Berita

Drone Anka/Net

Pertahanan

Berlomba Memiliki Drone Di Kawasan Asia Tenggara

JUMAT, 08 FEBRUARI 2019 | 07:29 WIB | LAPORAN: A KARYANTO KARSONO

. Malaysia tengah mencari pesawat udara tanpa awak (drone) kelas MALE (medium altitude long endurance). Entah kebetulan, sebelumnya Indonesia sudah  melakukan hal serupa.

Kabar ini berhembus seiring surat resmi permintaan akan informasi atau RFI (request for information) dari pemerintah Malaysia ke sejumlah produsen drone. RFI tersebut disebar hampir bersamaan dengan RFI untuk pesawat tempur ringan yang akan dipinang guna memperkuat jajaran AU Malaysia atau TUDM (Tentera Udara Diraja Malaysia).

RFI itu sendiri tetap ditanggapi sejumlah produsen baik Asia maupun Eropa atau AS kendati secara finansial ketersediaan anggarannya tidak dapat dipastikan ada dalam waktu dekat. Drone jenis MALE berkemampuan terbang di ketinggian menengah (10-30 ribu feet atau sekitar 3.000-9.000 m di atas permukaan laut) dengan durasi terbang (endurance) di atas 8 jam.
 

 
Kabarnya, RFI untuk drone TUDM difokuskan ke tiga produsen yaitu TAI (Turkish Aircraft Industries) dari Turki, CAIG (Chengdu Aircraft Industry Group) dari China dan General Atomics dari AS.

Bisa ditebak, drone bersenjata yang diincar Malaysia adalah seri Anka (Turki), Wing Loong (China) atau varian dari MQ-9 Reaper (AS). Dari ketiganya, kans untuk mendapatkan MQ-9 Reaper paling rendah. Pasalnya, hingga saat ini hanya sekutu NATO dari AS saja yang diijinkan membeli Reaper dengan persenjataan lengkapnya.
 
Karena sifatnya yang baru tahap penggalian info resmi, proses pengadaan drone untuk TUDM masihlah jauh di belakang proses pengadaan untuk TNI AU yang kabarnya sudah memasuki tahap akhir. Bahkan menilik kondisi keuangan atau prioritas belanja militer negeri jiran, ditengarai pengadaan drone masih harus menempuh jalan cukup panjang.
 
Meskipun sepintas keinginan Malaysia itu seakan mengikuti trend yang sudah dilakukan Indonesia dan Singapura di kawasan Asia Tenggara, namun sesungguhnya hal itu dinilai logis oleh banyak pengamat kemiliteran. Pengoperasian drone untuk pengawasan perbatasan dinilai tepat guna dan lebih hemat biaya operasional ketimbang pesawat patroli berawak.

Kandidat Drone Baru TNI AU

Kementerian Pertahanan RI terus melakukan uji petik drone untuk memperkuat jajaran alutsista TNI AU. Memang tak disebutkan tipenya secara rinci. Namun menilik negara produsennya, Turki dan China, bisa ditebak tipe drone yang dibidik.

Tampaknya kelas drone yang akan dibeli juga jenis MALE. Kemampuan terbangnya di ketinggian menengah (10-30 ribu feet atau sekitar 3.000-9.000 m di atas permukaan laut). Sementara lama terbang (endurance) di atas 8 jam.

Bila type MALE yang dipilih, bisa jadi drone yang disasar adalah Anka (buatan Turki) dan Wing Loong (buatan China). Baik Anka maupun Wing Loong sama-sama membawa perangkat penginderaan FLIR (forward looking infra red) serta “synthetic aperture radar” beresolusi tinggi.

Anka A: Drone ini diproduksi oleh TAI (Turkish Aircraft Industries). Mengangkasa sejak tahun 2010. Varian pertamanya (Anka-A) masuk dinas operasional AU Turki tahun 2013. Pengembangan drone buatan mandiri Turki ini sudah memasuki generasi ketiga yaitu Anka-S, varian produksi massal dengan kelengkapan avionik, sensor dan sistem komunikasi terlengkap.

Sebagian besar komponen sudah dibuat oleh Turki, termasuk munisi bawaannya. Ke depannya, Turki berancang-ancang mengembangkan Anka dengan mesin buatan nasional. Saat ini, mesin pendorong Anka masih merupakan lisensi dari negeri China.

Anka-A mampu membawa muatan seberat 200 kg dengan lama terbang hingga 24 jam, melayang di ketinggian sekitar 30.000 feet atau seitar 9.100 m di atas permukaan laut.

Wing Loong: Sekilas Wing Loong nampak mirip drone bersenjata andalan AS yaitu MQ-9 Reaper (Predator-B). Memang secara tampilan, keduanya mirip, meski dimensi Reaper sedikit lebih besar dan bentangan sayapnya pun lebih lebar.

Wing Loong diproduksi oleh CAIG (Chengdu Aircraft Industry Group). Anak perusahaan dari konglomerat dirgantara China yaitu AVIC (Aviation Industry Corporation of China) yang juga memproduksi pesawat tempur siluman pertama China yaitu J-20.

Wing Loong mampu membawa berbagai munisi presisi yang juga dibuat secara mandiri oleh China. Tak hanya bom berpemandu laser dan GPS, Wing Loong juga mampu menenteng rudal udara ke permukaan dan mampu menebar ranjau anti personel. Meski bodi Wing Loong lebih panjang (selisih sekitar 1 m) ketimbang Anka-A, namun bentangan sayapnya justru lebih kecil (selisih 3 m di bawah Anka-A yang bentangan sayapnya sekitar 17 m).

Wing Loong mampu membawa muatan seberat 1 ton (1.000 kg) dengan lama terbang hingga 20 jam, melayang di ketinggian sekitar 16.000 feet atau sekitar 5.000 m di atas permukaan laut. [yls]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Pajak Karbon Motor Bensin Bisa Tekan Emisi dan Ketergantungan Impor BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:25

Istana Sampaikan Duka Cita atas Gempa NTT, Gerak Cepat Lakukan Penanganan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:19

Gempa NTT: Gudang Bulog Hancur, Manggarai Butuh 30 Ton Beras

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:02

Akses Jalan Rusak, Komisi V DPR Minta Evakuasi Via Udara Jangkau Korban Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:00

Gempa NTT, Komisi V DPR Minta BMKG-Basarnas Konsolidasikan Bantuan SAR dari Provinsi Terdekat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:55

Persiapan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Capai 99 Persen

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:52

Update Gempa NTT: 14 Warga Meninggal Dunia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:41

Purbaya Sebut Dana Transfer ke Daerah Naik Jadi Rp735 Triliun Tahun Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:38

Komisi V DPR Minta BMKG Aktif Update Situasi Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:32

Terkuak! Alasan Kapal Pesiar Mewah Haji Isam Dipasangi Logo Kemhan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:17

Selengkapnya