Berita

Natalius Pigai/Net

Politik

Pangudi Luhur Tidak Larut Dan Terbawa Arus Politik

JUMAT, 08 FEBRUARI 2019 | 12:13 WIB | OLEH: NATALIUS PIGAI

HARI ini nama Sekolah Menengah Atas (SMA) Pangudi Luhur Jakarta begitu membahana seantero negeri. Bukan saja disebabkan karena sebagian kecil alumni menyatakan dukungan kepada Calon Presiden Joko Widodo tetapi justru jauh lebih hebat karena sekolah ini melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas di negeri ini.

Calon Wakil Presiden RI, Sandiaga Uno, Agus Martowardojo (mantan Gubernur Bank Indonesia), Sumantri Brodjonegoro (mantan Menteri Bappenas) dan lainnya adalah sederet alumni dari sekolah khusus pria yang berlokasi di Darmawangsa, kawasan elit Jakarta Selatan ini.

Sekolah Pangudi Luhur berorientasi pada visi dan cita-cita melahirkan siswa yang berkepribadian dan berkarakter dengan tiga cita yaitu intelektualitas (akal), fraternitas (persaudaraan) dan solidaritas. Alumni yang juga memiliki kompetensi berpengetahuan mumpuni (knowledge), ketrampilan memadai (skills), dan mental dan moral (attitute) yang baik. Maka tidak mengherankan jika sifat-sifat tersebut tercandra pada salah satu alumni terbaik saat ini yaitu Sandiaga Solehudin Uno.


Alumni tentu cermat melihat miliu dunia akademia yang beda dengan sekolah menengah yang jauh dari hiruk pikuk politik. Sekolah menengah harus terlindung agar tidak tergiring ke arus politik yang membahayakan eksistensi siswa dan pendidikan. Bisa dipahami jika bangsa Indonesia dapat mengecam tindakan sebagian alumni ini.

Alumni Pengudi Luhur memiliki hak dan boleh saja terbawa arus politik dan kepentingan sebagaimana yang ditunjukkan beberapa orang yang menyatakan pilihan terhadap Pak Joko Widodo, tetapi tentu tidak mewakili semua alumni dan apalagi atas nama sekolah Pengudi Luhur. Secara etika juga tidak boleh terbawa dalam arus sektarian yang berorientasi mainstream politik umat Nasrani (Katolik) yang sangat eksklusif sebagaimana yang ditunjukkan politik Katolik saat ini. Kenapa eksklusif? karena baru minggu lalu saya ikut acara 100 tahun politik Katolik Indonesia (I.J. Kasimo) di Aula Gereja Katedral Jakarta, undangan yang datang dari luar Katolik cuma 1 orang yaitu Marwan Jafar (PKB), miris dan sedih, padahal dihadiri Ketua KWI.

Sedangkan saya yang Katolik sendiri (alumni PMKRI, Pemuda Katolik dll) yang berbeda pandangan politik dengan mayoritas umat Katolik bisa menjadi Ketua Tim Pembela Habib Rizieq, Ulama, Umat Islam bahwa bisa berdiri di podium di tengah 13 juta Umat Islam Indonesia di Monas. Artinya kita eksklusif di tengah mayoritas masyarakat yang moderat dan inklusif.

Semoga alumni Pangudi Luhur tidak berfikir eksklusif seperti di atas karena jika sangat eksklusif sama saja dengan mematikan animo masyarakat umum untuk daftar di sekolah Katolik ini. Kenyataan menunjukkan bahwa Sekolah Elit dan Katolik masih saja mengalami kesulitan untuk mendapatkan siswa dalam jumlah yang besar. Ada kecenderungan mengalami penyusutan siswa dari semula 10 kelas menjadi 8 atau 7 kelas bahkan berkurang. Pilihan sebagian kecil alumni terhadap Jokowi tentu sangat tidak elok dan tidak menguntungkan karena Pak Jokowi tidak mungkin punya kemampuan untuk mempertahankan kuantitas siswa, apalagi Joko Widodo bukan siapa-siapa dalam hubungan secara emosional dengan Pangudi Luhur Jakarta yang terkenal dengan kekuatan alumni yang hebat.

Sekedar mengingatkan saja bahwa berbagai hasil survei telah menunjukkan bahwa Prabowo unggul di kalangan kaum terdidik dan kelas menegah yang rasional. Pangudi Luhur diisi oleh rata-rata siswa yang berasal dari kalangan kaum berada dan elit dan terpelajar karena siswa yang berasal dari orang tua sederhana dan rakyat biasa lebih memilih sekolah negeri yang gratis. Apalagi sekolah negeri dan swasta lain juga mulai berkualitas. Karena itu tindakan alumni untuk ukuran sekolah menengah tidak menguntungkan bagi eksistensi sekokah di masa yang akan datang.

Apapun ceritanya, dari empat pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden tentu saja harus jujur mengakui bahwa Sandiaga adalah role model dan figur terbaik. Seorang intelektual alumni Amerika Serikat dan lulus dengan cum laude, pengusaha sukses, berpenampilan menarik dan sehat, bugar dan yang lebih penting adalah seorang yang beretika. Bahkan anak kami menilai tulus dan apa adanya dengan menyebut senior terkeren tanpa embel-embel atau bermaksud politik!

Sandiaga Uno seperti alumni yang lain, dia mencintai sekolahnya yaitu Sekolah Pangudi Luhur, bukan hanya baru kali ini bertepatan dengan momentum pemilu, sejak jaman dahulu tiap hari Sabtu, Pak Sandi selalu bermain bola basket di lantai 3 Sekolah Pangudi Luhur. Mungkin kita bisa bertanya mengapa Pak Sandiaga Uno memilih Pangudi Luhur, sedangkan di Jakarta ratusan bahkan bisa ribuan Lapangan Basket? Orang-orang yang baik dan jujur akan menyatakan "karena Sandi mencintai sekolah ini!".

Semua aliran dukungan yang diberikan baik kepada Joko Widodo maupun Prabowo tidak bisa dilihat dari hanya semata-mata karena "idealisme", tetapi keberpihakan dalam politik adalah keberpihakan atas dasar kepentingan pragmatisme. Namun janganlah pragmatisme semata mengorbankan iman (fidelis), harapan (expectatio), dan kasih antar sesama (caritate). [***]

Penulis adalah aktivis Katolik, orang tua siswa Pangudi Luhur Jakarta

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya