Berita

Sandiaga Uno/Net

Politik

Sandinomics: Catatan Atas Debat Cawapres

SENIN, 18 MARET 2019 | 15:30 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

TULISAN ini merupakan catatan saya atas debat cawapres tadi malam dan melanjutkan tulisan saya tentang Sandinomic tujuh bulan terdahulu
(misalnya dapat diakses di https://bit.ly/2TZaZxW dan https://bit.ly/2W7MDPS )

Pokok Sandinomics pada paparan ini dapat dikaji lebih dalam karena apa yang dipaparkan Sandi kemarin malam sudah melalui interaksinya terhadap rakyat Indonesia dari berbagai daerah, khususnya orang-orang kecil di 1500 kunjungannya selama tujuh bulan terakhir.

Lapangan Kerja dan Harga-harga Kebutuhan Pokok

Lapangan Kerja dan Harga-harga Kebutuhan Pokok

Konsistensi Sandinomics melihat persoalan pokok bangsa kita tetap fokus pada dua hal utama, yakni masalah lapangan kerja dan kesempatan kerja tentunya, serta mahalnya harga kebutuhan rumah tangga.

Setelah tujuh bulan mendalami isu pokok pada kunjungan ke berbagai daerah dengan 1.500 daerah, Sandi memperoleh pendalaman dan penajaman pada nasib anak-anak muda Indonesia ke depan. Yakni terperangkap pada semangat berubah nasib di satu sisi. Sementara di sisi lain kesempatan kerja terbatas.

Sandi menemui keluhan-keluhan anak-anak usia muda kehilangan produktivitas mereka sejak keluar SMA. Bahkan, ketika mereka memilih jurusan sekolah menengah khusus (SMK), lapangan kerja juga kurang tersedia.

Fokus pada usia muda ini karena menurut Sandi alasannya sebagai berikut:

1) proyeksi Indonesia menjadi negara PDB ke-5 terbesar di dunia pada 2045 atau ke-7 pada 2030-35 hanya akan terwujud jika bonus demografi yang kita alami tidak menjadi "kutukan demografi".

Bonus demografi di Indonesia sampai saat ini masih menjadi kajian yang sumir.

2) Keluhan anak-anak usia muda bukan karena mereka minta ditangisi, namun tenaga kerja usia ini hanya perlu negara hadir mempermudah "link and match" dunia pendidikan dengan dunia kerja.

3) Tenaga kerja usia muda ini mayoritas menginginkan masa depan sebagai wirausaha. Ini adalah kesempatan bagi bangsa kita mendorong perubahan struktur berpikir di masa lalu yang anak2 muda di dorong untuk menjadi pegawai negeri maupun pekerja pabrik.

Dengan banyaknya calon-calon entrepreneur, proporsi jumlah entrepreneur kita akan meningkat. Meski angka  wirausahawan sebesar 2 persen penduduk diklaim sudah terlewati, mungkin angka ini bercampur dengan sektor informal yang subsisten.

Lapangan kerja dan kesempatan kerja yang ditargetkan Sandi spesifik pada isu tenaga kerja usia muda ini sebesar 2 juta dalam lima tahun. Jika pertumbuhan ekonomi era Prabowo Sandi berkuasa (InsyaAllah) mencapai tujuh persen setahun dengan target 400 ribu penyerapan naker per 1 persen pertumbuhan pertahun, tentu segmen usia kerja muda dengan porsi terserap 400.000 (2 juta per tahun), sangat spektakuler.

Dalam sisi lain acara debat cawapres, Sandi memikirkan tenaga kerja sebagai pekerja, bukan entrepreneur.

Sebagai pekerja, Sandi meyakini perlunya pengurangan outsourcing dan kerja kontrak (PKWT) dan meningkatkan upah layak.

Soal harga-harga kebutuhan pokok yang terjangkau, tidak muncul banyak dalam debat cawapres.

Mozaik pemikiran yang tersambungkan dengan pandangan-pandangan capres pada debat capres sebelumnya, juga pandangan Dr. Rizal Ramli, sebagai salah satu ekonom yang dirujuk Sandinomics maupun pandangan Sandi sendiri dalam berbagai kesempatan, mengutarakan  bahwa kebijakan harga terjangkau merupakan langkah kunci Sandinomics.

Mafia-mafia pangan dan impor akan disingkirkan untuk mendapatkan harga bebas rente.

The Welfare Mix

Untuk mendukung pembangunan yang bertumpu pada manusia, Sandi menyadari obral banyak kartu alias membebankan semua pengeluaran welfare kepada negara adalah sebuah kepalsuan. Pada masyarakat berkembang, sistem welfare state belum mungkin terjadi. Oleh karenanya, Sandinomics mengusulkan The Welfare Mix.

Negara akan menggandeng kekuatan masyarakat dalam isu kolaborasi memecahkan masalah bangsa.

Sandinomics akan tetap menjalankan BPJS, bahkan dalam 200 hari memecahkan masalah kesemrawutan sistem sosial security kita selama ini.

Bantuan sosial seperti PKH (Program Keluarga Harapan) yang sudah ditelurkan di masa presiden SBY tetap dijalankan. Namun, Sandinomics tidak akan masuk dalam pemberian uang bagi pengangguran.

Kenapa? 1) fakta yang ada adalah para pencari kerja maupun pengangguran butuh kemudahan mendapatkan pekerjaan layak. 2) uang negara tidak cukup untuk mensubsidi pengangguran, melebihi subsidi-subsidi yang sudah berlangsung sejak jaman SBY, seperti Bansos, PKH, KUR dan lain sebagainya.

Dalam kondisi Indonesia sebagai negara berkembang, pemberian subsidi yang terlalu diobral akan mengakibatkan kemarahan pembayar pajak dan melemahkan semangat penerima bantuan mencari kerja.

Besarnya beban pembangunan dapat dipecahkan dengan mendorong keikutsertaan masyarakat atau sekedar perbaikan pola/sistem keterlibatan mereka.

Sifat masyarakat kita yang senang beramal saleh merupakan modal utama untuk itu. Istilah kolaborasi dari Sandinomics adalah membangun tanggung jawab bersama, "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing".  

Kolaborasi antara peran negara, swasta dan masyarakat dalam pembangunan àdalah the Welfare Mix. Sandi mengilustrasikan sebuah contoh kolaborasi, dalam debat kemarin, seperti gerakan "sedekah putih".

Pembangunan Manusia

Sandinomics melihat kegagalan besar bangsa kita terletak pada sistem pendidikan yang tidak "Link and Match".

Link and Match pada pendekatan kebutuhan (demand side) menunjukkan antisipasi dunia kerja ke depan tidak terantisipasi dengan baik pada desain kurikulum.

Sebaliknya, pada sisi keminatan siswa (supply side), banyak pelajaran-pelajaran dan pembidangan yang dimasuki siswa/mahasiswa karena terpaksa, bukan karena keinginan natural. Terpaksa bisa terjadi karena paksaan orang tua maupun terpaksa karena ketersediaan jurusan.

Kedua hal di atas sama buruknya. Satu sisi kita melihat jumlah lapangan kerja pada "skill" tertentu terbatas. Di sisi lain kita melihat semakin banyak orang meninggalkan bidang keilmuan yang digelutinya di sekolah/kampus.

Masalah kebutuhan dunia kerja, motivasi siswa/mahasiswa serta humaniora dalam Sandinomics akan diselesaikan sekaligus.

Penghapusan ujian nasional (UN) yang dianggap sebagai penghamburan uang serta tidak relevan, akan diganti dengan pendekatan bakat, seperti di negara-negara barat.

Penutup

Sandinomics menyadari bahwa beban bangsa kita terlalu besar untuk dipecahkan sendiri oleh negara. Negara selain harus hadir di depan, namun kolaborasi dari segenap lapisan masyarakat dan dunia usaha diperlukan.

Penyelesaian urusan negara tentu panjang dan bertahap. Sandinomics akan melakukan prioritas pada masalah lapangan kerja, memberantas pengangguran, meningkatkan upah layak, mencetak 2 juta wirausahawan muda, mengadopsi kekuatan riset dan inovasi.

"Rumah Siap Kerja" telah di launching untuk mendukung itu. Pada sisi lain welfare policy dijalankan sebagai kebijakan paralel dan rasional.

Dalam jangka panjang, pembangunan manusia akan menjadi tulang punggung pembangunan.

Direktur Sabang Merauke Circle

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya