Berita

Foto/Net

On The Spot

Blangko E-Paspor Kosong, Terpaksa Bikin Paspor Biasa

Hampir Semua Bangku Antrean Terisi
KAMIS, 31 JANUARI 2019 | 09:18 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemohon paspor elektronik atau e-paspor terpaksa bersabar. Pasalnya, blangko kosong sejak awal November 2018. Akibatnya, masyarakat hanya bisa membuat paspor biasa.

Selasa siang (29/1), suasana Kantor Imigrasi Jakarta Selatan (Kanim Jaksel) sangat ramai. Ratusan orang terus memadati kantor di Jalan Warung Buncit, Mampang ini. Nyaris tidak ada kursi antrean yang kosong. Banyak yang berdiri.

"Setiap hari ada 600 pemo­hon paspor di sini," ujar Analis Keimigrasian Pertama Kanim Jaksel, Achmad Julianto kepada Rakyat Merdeka.


Berdasarkan pengamatan, tak ada perbedaan, ada atau tidak adanya blangko e-paspor. Antrean tetap padat. Pemohon membludak. Mereka mengisi form yang tersedia.

Tidak ada pilihan lain. Pemohon terpaksa membuat paspor biasa. "Infonya, bulan Maret baru tersedia e-paspor," ujar Ibrahim, salah satu pemohon di Kanim Jaksel.

Tidak ada perbedaan form antara pemohon paspor biasa dan e-paspor. Mapnya juga sama, warna krem. Yang membedakan hanya stempel warna merah dibubuhkan di form permohonan e-paspor. Stempel e-paspor juga dibubuhkan di map.

Tapi, blangko e-paspor sedang kosong. Jadi, masyarakat hanya bisa membuat paspor biasa. "Mau buru-buru ke luar negeri. Jadi, buat yang tersedia saja," ucap Ibrahim di Gedung Kanim Jaksel.

Gedung Kanim Jaksel tingginya lima lantai. Lantai satu untuk lobby. Lantai dua, untuk pelayanan paspor bagi Warga Negara Indonesia. Lantai tiga, untuk pelayanan warga negara asing. Lantai empat, khusus tata usaha dan administrasi. Lantai lima, untuk pengawasan dan penindakan keimigrasian.

Menginjakkan kaki di lobby, harus melewati pintu detector. Tidak ada pemeriksaan ketat. Petugas hanya berjaga-jaga di depan pintu. Pemohon bebas keluar masuk. Tak jauh dari situ, tersedia dua ATM. Untuk memudahkan pembayaran.

Di ujung lobby, ada tiga bi­lik. Bentuknya terbuka. Empat petugas berjaga di tempat itu. Mereka sibuk melayani warga yang ingin mengadu atau mem­inta informasi.

Di sisi kanan lobby, terdapat tangga menuju lantai dua. Di sepanjang tangga, ditempel papan besar. Isinya, prosedur layanan antrean online. Caranya, daftar melalui aplikasi.

Selanjutnya, tunjukkan kode booking yang dikirimkan melalui email kepada petugas. Kemudian, ditukar dengan no­mor antrean saat chek in.

Setelah itu, pemohon menung­gu panggilan sesuai nomor antrean. Di tempat ini, pemohon harus melalui beberapa tahapan. Seperti, wawancara, pemindaian dokumen, persyaratan, pengam­bilan biometrik, foto dan sidik jari pemohon, kemudian diberi­kan tanda terima permohonan untuk melakukan pembayaran via bank/ATM.

Setelah beres, menunggu proses pengambilan. Tiga hari kerja untuk paspor biasa, tujuh hari kerja untuk e-paspor.

Sebelum tiba di lantai dua, ter­dapat papan informasi. Bentuknya kecil. Isinya, tarif permoho­nan paspor. Paspor biasa 48 hal Rp 300 ribu, e-paspor 48 hal Rp 600 ribu. Bagi pengganti paspor yang hilang, harus membayar dua kali lipat. Paspor biasa Rp 600 ribu, e-paspor Rp 1,2 juta. Tarif tersebut masih ditambah Rp 55 ribu untuk jasa peneri­maan teknologi sistem informasi manajemen keimigrasian.

Sampai di lantai dua, antrean bertambah padat. Nyaris tidak ada kursi yang tersisa. Banyak pemohon berdiri. Di dekat tang­ga, tersedia meja recepsionis. Ada dua petugas yang berjaga. Mereka akan menanyakan kode booking pemohon usai mendaf­tar secara online.

Setelah mendapat nomor ant­rean, pemohon bisa duduk di ruang tunggu. Tempatnya di sisi kanan. Di ruang ini, pemohon menunggu untuk proses wawan­cara dan pengambilan foto.

Ada 15 loket yang tersedia. Seluruhnya penuh. Pemohon bisa melihat proses wawancaradan pengambilan foto. Pasalnya, sekat dari kaca bening. Hanya poster kecil yang menghalangi.Isinya, macam-macam. Mayoritas menghim­bau pemohon untuk mendaftar secara online. Lebih efektif dan tidak perlu antre.

Tidak ada waktu santai bagi petugas. Mereka terus melayani warga yang sudah antre sejak pagi. Ada tiga layar televisi besar di ruang yang cukup besar ini. Dua layar menampilkan nomor urut antrean. Sisanya, menayangkan siaran salah satu televisi swasta. Tayangan terse­but cukup mengobati kejenuhan saat menunggu.

Setelah seluruh proses wawan­cara dan pengambilan foto selesai, pemohon dipersilakan pulang. Tiga hari kemudian, baru mengambil paspor. Loketnya terpisah. Tempatnya di sisi kiri. Masih di lantai dua. Suasananya sedikit lengang. Tidak banyak warga yang antre. Beberapa kursi yang tersedia pun kosong.

Kendati blangko e-paspor sudah tiga bulan kosong, tidak ada informasi apapun. Informasi yang tersedia hanya permohonan untuk pembuatan paspor biasa.

"Kami sudah informasikansoal blangko e-paspor kosong mela­lui medsos," ucap Julianto.

Julianto menambahkan, informasi melalui twitter dan situs resmi Imigrasi dibaca masyarakat. Sehingga, tidak perlu lagi info melalui tempelan apapun di kantor.

Julianto menambahkan, blang­ko e-paspor kosong sejak awal November 2018. Terakhir kali melayani pembuatan e-paspor, lanjut dia, akhir Oktober 2018. Setelah itu, dihentikan karena sudah tidak ada blangko lagi.

"Kami menunggu pengiriman dari Ditjen Imigrasi," ucapnya.

Menurut Julianto, pihaknya sudah menginformasikan hal tersebut ke Ditjen Imigrasi. Selanjutnya, tinggal menunggu proses pengiriman. "Mereka yang lebih tahu. Kami hanya pelaksana," ujarnya. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya