Berita

Foto/Net

On The Spot

Pemilik Kapal Tradisional di Pulau Seribu Menjerit

Sepi Penumpang, 2 Bulan Tidak Melaut
JUMAT, 15 MARET 2019 | 10:17 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kapal motor (KM) tradisional yang melayani rute Jakarta-Kepulauan Seribu, mulai menjerit. Penumpang di rute yang mereka layani, menurun drastis.

Sore itu, Basofi tampak duduk bersantai di dek sebuah kapaldi Pelabuhan Kali Adem, Penjaringan, Jakarta Utara. Pandangannya terfokus pada layar gawai miliknya. Sesekali, wajahnya serius. Tapi beberapa detik berikutnya, senyum kecil terlihat di wajahnya. Bermain gawai jadi salah satu kegiatannya sebelum menyiapkan kapal.

Basofi Sudirman, atau kerap dipanggil Gopek, adalah salah seorang anak buah kapal (ABK) KM Bima. Saban hari, kapal itu melayani perjalanan dari Pelabuhan Kali Adem ke Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu, maupun sebaliknya.


Sinar matahari semakin meredup, Gopek mulai berganti aktivitas. Dari yang tadinya bersantai sambil bermain gawai, berganti jadi kesibukan mempersiapkan kapal. KM Bima me­mang tidak berangkat hari itu. Tapi, persiapan sudah dilakukan sejak dini.

"Kalau berangkatnya pagi, jam delapan," ucap Gopek, Selasa (12/3).

Gopek kebagian membersih­kan kapal. Sedangkan rekannya sesama ABK, terlihat turun ke bagian bawah. Ke kamar mesin. Perlengkapan bersih-bersih, mulai dari sapu, kain pel, serta ember yang sudah berisi air dan pengharum lantai, disiapkan.

Ada dua lantai yang mesti dibersihkannya. Kedua lantai itu, biasanya jadi tempat para penumpang yang akan berlayar ke Pulau Pari. Semuanya terbuat dari kayu. Sama seperti bodi kapal.

Usai membersihkan lantai, Gopek mulai membersihkan kursi dan perlengkapan lainnya. Sembari bersih-bersih, dia juga menyiapkan rompi pelampung berwarrna oranye di masing-masing kursi.

Kapal yang diawaki Gopek, berukuran sedang. Sama seperti kapal-kapal lain yang juga bersandar di Kali Adem saat itu. Lebarnya sekitar enam meter. Sedangkan panjangnya sekitar 10 meter. Terdiri dari tiga lantai.Paling bawah kamar mesin, sedangkan dua lantai di atasnya, untuk pen­umpang dan kemudi kapal.

Kapal terdiri dari satu kelas. Sebanyak 230 penumpang bisa diangkut kapal itu dalam sekali jalan. Konfigurasi kursinya dua-enam-dua. Sedangkan untuk sirkulasi udara, memanfaatkan jendela-jendela kayu di kapal itu.

Saat itu, suasana di Pelabuhan Kali Adem, sudah sepi. Sama seperti sepinya penumpang kapal tradisional yang diawaki Gopek beberapa bulan terakhir. "Lumayan terasa, Mas. Sudah be­berapa bulan ini," ucap Gopek.

Bahkan, dalam waktu itu, beberapa kali kapal batal berangkat karena tak ada penumpang. Kalau pun ada, jumlah penumpang sedikit sekali. Penurunannya lebih dari 70 persen. Hingga pendapatan tak cukup untuk menutup biaya operasional kapal dan awak.

"Terasa banget. Padahal kan Pulau Pari termasuk tujuan wisata," keluhnya.

Banyak hal yang jadi penyebabnya. Salah satunya, kapal-kapal yang lebih modern. Kapal-kapal itu juga melayani rute yang sama dengan kapalnya. Operator kapal itu biasanya dari swasta, dan juga pemerintah. "Salah satunya karena kalah sa­ing juga," ucapnya.

Bahkan, kapal yang diawakinya sempat dua bulan tak berlayar lantaran tak ada penumpang sama sekali. Sementara untuk kargo, dia mengaku, kapalnya tidak melaya­ninya. Kapalnya khusus untuk membawa penumpang.

"Kalaupun bawa barang, itu punya penumpang yang ikut. Enggak khusus angkut barang," jelasnya.

Gopek juga sudah mendengar rencana pengoperasian kapal-kapal baru oleh PT Trans 1.000 Jakarta, pada Mei nanti. Namun, dia mengaku belum tahu, apakah pemilik kapal yang diawakinya diajak bekerja sama atau tidak. Tapi, dia menilai, kapal-kapal itu justru akan membuat pendapatan semakin menurun.

Terkait rencana perusahaan itu, yang ingin menjadikan kapal tradisional jadi kapal kargo, Gopek menyerahkan sepenuhnya kepada pemilik kapal.

"Menurut saya, kalau sama-sama menguntungkan, pasti mau kerja sama," ujarnya.

Sudah Tak Tahan, Pemilik Mau Jual Kapal...

Kesulitan juga dirasakan Suhardi. Dia adalah pemilik KM Kurnia. Kapal dengan berat kotor 81 ton, berkapasitas 220 penumpang. Kapal yang dia belitahun 2013, seharga lebih dari Rp 700 juta itu, kini tak lagi ramai penumpang. Para ABK-nyayang dulu bisa mendapat penghasilan Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan, kini harus bertahan hidup dengan mancing ikan.

Kata Suhardi, ada 72 kepala keluarga yang ekonominya lumpuh karena tidak dapat penghasilan. "Hampir enam bulan sepi penumpang," keluh Suhardi.

Pria 60 tahun itu, menjelaskan, sekali jalan, kapal yang berop­erasi menempuh rute Tidung- Jakarta, biaya operasionalnya Rp 3,5 juta. Itu hanya bisa ditu­tup bila ada penumpang.

Namun, mereka yang biasa naik kapal milik Suhardi kini memilih kapal yang lebih cepat dan modern, meski kadang masih sering menitip barang belanjaan ke kapal Suhardi. "Apa enggak sakit kita?" ujar Suhardi.

Dia mengeluarkan biaya rutin berupa pemeliharaan (naik dock) minimal Rp 15 juta. Sekali seta­hun. Selain itu, perpanjangan sertipikat keselamatan kapal dan izin penumpang tiap satu semester, sebesar Rp 2 juta.

Tidak cukup sampai di situ. Untuk penggantian rompi pe­lampung yang dinyatakan rusak oleh petugas pemeriksa, jum­lahnya sekitar 50 unit per tahun. Satu rompi seharga Rp 42 ribu. Sedangkan yang kualitas lebih bagus, harganya bisa mencapai Rp 90 ribu. Rompi itu tidak ru­sak karena dipakai penumpang dengan seharusnya, melainkan rusak karena jadi alas duduk dan tidur.

Saking sepinya penumpang, dia sudah punya rencana untuk menjual murah kapalnya. Itu dilakukan daripada rusak tanpa menghasilkan duit. Dia ingin alih profesi bermodalkan uang hasil jual kapal. "Saya perlu makan, perlu salin pakaian," katanya.

Meski begitu, dia berharap pe­merintah mau membantu orang-orang yang bekerja di kapal ojek tradisional dalam bentuk subsidi. Supaya ongkos penumpang lebih murah. Juga, kapal-kapal cang­gih yang dirasanya menghalangi rezekinya perlu dialihkan tempat sandarnya ke dermaga lain.

"Tak bercampur dengan kapal tradisional yang ngos-ngosan cari penumpang," harapnya. ***

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

Airlangga: Negosiasi Tarif AS Terkait Board of Peace Gaza

Sabtu, 14 Februari 2026 | 21:47

Pengedar 15,5 Kg Ganja Diciduk di Parkiran Stasiun Tanah Abang

Sabtu, 14 Februari 2026 | 21:16

Dokumen Epstein Seret Nama Ahmed bin Sulayem, DP World Tunjuk Bos Baru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 20:27

Tetap Jalan, Menko Pangan Jelaskan Skema MBG di Bulan Ramadan

Sabtu, 14 Februari 2026 | 19:52

Film Heartbreak Winter x Mordenbeu: Dari Cinta yang Retak Menuju Versi Terbaik Dirimu

Sabtu, 14 Februari 2026 | 18:53

BNI Siagakan Layanan Terbatas Saat Libur Imlek

Sabtu, 14 Februari 2026 | 18:49

PANFEST 2026 Ajang Konsolidasi Kuatkan Ekonomi Rakyat

Sabtu, 14 Februari 2026 | 18:17

Diluruskan, Ini Alasan Polisi Tidak Tahan Bahar bin Smith

Sabtu, 14 Februari 2026 | 17:43

PANFEST 2026 Hadirkan 12.000 Sajian Pangan Nusantara di Hutan Kota GBK

Sabtu, 14 Februari 2026 | 17:08

Roy Suryo Cs Minta Cabut Status Tersangka, Ini Kata Polda Metro

Sabtu, 14 Februari 2026 | 16:37

Selengkapnya