PERKENALAN saya akan nama Rahman Tolleng terjadi sesegera menjadi bagian dari dunia pergerakan mahasiswa di Bandung pada 1990. Bukan nama yang didengungkan para senior saya untuk diakrabi, sebenarnya.
Saya memasuki dunia pergerakan mahasiswa dari pintu lain, yang kadang dipandang berseberangan dengan pintu yang akan membawa kawan-kawan saya seangkatan lainnya bertemu dengan Rahman Tolleng.
Pintu yang saya masuki lebih memungkinkan mengantarkan saya -cepat atau lambat, untuk berjumpa dengan alm Muhammad Natsir, alm Immaduddin Abdul Rahim (Bang Imad), alm Dahlan Ranuwihardjo, alm Endang Syaifuddin Anshari dll, para legenda di dunia pergerakan mahasiswa ‘kanan’.
Sementara Rahman Tolleng saat itu lebih diposisikan mengayomi, menjadi mentor bahkan dikenal sebagai KOTI (Komando Operasi Tertinggi) alias penyandang dana kiprah dan aksi-aksi kawan-kawan yang dalam pergerakan kemahasiswaan saat itu sering dinisbatkan ‘kiri’.
Di pekan pertama saya menjadi mahasiswa, saya sudah menjadi bagian dan kemudian terlibat cukup aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung. Sementara di kampus, saya pun anggota aktif sebuah OTB, ‘organisasi tanpa bentuk’ memakai istilah Letjen Soeyono di akhir-akhir era Orde Baru, bernama Pemuda dan Mahasiswa Islam Bandung (PMIB).
Ini nama organisasi bentukan anak-anak muda dan mahasiswa Bandung saat mereka turun ke jalan untuk merespons aktif pelarangan, pengucilan dan bullyterhadap siswi-siswi SMP-SMA pemakai jilbab; demo dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, demo menentang judi nasional bernama Porkas yang bermimikri menjadi SDSB, dan sebagainya.
OTB sejenis juga tumbuh di Yogya, Liga Mahasiswa Muslim Yogya (LMMY), yang salah satu tokohnya saat ini menjadi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Keterlibatan cukup dalam inilah tampaknya yang membuat mendiang Ging Ginanjar menyebut saya sebagai pemegang teguh ‘sentimen sempit keagamaan sejak lama’, dalam serangannya terhadap
Obor Rakyat yang saya ikut menerbitkannya pada 2014 lalu.
Barangkali dengan maksud menanamkan spirit korps dan mengeratkan solidaritas kelompok, setiap kelompok pergerakan saat itu seolah wajar membangun, mewujudkan dan menghidup-hidupkan hantu mereka sendiri.
Hantu kelompok pergerakan mahasiswa ‘kanan’ saat itu, selain nama-nama seperti Kasebul, Pater Beek, CSIS, adalah Rahman Tolleng. Mungkin saja Muhammad Natsir, istilah kaum agama, gerombolan DI/TII, pun dijadikan hantu bagi kawan-kawan di seberang. Saya kurang pasti, meski tahu bahwa mereka pun punya hantu-hantu sendiri untuk dihidup-hidupi.
Pada kami yang masih hijau dalam dunia aktivisme, nama Rahman Tolleng disebutkan para senior dengan penuh syak, nadanya misterius, namun takzim.
Mereka bercerita tentangnya seolah menceritakan -barangkali analogi ini tak tepat, Drakula dalam versi Bram Stoker. Ia tokoh hitam, haus darah, hantu yang misterius dan merugikan. Namun sukar untuk menafikan ada ketokohan, kegagahan, keberanian, di sana. Alhasil, meski tak menumbuhkan respek, nama itu tak ayal menjadi ‘tokoh’ tersendiri dengan apresiasi khusus di benak kami.
Saya tidak melihat ada drama dan kepura-puraan manakala kisah yang melibatkan aktivitas Pak Tolleng diceritakan. Tak semuanya cerita buram versi ‘kelompok sebelah’.
Barangkali saja senior yang bercerita kepada kami waktu itu pun belum punya kesempatan bertemu muka, beradu kata dengan Pak Tolleng dan saling mengambil manfaat daripadanya. Mungkin ia secara tumplek
blek, verbatim mengurai kisah yang ia dengar dari senior dan seniornya lagi itu.
Umumnya bahkan cerita yang mengurai kisah bagaimana ‘kamar sebelah’ sudah berbuat, dan kami kaum ‘kanan’ yang berada di sisi lain, otomatis juga harus berbuat yang sama kalau pun tak bisa lebih baik. Cerita-cerita yang menantang untuk berbuat ‘
fashtabiqul khairat’, sebenarnya.
Dampaknya bagi saya, Tolleng adalah kata yang menyisakan banyak misteri, dan karena itu bila punya kesempatan, saya yang tertarik berniat untuk mencari, menggali.
‘Pertemuan’ yang lebih intens dengan Rahman Tolleng datang dua tahun kemudian, manakala saya berkunjung ke pasar buku Palasari, 30 November 1992. Saya tahu tanggal itu bukan dari ingatan, melainkan dari halaman pertama buku yang saya beli saat itu.
Sudah menjadi kebiasaan saya untuk menuliskan kapan sebuah buku dibeli, di mana, dan kadang kalau ada, cerita kecil saat mendapatkannya. Saya mendapatkan buku tulisan Francois Raillon yang menjadi ‘buku wajib’ para aktivis mahasiswa saat itu, ‘
Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia’, terbitan LP3ES yang saat itu tengah ngetop-ngetopnya sebagai penerbit dan komunitas yang mengeluarkan jurnal terkemuka Prisma.
Harganya tertera di stiker yang masih menempel hingga hari ini, Rp 5.800 untuk buku setebal 368 halaman itu.
Sebagai aktivis mahasiswa pascaG30S/PKI, Tolleng adalah generasi saat jumlah mahasiswa mengalami ledakan besar.
Bila pada 1946-47 hanya terdaftar 387 orang mahasiswa di Indonesia, pada 1965 jumlahnya menurut catatan Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan saat itu yang dikutip Donald K Emmerson dalam ‘
Students and Politics in Developing Nation’ tak kurang dari 280 ribu. Jumlah yang telah cukup untuk bergulung mengombak dan membawa perubahan.
Dari buku Raillon itulah saya tahu, Tolleng yang selalu dicitrakan ‘kiri’ itu ternyata dilahirkan dari keluarga santri sebuah keluarga pedagang Bugis. Ciri keluarga itu yang tampaknya membuat Tolleng pernah menjadi anggota Pelajar Islam Indonesia (PII), organisasi kesiswaan beraliran Islam yang selalu dikesankan progresif dari zaman ke zaman.
Namun, saat menyelesaikan sekolah menengahnya di Makassar, Tolleng mulai berminat kepada Marxisme. Sempat memperoleh beasiswa untuk belajar di Fakultas Kedokteran Hewan UI, kini IPB, di Bogor, Tolleng merasa lebih tertarik kepada kota Bandung.
Konon menurut Raillon karena ia memiliki kekaguman yang paradoksal kepada Bung Karno, pemimpin negara yang berawal dari pimpinan mahasiswa di Bandung. Ia berhasil menjadi mahasiswa di Bandung dengan masuk mendaftar sebagai mahasiswa Jurusan Farmasi ITB.
Pada waktu itulah Tolleng bergabung dalam Persatuan Mahasiswa Bandung (PMB) dan Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) yang berafiliasi kepada Partai Sosialis Indonesia (PSI), yang sebagaimana Masyumi dibubarkan Soekarno.
Pada 1960, saat duduk di ‘tingkat empat’ jurusan itu, Tolleng mengundurkan diri. Entah apa alasannya. Umumnya orang bilamg karena saat itu Rahman Tolleng telah menegaskan sikap oposisinya terhadap Soekarno. Beberapa bulan bergerak di bawah tanah menentang Presiden Soekarno, Tolleng diterima sebagai mahasiswa FISIP Unpad, sambil bekerja sebagai sekretaris direksi sebuah perusahaan.
Yang membikin Tolleng besar dan menjadi legenda, sesungguhnya adalah perannya dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Bandung, yang pada pergerakan Angkatan 1966 benar-benar menjadi otak KAMI. Terutama peran think thank melalui sebuah media massa umum yang dijual kepada masyarakat, ‘Mahasiswa Indonesia’.
Peran besar media itu juga menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan antikomunis saat itu, terutama militer.
Mahasiswa Indonesia pula yang di zaman itu mengumpulkan setidaknya 40-an orang pemikir progresif antiKomunis baik dari mahasiswa atau kalangan terpelajar ke dalam jajaran redaksinya. Di antara mereka terdapat nama-nama Bonar Siagian, Alex Rumondor, Yozar Anwar, Soe Hok Gie, Arief Budiman, Jahja Wullur, MT Zen, Soedjoko, Sanento Juliman, T Susanto, Mochtar Lubis, Aldy Anwar, Kusnaka Adimihardja dan lain-lain. Raillon dalam bukunya mencatat setidaknya sepertiga jajaran redaksi yang 40-an banyaknya itu adalah orang Sunda.
Semua dibawahi tiga serangkai, yakni Ryandi S, Awan Karmawan Burhan dan Rahman Tolleng. Bahkan karena Tolleng di mingguan tersebut juga berperan tak hanya sebagai pemimpin redaksi melainkan pemimpin umum, ia pun memakai nama samaran Iwan Ramelan, selain nama asli.
Sebagai penasihat, Tolleng menempatkan Brigjen Soegandhi yang memangku jabatan Kepala Penerangan Hankam dan Prof Oemi Abdurrahman, dekan Fakultas Publisistik Unpad.
Sebagai pemikir di dunia aktivisme, Tolleng tergolong berjiwa revolusioner. Dalam editorial pertama lahirnya Mahasiswa Indonesia, yang disebutnya Manifesto Mahasiswa Indonesia, Tolleng memberi judul :
‘Di Sini Kami Berdiri dan Kami Suarakan Amarah Suci Sebuah Angkatan’.
Maksudnya jelas, Tolleng telah lebih dulu mencita-citakan terbangunnya angkatan baru -yang kemudian disebut Angkatan 66, dengan tugas suci menyelamatkan Indonesia dari dekadensi dan krisis.
Pada manifesto itu Tolleng menulis,â€
…sesungguhnya ilmu pengetahuan itu ragi pembaruan. Oleh sentuhannya, akal berjuta manusia bangkit dari kegelapan dan melihat kenyataan dalam cahaya terang benderang. Dan setan-setan serta hantu gemetar karenanya: bahkan seorang tiran gemetar di depan akal yang terang.â€
Saya sejak itu melihat, wajar Tolleng diperhitungkan banyak orang, bahkan sampai berpuluh tahun sejak ia tak lagi terlibat dalam Orde Baru yang ia turut bangun dan perjuangkan.
RahmanTolleng memang disingkirkan Orde Baru, menyusul pecahnya Malapetaka 15 Januari 1974 alias Malari.
Perjumpaan langsung saya dengan Pak Tolleng terjadi manakala saya menjadi bagian dari keluarga besar Majalah
Tempo, menyusul terbit kembalinya
Tempo pascapembredelan. Rahman Tolleng, juga Marsilam Simanjuntak, adalah anggota Dewan Redaksi Majalah
Tempo -meski kalau tidak salah tak dituliskan di masthead majalah. Setiap Senin pagi mereka bertemu dalam rapat besar bersama para pimpinan redaksi dan redaktur senior.
Saat itulah saya bertemu. Kalau tak salah, pada perjumpaan pertama itu saya sempat berbasa-basi dengan mengutip banyak sekali buku Raillon. Rahman Tolleng saat itu lebih banyak menjawab dengan senyum.
Belakangan bahkan saya menyimpulkan, legenda yang sering dicitrakan sebagai hantu itu justru cenderung pendiam. Mungkin ia memang lebih banyak bicara dengan penanya. Karena saya pun tak terlalu pandai berbincang, setelah itu kami tak banyak lagi bertemu.
Selama saya bergabung dengan
Tempo hingga akhir 2005, tak lebih dari bilangan jari kami bertemu di kantor Proklamasi dan terlibat perbincangan.
Kini, pada usia 81 tahun, Rahman Tolleng telah tiada. Namanya pun barangkali tak banyak lagi bergaung, bahkan di kalangan aktivis mahasiswa -bila terma itu kini masih ada.
Saya mencatatkan tulisan pendek ini dengan harapan kecil saja. Kita tak berhak menutupi kiprah seseorang yang memberi manfaat kepada sesama. Kita bahkan berkewajiban menguarkannya, menceritakannya kepada khalayak agar bisa menjadi ibrah. Apalagi manakala manfaat itu tak mungkin kita takar nilainya.
Rahman Tolleng, bagaimanapun pernah melawan kezaliman Orde Lama dan mencita-citakan Indonesia ‘menjadi bumi subur dimana semua orang menyemai kerja dan menikmati buahnya’ secara adil.
[***]
Darmawan SepriyossaWartawan Senior