Berita

Prabowo Subianto/Net

Politik

Pemecatan Prabowo Didasari Sentimen Pribadi Dengan Tujuan Menghancurkan Reputasi

RABU, 13 MARET 2019 | 03:32 WIB | LAPORAN:

Partai Gerindra menanggapi santai ocehan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar soal sidang pemecatan Prabowo Subianto dari dinas kemiliteran.

"Itu sih cerita masa lalu," kata Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (12/3)

Arief menekankan tidak jadi soal Agum memberikan kesaksian mengenai sidang pemecatan Prabowo Subianto dari dinas kemiliteran dan mengaku mengetahui segala peristiwa terkait kasus pelanggaran HAM 98 ke publik.
Sebab yang sebenarnya terjadi, kata dia, pemecatan Prabowo didasari sentimen pribadi para jenderal yang saat itu mengisi Dewan Kehormatan Perwira untuk menyingkirkan dan menghancurkan reputasi Prabowo.

Sebab yang sebenarnya terjadi, kata dia, pemecatan Prabowo didasari sentimen pribadi para jenderal yang saat itu mengisi Dewan Kehormatan Perwira untuk menyingkirkan dan menghancurkan reputasi Prabowo.
Buktinya, kata dia, hingga saat ini tidak ada satupun bukti yang menunjukkan Prabowo terlibat dalam kasus penculikan aktivis mahasiswa.

"Justru Pak Prabowo yang membongkar operasi penculikan para aktivis dan melakukan penyelamatan para aktivis yang diculik agar jangan di eksekusi mati," tekan Arief yang juga aktivis mahasiswa tahun 1998 ini.

Arief Poyuono juga meluruskan klaim Agum yang menyebut Prabowo tidak taat pada atasannya di ABRI sehingga Prabowo yang kala itu menjabat Pangkostrad dianggap indisipliner dan harus dipecat.

"Bukan indisipliner kalau menurut saya ya. justru Pak Prabowo saat itu mengerahkan pasukan Kostrad karena ada pembiaran dari pangdam jaya dan wiranto dengan terjadi Bumi hangus jakarta saat Mei 98 ya. Masa mau nyelametin masyarakat dibilang indisipliner sih," jelas Arief.

Arief menyatakan Prabowo dipecat dari kesatuan hanya karena dia dikorbankan oleh Wiranto yang saat itu menjabat Panglima ABRI.

"Prabowo cuma korban politisasinya Wiranto and the genk saja untuk mengulingkan rezim Pak Suharto pada waktu itu," pungkasnya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya