Berita

Jokp Widodo/Net

Politik

Jokowi Naik Kereta

JUMAT, 08 MARET 2019 | 15:55 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

JOKOWI pulang kerja naik kereta. Aksi ekstrim. Ada-ada aja. Seolah public is too stupid; ngga tahu itu pencitraan.

President is a symbol, sekaligus target nomor satu frustasi dan kemarahan publik. Figur penting. Protocol safety ketat. Maximum security. 24/7-365 Surveillance.

Tanggal 15 Maret tahun 44 BC, Julius Caesar dibunuh 60 orang Cabals dengan 23 tusukan pisau. Sampai 27 Desember 2007, Benazier Bhutto dibunuh. Wajar bila gerak-gerik Presiden selalu dilindungi. Hidup dalam "thick bubble".


Di Amerika, pasukan pengawal presiden disebut "Secret Service". Kekuatannya 3.200 personil terbaik. Paspampres Indonesia berkekuatan 2.500 prajurit dari semua matra.

Namun demi kepentingan politik, in order to fabricate "Citra Populis", sesekali seorang presiden diharuskan berimprovisasi. Liberal Hero Barrack Obama bermanuver dengan judul "New York Fantasy".

Jalan-jalan sebentar di taman bersama putrinya. Seolah tanpa penjagaan. Just like ordinary people. Padahal, heavily guarded dan ruas-ruas jalan raya steril diblokade polisi.

Suatu pagi, di tahun 2013, Presiden Xi Jinping, out of nowhere, tiba-tiba ikut antrian di restoran Qingfeng Beijing.

Dia makan pangsit di sana. Manuvernya segera membuat rakyat jatuh hati dan menyatakan Mr Xi Jinping adalah "Father of The People".

Tehnik citra Obama dan Xin Jinping berkelas. Hanya sesekali dilakukan. Not too much.

Beda dengan Mr Jokowi. Dia obral manuver. Masuk gorong-gorong pake batik, marah di kantor lurah, numpang pipis, pake sarung di Istana Bogor, main kodok dan domba, atraksi di mal, pake kaos resmikan pembangunan, beli tempe di pasar, naik motor gede, selfie di lokasi bencana, dan terakhir pulang kerja naik kereta.

Sesuatu yang berlebihan itu bikin muak. Over dosis tidak baik. Tidak ada unsur alamiah dalam setiap aksi Jokowi.

Satu gagal. Dicoba lagi. Gagal lagi. Coba lagi. Terus-terusan begitu. Mungkin akan terus dilakukan. Sampai publik bosan dan berkata, "Stop it".

Padahal, sebuah citra mesti dibangun oleh serangkaian manuver original. Tim Citra Jokowi mengadopsi segment artifisial dan dipastikan nggak mampu membuat rakyat jatuh cinta.

Susan L. Shirk, professor di University of California, menyebut apa yang dilakukan Obama, Xi Jinping dan Jokowi dengan frase “The Return to Personalistic Rule".

Dalam kasus Xi Jinping, dia memenangkan hati rakyat. Tak terbendung. Mampu mengeliminir pembatasan masa jabatan presiden. Dia menyamai Chairman Mao Zedong.

“The conventional theory is that the party hates him but the people love him,” kata Richard McGregor, penulis buku “The Party: The Secret World of China’s Communist Rulers.”

Kunci sukses Xi Jinping, di samping dinilai berhasil memakmurkan rakyat, yang membedakannya dengan Jokowi, adalah Xi Jinping menggelar beberapa (not too much) perilaku substantif daripada sekedar antri di restoran.

Misalnya, Xi Jinping mengundang Keluarga Dvorchaks sebagai tamu negara. Tiga puluh tahun lalu, Xi Jinping ditampung di rumah Dvorchaks sewaktu dia kuliah di Iowa tahun 1985.

Di Moskow, Xi Jinping menganugerahi medali penghargaan kepada para veteran perang anti-fasis Jepang. Karena faktor usia, Xi Jinping mengubah protokol dan menghampiri para veteran satu per satu.

Di tahun 2001, PM Jim Bacon mengundang Xi Jinping untuk datang ke Tasmania. Tahun 2014, Xi Jinping memenuhi undangan tersebut. Sayangnya, PM Jim Bacon sudah wafat.

To keep his promise
, Xi Jinping mengunjungi rumah PM Jim Bacon. Diterima dengan air mata istri dan keluarga mendiang PM Jim Bacon.

Nah, hal-hal kecil namun berkesan itu tidak ditemukan dalam aksi Jokowi. Yang ada, badai bully setiap kali dia selesai beratraksi.

Penulis merupakan kolumnis, aktivis Komunitas Tionghoa Anti-korupsi


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya