Berita

Sabrina Meng/Net

Dahlan Iskan

Kosa Kata Tetap

JUMAT, 01 FEBRUARI 2019 | 05:15 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

MEREKA masih di atas pesawat. Tidak lama lagi pesawat dari Beijing itu mendarat di Washington DC.

Saat itulah Washington mengumumkan, resmi mendakwa Sabrina Meng. Pimpinan puncak Huawei yang lagi ditahan di Kanada itu. Dengan 24 tuduhan kriminal.

Diumumkan juga permintaan resmi segera diajukan, minta Sabrina diekstradisi ke Amerika. Berkas tuduhan itu sebagai lampirannya.


Yang segera mendarat itu adalah Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Liu He. Beserta rombongannya. Termasuk lima wakil menteri. Untuk melanjutkan perundingan dagang dengan Amerika. Setelah terjadi perang selama setengah tahun terakhir.

Pengumuman soal Huawei itulah sambutan pertama yang diterima Liu He. Sebuah pertanda-pertanda.

Tapi kedua negara tampaknya saling tenggang saraf. Saraf otak. Perang dagang di satu saraf. Soal Huawei di saraf yang lain. Tidak saling berhubungan. Tapi sama-sama berada di dalam batok kepala.

Hari ini tinggal 27 hari lagi. Batas waktu gencatan senjata. Perundingan harus dikebut. Sebelum 1 Maret nanti harus ada keputusan: meneruskan perang atau berdamai. Atau jangan-jangan gencatan senjatanya yang diperpanjang.

Perundingannya sendiri terbagi dua. Soal mobil dan hasil pertanian di satu kamar. Soal perubahan hukum, pencurian teknologi dan hak cipta di kamar yang lain.

Ini kelanjutan dari perundingan tahap pertama di Beijing. Saya tidak bisa membayangkan betapa alotnya perundingan itu. Amerika lebih banyak mengajukan tuntutan. Dengan tinju-tinju Mac Tysonnya. Tiongkok harus pawai dalam berkelit. Dengan gaya kungfu Pandanya.

Saya yakin Liu He menjadi lupa, kalau minggu depan sudah Imlek. Mungkin ia juga tidak sempat berpikir lagi, apakah bisa bertahun baru di tengah keluarganya.

Di Beijing sendiri seluruh tokoh Partai Komunis baru saja berkumpul. Dari seluruh daerah. Yang dibicarakan adalah kesiapan seluruh negeri.

Untuk menghadapi keadaan yang terburuk. Misalnya, perang dagang berlanjut. Boikot terhadap teknologi komunikasi Tiongkok meluas di negara barat. Perang Taiwan. Dan atau ekonomi melemah.

Bersamaan dengan pertemuan besar itu dua kapal perang Amerika kembali masuk selat Taiwan. Disambut dengan percobaan senjata baru Tiongkok. Yang bisa menjangkau jarak jauh.

Di Washington perhatian lebih terbagi. Amerika lagi siap-siap mengirim 5.000 pasukan ke Venezuela. Mendukung tokoh oposisi yang ingin menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

Amerika juga lagi menghadapi sekutunya di dekat Tiongkok: Korea Selatan. Amerika tidak mau lagi menanggung sendiri: biaya untuk melindungi Korsel dari ancaman Korut.

Amerika lagi menagih dana perlindungan itu: sekitar Rp 90 triliun. Yang harus dibayar Korsel. Yang membuat Korsel terkaget-kaget. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di tahun-tahun lalu tidak pernah ada tagihan seperti itu.

Korsel harus memilih: tidak perlu lagi perlindungan, damai dengan Korut atau bayar saja tagihan itu. Atau siapa tahu bisa minta diskon.

Soal Huawei tampaknya sektor yang tidak kalah serunya. Tetap saja dianggap melakukan pencurian teknologi. Dan melakukan transaksi dagang dengan negara Islam Iran.

Kian banyak pula negara barat yang memboikot Huawei. Terutama untuk teknologi switching. Yang sangat diperlukan perusahaan telekomunikasi. Di mana pun. Dengan kualitas terbaik. Dan harga termurah.

Tapi Huawei terus saja kian besar. Terutama penjualan handphone-nya. Terutama di Tiongkok sendiri. Yang dulu dikuasai iPhone dan Samsung.

Kini Huawei sudah nomor satu. Pangsa pasarnya 20 persen. Oppo dan Vivo masing-masing 18 dan 16 persen.

Baru kemudian Xiaomi. Posisi iPhone di bawah Xiaomi itu.

Samsung yang justru mencengangkan, sudah tidak masuk lima besar. Sampai-sampai pabriknya di Tianjin ditutup. Kalah bersaing dengan HP Tiongkok. Yang jumlah perusahaannya kini mencapai 200 perusahaan.

Perang dagang, Huawei, Trump, dan Taiwan tampaknya akan terus jadi kosakata utama kita selama tahun babi ini nanti. Ditambah kata BTP, Vero, Pemilu untuk di dalam negeri. [***]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya