Berita

Yan Christian Warinussy/Dok pribadi

Dunia

Pembela HAM Papua: Pemerintah Tak Perlu Berlebihan Soal Benny Wenda

SENIN, 04 FEBRUARI 2019 | 09:56 WIB | LAPORAN:

Kehadiran pendiri organisasi separatis Free West Papua atau OPM, Benny Wenda sebagai pejuang Papua merdeka dalam Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (KT HAM) PBB pada 25 Januari lalu di Jenewa, Swiss, yang difasilitasi pemerintah Vanuatu seharusnya tidak perlu dikhawatirkan.

Demikian disampaikan pengacara dan pembela Hak Asasi Manusia (HAM) ditanah Papua, Yan Christian Warinussy kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (4/2).

"Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak perlu bereaksi berlebihan, karena toh pemerintah sebagai Dewan Keamanan Tidak Tetap Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) memahami mekanisme PBB seperti apa," kata Warinussy.


Siapapun di belahan bumi manapun, menurut Warinussy, yang ingin memperjuangkan kemerdekaannya dan diakui dunia tentu harus melewati prosedur dan mekanisme yang panjang.

"Kalau ketika orang tidak menghormati itu dan memaksakan itu berarti tidak perlu untuk kita pedulikan. PBB pada akhirnya terima atau ditolak itu tergantung dari mekanisme mereka sesuai atau tidak," terang penerima penghargaan bidang HAM di Montreal Kanada ini.
Warinussy kembali menekankan, meski petisi itu telah ditandatangani 1,8 juta orang dan diserahkan kepada Komisioner Tinggi HAM PBB, Michelle Bachelet tetap ada proses mekanisme yang berlaku di Dewan HAM PBB.

"Dia (Benny Wenda) akan menerima segala sesuatu yang pada akhirnya keputusan akan keluar lewat resolusi PBB yang tentu bukan menjadi kewenangan dari Dewan HAM PBB tetapi kewenangan dalam DK PBB yang ada di New York dan juga majelis umum PBB, jadi tidak perlu ditanggapi berlebihan," ujarnya.

Benny dalam KT HAM mengatakan di bawah pemerintahan Indonesia, warga Papua tidak memiliki kebebasan berpendapat, berekspresi, dan berkumpul.

Selain itu, Benny meminta Bachelet mengirim tim pencari fakta ke Papua untuk menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia di wilayah Indonesia paling timur itu. [wid]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya