasia-Bosnia memang bisa saling kunci. Satu-satunya jalan menuju pelabuhan Bosnia harus lewat perairan Kroasia. Yakni laut yang memisahkan daratan Kroasia dengan wilayahnya yang di seberang laut.
 
Tapi Kroasia juga terkunci oleh Bosnia. Untuk ke daratannya di seberang laut itu harus melewati daratan Bosnia.
Tapi keduanya pilih damai. Jembatan diizinkan dibangun. Asal tingginya 50 meter dari permukaan air laut. Untuk kebebasan lalu-lintas kapal. Tinggal soal dana.

Uni Eropa bersedia menyediakan sebagian besar dana itu. Syaratnya: spesifikasi jembatan harus memenuhi standar Eropa. Tendernya pun harus benar-benar terbuka: tender internasional. Tidak boleh tender-tenderan. Apalagi ada sogokan untuk pejabat di negara pemilik proyek: Kroasia.

Jerman, Perancis, Austria, Turki dan Belanda ikut tender. Demikian juga Italia. Tetangga terdekat Kroasia.
Demikian juga akhirnya: Tiongkok.

Pemenangnya: yang terakhir itu. Dengan tawaran 205 juta Euro. Selisih sekitar 60 juta Euro. Atau sekitar Rp 1 triliun lebih murah.

Hebohnya buka main. Bagaimana Tiongkok bisa menawar begitu murah.

Proyek Tiongkok sebenarnya bisa murah. Asal tendernya benar-benar tidak diatur. Tidak ada dana yang mengalir di balik tender itu.

Jembatan Kroasia buka saja pijakan pertama bagi Tiongkok di Eropa. Tapi juga promosi bahwa Tiongkok akan mampu membangun jembatan dengan standar Eropa.

Kini jembatan itu sedang dikerjakan. Dimulai Oktober lalu. Akan selesai tahun 2022.

Penggemar oyster bisa segera mencoba jembatan ini. Tidak ada masakan oyster lebih enak dari Kroasia.

Memang di sekitar bawah jembatan itulah pusat pengembangan oyster dunia. Sejak zaman kuno dulu. Pun sebelum kekaisaran Roma.

Penggemar oyster sudah bisa merencanakan tur ke Kroasia. Tahun 2023 nanti.

Saya usul: kalau ke sana baiknya di bulan Maret. Seperti sekarang ini. Minggu ini. Pas di sana panen raya oyster. Bisa melahapnya di Mali Ston. Sambil memandang jembatan baru.

Oyster ala Kroasia dengan jembatan ala... haiyya.. ala mana ya?

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2026 Digelar di JCC, Dorong UMKM Naik Kelas

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:25

Jaksa Agung Rotasi 29 Jaksa Termasuk Dirdik Jampidsus

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05

Bawaslu Mulai Susun Indeks Kerawanan Pemilu 2029

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:00

Refly Harun Kawal Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:45

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:43

OPM Pimpinan Kopitua Heluka Diduga Dalang Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:39

Pemuda Jabar Peduli Gelar Santunan untuk Korban Pesta Rakyat Garut

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:36

Gus Yahya Siap Bertarung Lagi Pertahankan Kursi Ketum PBNU

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:32

Pakta Integritas Perempuan Bangsa Wujud Totalitas Besarkan PKB

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30

Wakapolri Ingatkan Perwira Remaja: Satu Tindakan Menyimpang Rusak Kepercayaan Polri

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:21

Selengkapnya