Berita

Gatot Pujo Nugroho/Net

Hukum

3 Anggota DPRD Didakwa Terima Uang "Ketok Palu"

KAMIS, 21 FEBRUARI 2019 | 09:06 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jaksa KPK mendakwa tiga anggota DPRD Sumatera Utara menerima suap dari mantan Gubernur Gatot Pujo Nugroho. Ketiganya yakni Abu Bokar Tambak, Enda Mora Lubis, dan M Yusuf Siregar.

"Terdakwa telah menerima hadiah berupa uang secara ber­tahap," ujar jaksa Putra Iskandar saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (20/2).

Jaksa mengatakan masing-masing terdakwa menerima uang 'ketok palu' dengan jum­lah yang berbeda. Abu Bokar Rp 477,5 juta, Enda Rp 502,5 juta, dan Yusuf Rp 772,5 juta.


Uang tersebut diberikanagar ketiganya menyetujuipengesahan terhadap Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan (LPJP) APBD Provinsi Sumut Tahun Anggaran 2012 dan pengesahan APBD Perubahan Tahun Anggaran 2013, 2014, dan 2015.

Atas pemberian uang tersebut, ketiga terdakwa dan anggota DPRD lainnya memberikan persetujuan pada Raperda APBD Perubahan yang kemudian dis­ahkan menjadi APBD.

"Perbuatan tersebut berten­tangan dengan kewajiban ter­dakwa sebagai penyelenggara negara selaku anggota DPRD," katanya.

Ketiga anggota DPRD tersebutdidakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11, juncto Pasal 18 UU Pemberantasan Tipikor, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1, juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Usai pembacaan dakwaan, ketiga terdakwa menyatakan takmengajukan nota keberatan atau eksepsi. Majelis hakim memutuskan sidang berikutnya langsung masuk pemeriksaan perkara. Jaksa KPK diminta menghadirkan saksi-saksi.

Perkara ini merupakan pengembangan kasus yang men­jerat mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho. KPK sebelumnya telah menetapkan 38 anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 sebagai tersangka. Mereka diduga menerima duit suap dari Gatot senilai Rp 300-350 juta per orang.

Suap dari Gatot itu diduga terkait sejumlah hal, antara lain persetujuan laporan pertanggungjawaban Pemerintah Provinsi Sumut 2012-2014, persetujuan perubahan APBD Pemerintah Provinsi Sumut 2013 dan 2014, pengesahan APBD Pemerintah Provinsi Sumut 2013 dan 2014, serta penolakan penggunaan hak interpelasi DPRD Sumut tahun 2015.

Gatot sendiri telah divonis 6 tahun penjara oleh majelis hakim pada 2016.

Dipindah ke Sukamiskin


Sementara itu, KPK memin­dahkan lokasi penahanan 5 tersangka kasus suap pengurusan izin proyek pembangunan Meikarta ke Bandung.

Lima terdakwa terdiri dari mantan bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Jamaludin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi Sahat MBJ Nahor, Kepala Dinas DPMPTSP Kabupaten Bekasi Dewi Tisnawati, serta Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Neneng Rahmi.

"Penahanan terharap Neneng Hasanah Yasin, Dewi Trisnawati dan Neneng Rahmi dilakukan di Lapas Wanita Sukamiskin sembari menunggu proses per­sidangan yang direncanakan dilakukan di Pengadilan Tipikor pada PN Bandung," kata juru bicara KPK Febri Diansyah, di gedung KPK, Rabu (20/2).

"Sedangkan, terhadap Jamaludin, Sahat MBJ Nahor dilakukan penahanan di Rutan Kebon Waru Bandung. Para ter­dakwa tersebut telah sampai di Bandung pada siang hari di rutan masing-masing," kata Febri.

Febri juga mengatakan jaksa KPK akan melimpahkan berkas perkara 5 terdakwa ini ke Pengadilan Tipikor Bandung.

Sejumlah tersangka kasus suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta lebih dulu disidangkan di Pengadilan Tipikor Bandung. Yakni Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, General Affair Siloam Hendry Jasmen, konsultan Lippo Group Taryudi dan konsultan Lippo Group Fitrajadja Purnama. Mereka pihak yang mem­berikan suap kepada pejabatPemkab Bekasi. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya