Berita

Suhardi Alius/Humas BNPT

Pertahanan

Kepala BNPT: Sekarang Orang Belajar Agama Dari Ustaz Google

MINGGU, 10 MARET 2019 | 08:22 WIB | LAPORAN:

Kondisi zaman yang sudah berubah tidak bisa dihindari.

Arus globalisasi dan berkembangnya teknologi yang begitu pesat telah menggerus rasa nasionalisme dan kebangsaan, di mana hubungan yang sebelumnya dekat menjadi terasa jauh. Generasi sekarang cenderung selalu menunduk untuk tenggelam dalam dunia maya.

Hal itu diutarakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius saat memberikan kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa dan mahasiswi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup, Rejang Lebong, Bengkulu, baru-baru ini.
 

 
"Perhatikan lingkungan kalian, saat lagi makan siang, yang dekat jadi jauh, yang jauh jadi dekat. Semuanya  memegang handphone, interaksi langsung dengan orang yang dekat menjadi hal yang langka. Anak muda jadi individualis, kalau tidak ada hubungan dengan mereka, meraka tidak akan mau tahu, sehingga nilai kebangsaan, nasionalisme dan persaudaraannya secara tak langsung tergerus," ujar Suhardi.
 
Tak hanya itu, mantan Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas RI ini juga menekankan pentingnya filterisasi dalam berinternet.

“Kita lihat internet sekarang, konten yang berada di dalamnya  tidak hanya bermanfaat, tapi juga bisa membawa dampak yang buruk. Konten hoax, kekerasan, pornografi bahkan penyebaran paham-paham radikal ada di internet. Tidak sedikit orang-orang yang dicuci otaknya hanya melalui internet, kemampuan kita memfilter yang menentukan," katanya.

Alumni Akpol tahun 1985 ini juga menjelaskan di zaman sekarang, orang-orang terutama anak muda tidak lagi menjadikan IAIN atau sekolah pendidikan agama sebagai acuan menuntut ilmu agama, tetapi malah menjadikan internet sebagai sumber pembelajaran.

"Sekarang orang belajar agama dari ‘ustad google’, sehingga malah banyak yang terjebak  pada ajaran yang salah dan menyesatkan," cetus mantan Kapolda Jawa Barat ini.

Mahasiswa IAIN nantinya menjadi tenaga pendidik. Hal ini, menurut Suhardi, dibutuhkan suatu pemahaman dan bekal yang lebih kuat, sehingga bisa membimbing muridnya kelak.

"Mereka ini dipersiapkan untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, mereka menguasai masalah-masalah ilmu, bagaimana kita memberikan penjelasan dengan Islam yang moderat, kepada anak didik mereka nantinya, dengan hal-hal semacam ini mereka bisa mengerti, mengindetifikasi masalah bagaimana dan bagaimana menuntun anak muridnya di masa yang akan datang," urai Suhardi.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya