Berita

Joko Widodo/Setkab

Politik

Jokowi Ulas Latar Iriana Dan Cucu, Korsa: Pilihan Warga Muhammadiyah Tidak Berubah

MINGGU, 17 FEBRUARI 2019 | 11:32 WIB | LAPORAN:

Presiden Jokowi dinilai semata-mata mencari simpati dengan menceritakan latar istrinya, Iriana yang pernah berkuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Cucunya, Jan Ethes, juga disebut Jokowi lahir di PKU Muhammadiyah Solo.

Hal itu diutarakan Jokowi saat memberi sambutan pembukaan Sidang Tanwir ke-51 Muhammadiyah di Bengkulu, Jumat (15/2) lalu.


"Kita paham benar Jokowi mengungkapkan itu guna mencari simpatik warga Muhammadiyah menjelang Pilpres 2019, apalagi peserta Tanwir adalah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se Indonesia," kata koordinator pusat Korsa, Amirullah Hidayat kepada redaksi, Minggu (17/2).

Amirullah menegaskan, pernyataan Jokowi itu tidak akan mengubah pilihan warga Muhammadiyah pada Pilpres 2019.

"Sebagai kader Muhammadiyah yang lahir dari rahim seorang ibu yang aktif di Aisyiyah dan beraktivitas dari kecil di Ortom Muhammadiyah, saya paham benar bagaimana warga Muhammadiyah dalam memilih seorang pemimpin negara terutama memilih presiden," ujar Amirullah.

Warga Muhammadiyah sudah mempunyai kriteria yang tidak dapat ditawar. Bagi warga Muhammadiyah, menurut Amirullah, dalam memilih pemimpin bangsa rujukannya adalah yang bisa membawa kemaslahatan (kebaikan) kepada umat Islam dan NKRI. Apalagi Muhammadiyah tidak pernah tergantung sama pemerintah dalam berdakwah di negeri ini.

Nah bagaimana posisi Jokowi di mata warga Muhammadiyah selama menjadi presiden?
Menurut Amirullah, selama menjadi presiden, Jokowi lebih banyak membawa mudharat dibandingkan kemaslahatan.

"Kok bisa begitu, Sebab Jokowi menjadi presiden hanya memecah belah umat Islam saja. Salah satu buktinya adalah bagaimana Jokowi ingin membenturkan warga Muhammadiyah dengan warga Nadhatul Ulama (NU) dalam kebijakan Lima Hari Sekolah," terangnya.

Jokowi menyuruh Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Muhadjir Effendi berlatar belakang dari Muhammadiyah membuat kebijakan lima hari sekolah. Tetapi ternyata kebijakan itu ditolak oleh NU.

"Ini sudah menjadi rahasia umum bagi seluruh rakyat Indonesia. Jadi sudah jelas Jokowilah yang ingin membenturkan Muhammadiyah dengan NU," tegasnya.

Padahal, ulas Amirullah, sejarah mencatat sesama pendiri Muhammadiyah dan NU yaitu KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari, mempunyai hubungan batin yang kuat. Dua ormas Islam terbesar di Indonesia ini juga memiliki misi sama yaitu pemberdayaan umat Islam.

Hubungan ini terjadi sejak awal berdirinya Muhammadiyah dan NU.

"Artinya hubungan batin ini sudah ada sebelum NKRI berdiri. Nah hubungan itulah yang ingin dirusak Jokowi. Tapi Alhamdulillah misi Jokowi yang ingin membenturkan Muhammadiyah dan NU akhirnya gagal," ujarnya.

Sekolah baik lima hari ataupun enam hari tidak pernah dipersoalkan oleh Muhammadiyah. Mendikbud hanya menjalankan perintah presiden, apalagi kebijakan lima hari sekolah itu hasil rapat terbatas (ratas) Kabinet Kerja yang langsung dipimpin Jokowi.

"Sebagai eks relawan Jokowi saya paham benar dari A sampai Z tentang kebijakan yang ingin membenturkan Muhammadiyah dan NU tersebut," imbuhnya.

Mengenai latar kuliah Iriana, Amirullah pun menerangkan, agar dipahami Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berdiri 24 Oktober 1981 sebagai perubahan bentuk dari IKIP Muhammadiyah Surakarta.

IKIP Muhammadiyah Surakarta awal berdirinya adalah IKIP cabang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta. IKIP Surakarta sendiri diresmikan tahun 1958.

"Jadi pada saat itu hanya baru Muhammadiyahlah yang mempunyai perguruan tinggi besar di Surakarta. Maka wajar banyak warga Surakarta yang kuliah di UMS termasuk ibu Iriana," paparnya.

Kemudian soal kelahiran cuci Jokowi di PKU Muhammadiyah juga dinilainya hal lumrah. Di Surakarta, kata dia, PKU Muhammadiyah adalah salah satu rumah sakit besar yang memiliki fasilitas lengkap.

"Jadi wajar banyak warga Surakarta yang berobat dan melahirkan di PKU Muhammadiyah," pungkasnya.[wid]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya