Berita

Abdul Rivai Ras/Repro

Politik

Demokrasi Indonesia Dihiasi Marbot Politik Dan Politik Mie Instan

SELASA, 12 MARET 2019 | 00:18 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

. Founder Bro Rivai Center, Abdul Rivai Ras menggambarkan dua tipe kaderisasi di partai politik untuk melihat kualitas politisi yang saat ini banyak dipertanyakan di ruang-ruang publik.

"Saya sebut dengan istilah marbot (doja) politik dan politik mie instan," kata dia di acara BRC Table Talk seri ketiga dengan tema "Budaya Politik dan Wisata Demokrasi".

Marbot politik dan politik mie instan dikatakan dia, banyak menghiasai demokrasi Indonesia sekarang ini. Marbot politik dijelaskannya, adalah jenjang kaderisasi di partai politik. Politisi hasil pengkaderan tipe ini berkarir di partai memulai dari bawah seperti menjadi staf, kepala sekretariat, sekretaris hingga menjadi ketua partai.
"Politisi dengan karakter seperti ini loyal terhadap partai namun kurang memahami konteks kepemimpinan secara utuh. Misalnya pengambilan kebijakan dan pembuatan sebuah produk-produk hukum," ucap Bro Rivai, sapaan akrab Abdul Rivai Ras, saat memandu acara yang menghadirkan Guru Besar Bidang Politik IPDN Prof. Nurliah Nurdin dan Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unhas Dr. Hasrullah sebagai pembicara itu.

"Politisi dengan karakter seperti ini loyal terhadap partai namun kurang memahami konteks kepemimpinan secara utuh. Misalnya pengambilan kebijakan dan pembuatan sebuah produk-produk hukum," ucap Bro Rivai, sapaan akrab Abdul Rivai Ras, saat memandu acara yang menghadirkan Guru Besar Bidang Politik IPDN Prof. Nurliah Nurdin dan Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unhas Dr. Hasrullah sebagai pembicara itu.

Berbeda dengan politik mie instan, dijelaskan Bro Rivai, tipe marbot politik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki modal budgeting yang cukup untuk membeli kendaraan partai agar ikut bertarung atau dipinang oleh partai mengikuti sebuah kontestasi pileg misalnya.

"Namun, secara kapasitas kurang mampu beradaptasi dan mengambil peran terhadap hal-hal yang sifatnya kepentingan publik. Biasanya tipe seperti ini adalah mereka yang memiliki uang lebih atau seorang keluarga pejabat. Entah bapaknya adalah gubernur, walikota atau seorang bupati," jelas dia dalam acara yang berlangsung di Warung Upnormal Makassar, Minggu (10/3) itu.

Apa yang diungkap Bro Rivai ini memberikan gambaran nyata terhadap fenomena caleg yang notabenenya bakal mengisi parlemen nanti. Apakah benar politisi yang bermunculan sekarang ada karena kualitas, marbot politik atau politik mie instan?

Apapun itu, lanjutnya, proses rekrutmen politik harus selektif, mampu membawa perubahan, mengantarkan aspirasi rakyat disamping memiliki kapabilitas kepemimpinan serta cukup bekal wawasan dan  pengetahuan politik termasuk kebijakan pembangunan.

"Hal ini penting dalam mendorong kualitas proses politik dan demokrasi di masa depan," tukas Bro Rivai.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya