Berita

Dunia

Pemuda Di India Gugat Orang Tua Karena Melahirkannya Tanpa Persetujuan

SELASA, 05 FEBRUARI 2019 | 16:49 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Seorang pria di India memutuskan untuk menuntut kedua orang tuanya karena telah melahirkannya tanpa persetujuan.

Hal ini mungkin terdengar lucu dan satir, namun pemuda berbama Raphael Samuel dari India benar-benar melakukannya. Dia adalah seorang penganut anti-natalisme.

Anti-natalisme sendiri merupakan posisi filosofis yang menganggap kelahiran sebagai suatu hal yang negatif. Ini adalah pilihan sadar, dan dipengaruhi secara moral untuk tidak berkembang biak. Pemahaman ini tampaknya mulai populer di India, dengan berbagai kelompok Facebook dan pertemuan kehidupan nyata bermunculan untuk melayani perkembangan luar biasa dari gerakan bebas-anak ini.


Samuel sendiri mengaku mencintai kedua orang tuanya.

"Saya mencintai orang tua saya," kata Samuel, dikutip Russia Today.

"Tetapi mereka memiliki saya karena kegembiraan dan kesenangan mereka," jelas warga kota Mumbai itu.

Dia juga mengaku bahwa hidupnya telah berjalan dengan luar biasa. Namun, dia hanya tidak percaya bahwa hal itu seharusnya dipaksakan padanya, dan dia tentu saja tidak ingin memberikannya pada orang lain.

"Saya tidak mengerti mengapa saya harus menjalani kehidupan lain melalui kekacauan sekolah dan menemukan karier, terutama ketika mereka tidak meminta untuk ada," sambungnya.

Dia mengunggah meme di akun Facebooknya dengan nama Nihilanand. Dia menulis, "Bukankah memaksa seorang anak masuk ke dunia ini dan kemudian memaksanya untuk melakukan penculikan dan perbudakan karir?" sambil menampilkan foto dirinya memakai jenggot hitam.

Anti-natalis yang saat ini beroperasi sebagai kelompok "Stop Making Babies" di India, berencana untuk mengadakan konferensi nasional pertama mereka pada akhirn pekan ini di Bengaluru. Sementara gerakan ini dilaporkan telah meresap di kalangan anak muda India selama beberapa waktu, ini adalah upaya serius pertama mereka untuk berorganisasi dalam kehidupan nyata.

Kelompok ini mengatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk mendirikan organisasi tingkat nasional untuk menyebarkan kesadaran tentang kehidupan bebas anak. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya