Berita

Dirgahayu Kohanudnas/Net

Pertahanan

57 Tahun Kohanudnas, Menanti Realisasi Renstra TNI

SENIN, 11 FEBRUARI 2019 | 10:30 WIB | LAPORAN: A KARYANTO KARSONO

Di bulan Februari ini, persisnya tanggal 9 Februari 2019, Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) berusia 57 tahun. Meski sudah berusia lebih dari setengah abad, namun masih banyak orang awam yang kurang paham mengenai posisi Kohanudnas.

Kerab kali, Kohanudnas disangka sebagai salah satu komando utama (kotama) TNI AU. Meski fungsinya seputar matra udara, Kohanudnas sebetulnya merupakan kotama operasi TNI. Walapun tak dapat dipungkiri, bahwa sebagian besar personelnya memang berasal dari TNI AU.

Kotama TNI yang saat ini dipimpin oleh Marsekal Muda TNI Imran Baidirus (menjabat Panglima Kohanudnas sejak Desember 2017) ini membawahi empat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas). Keempatnya adalah Kosekhanudnas I (berpusat di Jakarta), Kosekhanudnas II (Makassar), Kosekhanudnas III (Medan), dan Kosekhanudnas IV (Biak).


Kohanudnas bertugas menyelenggarakan upaya pertahanan keamanan atas wilayah udara nasional secara mandiri. Atau bekerja sama dengan Komando Utama Operasional lainnya. Dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan keutuhan serta kepentingan lain dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu juga menyelenggarakan pembinaan administrasi dan kesiapan operasi unsur-unsur pertahanan udara ((hanud) TNI AU dan melaksanakan siaga operasi untuk unsur-unsur hanud dalam jajarannya, dalam rangka mendukung tugas pokok TNI.

Salah satu aset utama Kohanudnas adalah radar peringatan dini (early warning radar) yang dioperasikan oleh satuan-satuan radar (Satrad) yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Ada empat sektor hanud.

Idealnya, Kohanudnas juga dibekali satuan pesawat tempur sergap (interceptor) sendiri. Saat ini, kebutuhan unsur sergap tersebut harus “dipinjam” dari kotama TNI AU yaitu Koopsau (Komando Operasi TNI AU).

Ke depannya, ada rencana reorganisasi yang cukup signifikan. Kohanudnas akan bertransformasi menjadi Kotama TNI AU. Beberapa waktu lalu TNI AU telah mengajukan sejumlah rancangan restrukturisasi dan validasi organisasi baru kepada Markas Besar TNI yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) TNI AU periode 2015-2019.

Salah satu pengajuan yang masih menunggu pengesahan adalah penggabungan Kohanudnas dengan Koopsau. Rencananya (jika disetujui), Kohanudnas yang sekarang adalah Kotamaops Mabes TNI, akan ditarik kembali ke TNI AU dan berubah menjadi Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas).

Di bawah TNI AU, Koopsudnas yang akan dipimpin perwira tinggi bintang tiga TNI AU itu akan membawahi tiga Koopsau/Koopsud yaitu Koopsau I, II, III dan empat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) yaitu Kosekhanudnas I, II, III, dan IV.

Sementara untuk koordinasi terhadap unsur-unsur artileri pertahanan udara matra lain di luar TNI AU, misalnya unsur Arhanud (artileri pertahanan udara) TNI AD maupun rudal hanud di kapal-kapal perang TNI AL, akan dilakukan Koopsudnas.

Tampaknya rencana ini, selain untuk memperpendek rantai komando penyergapan pesawat asing yang melanggar wilayah udara nasional, juga untuk mempersiapkan TNI AU mengoperasikan rudal jarak menengah-jauh.

Memang sudah lama Indonesia belum lagi memiliki dan mengoperasikan rudal hanud tipe jarak menengah-jauh. Sejak dipensiunkannya rudal hanud jarak jauh S-75 Dvina buatan Uni Soviet (kode NATO: SA-2 Guideline), sekitar awal dekade 1980-an. [yls]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Hari Buruh, Wall Street Libur

Selasa, 08 September 2026 | 08:29

Krakatau Steel Rombak Direksi, Segini Pendapatan KRAS Semester I-2026

Selasa, 08 September 2026 | 08:15

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dekati 100 Dolar AS

Selasa, 08 September 2026 | 07:57

OJK Wajibkan Free Float 15 Persen, Tegaskan Transparansi Tanpa Kompromi

Selasa, 08 September 2026 | 07:40

Saat Batu Bara Tertekan, UNTR Makin Mesra dengan Emas

Selasa, 08 September 2026 | 07:21

Anak Krakatau Erupsi, Kursi Bos Krakatau Steel Berganti

Selasa, 08 September 2026 | 07:01

Nellava Group dan Emas Now Pilih Jalur Hukum Hadapi Serangan di Ruang Digital

Selasa, 08 September 2026 | 06:50

Pemerintah Dituntut Siapkan Anggaran dan Kesiapsiagaan Logistik terkait Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 06:09

Kewajiban Moral Lindungi Rakyat dari Manipulasi Harga dan Mutu Beras

Selasa, 08 September 2026 | 05:44

Empat Pejabat Kejagung Diduga Terima Rp40 Miliar dari Tan Kian, Ini Tanggapan Kapuspenkum

Selasa, 08 September 2026 | 05:27

Selengkapnya