Berita

Doni Monardo/Dok

Nusantara

Early Warning System Jadi Objek Vital, Ini Masukan Pren

MINGGU, 27 JANUARI 2019 | 07:22 WIB | LAPORAN:

Gebrakan dilakukan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang baru, Letjen TNI Doni Monardo.

Ia meminta kepada Presiden Jokowi agar alat pendeteksi dini bencana atau early warning system (EWS) dijadikan sebagai kawasan obyek vital nasional.

Ini dilakukan untuk melindungi peralatan tersebut baik dari kerusakan hingga kehilangan. BNPB juga sudah mengundang sejumlah lembaga yang berhubungan dengan penyiapan EWS.


Selain itu Doni mengaku meminta pada Jokowi agar lokasi alat pendeteksi bencana harus dijaga dan diamankan TNI.

Karena kalau alat ini tidak berfungsi, maka mata dan telinga masyarakat yang ada di kawasan pesisir pantai itu tidak mendapatkan informasi. Artinya kalau terjadi sesuatu tsunami korbannya sangat banyak. Korban bisa saja melampaui korban tsunami yang sebelumnya.

Atas permintaannya itu, Presiden Jokowi sudah menugaskan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk menindaklanjutinya.

Jokowi juga memerintahkan agar memasang tanda-tanda peringatan di seluruh kawasan yang rawan bencana, terutama tsunami. Lokasi bencana tsunami tersebut berada di Selat Sunda sampai kawasan bagian timur dan selatan Pulau Jawa serta bagian barat Pulau Sumatera.

Perkumpulan Relawan Nusantara (Prens) mengkritisi beberapa hal terkait gebrakan ini. Pada intinya Prens mengapresiasi langkah Kepala BNPB.

"Namun, yang harus diperhatikan adalah fakta lapangan bahwa ada hal-hal yang juga diperhatikan dari EWS,"  kata Ketua Harian Pren, Fajar Kuntarto.

Pertama adalah pengetahuan masyarakat sekitar terhadap EWS. Observasi Prens di daerah bencana Selat Sunda menegaskan, masyarakat lokal tidak mengetahui tentang alat ini.

"Jadi jangankan untuk mencuri, mengetahui saja tidak. Lagipula, ketika mengambil EWS, mereka pun bingung akan menjualnya ke mana," terang Fajar.

Selanjutnya, Prens mencoba menanyakan lebih lanjut, jika ada pihak yang meminta untuk mencuri, maka mereka akan melakukannya. Sebab sudah ada yang menampung.

Fajar menekankan, dugaan ini yang harus dibongkar. Kalau perlu bawa ke ranah hukum karena melanggar UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. EWS yang kerap hilang selama ini lantaran tidak adanya pengawasan yang ketat dari pemerintah.

Hal lain yang juga menjadi masalah adalah pelibatan TNI sebagai pengawas alat pendeteksi dini tersebut. Fajar menyarankan sebaiknya EWS diawasi sipil dan terlatih atau profesional karena tugas pokok tentara bukan itu.

Disadari memang muncul masalah selanjutnya dari opsi ini, yakni keterbatasan anggaran. Tetapi hal itu, menurut Fajar, bisa diminimalisir dengan mengambil anggaran lain.

"Harus ada kementerian atau lembaga lain yang mengalihkan anggarannya untuk menutup pengeluaran itu. Jangan malah anggaran tersebut malah jadi bancakan korupsi," tegasnya.

Opsi kedua, sebut dia, dengan menggunakan dana desa. Bukan hal yang mustahil jika dana desa dialokasikan ke mitigasi bencana. Catatan Pren, hal ini sudah pernah dilakukan di Sembalun Lawang, Nusa Tenggara Barat. Kepala desa di daerah itu membangun parit baru dan memperdalam parit lama untuk mengurangi dampak banjir bandang.

Solusi lain yang juga bisa dikedepankan adalah melibatkan pihak swasta. Begitu banyak CSR perusahaan dan dana publik yang mengalir ke daerah bencana. Namun jarang terdengar dana itu dipakai untuk mitigasi bencana termasuk perawatan EWS.

Fajar menambahkan, sebenarnya ada beberapa alat tradisional yang bisa dijadikan opsi lain EWS. Semisal speaker masjid, lonceng gereja, kentongan. Asalkan pihak otoritatif seperti BMKG dan BNPB bisa memberikan data valid.

"Jangan ulangi kesalahan ketika terjadi tsunami Palu dan Selat Sunda. Karena gagal memberikan informasi, korban jiwa tidak dapat diminimalisir," ujarnya.

Sumber daya manusia yang ada pun menurut dia, harus di-upgrade menjadi fasilitator mitigasi bencana. Sebab, secanggih apapun EWS akan menjadi sia-sia jika SDM tidak memadai. Aparat hingga titik terendah, kelurahan, desa, bahkan RT dan RW juga harus dibekali.

Berkaca di beberapa daerah tanggap bencana, ulas Fajar, para aparat malah menghilang. Dengan alasan mencari anggota keluarganya  yang menjadi korban. Di Palu malah, walikotanya sempat menghilang beberapa saat.

Prens juga meminta pihak terkait agar transparan terkait. Berulang kali BMKG menjelaskan hilang atau rusaknya buoy, tapi terkendala dengan anggaran. Tapi tidak pernah hal itu disuarakan sebelum terjadi bencana.
"Jika memang seperti itu, BMKG harusnya bercerita ke publik untuk dicarikan solusi bersama," kritiknya.

Pun soal hilangnya buoy, lanjut Fajar, bisa dilengkapi dengan GPS untuk mengetahui ke mana buoy.

"Apakah dicuri atau terbawa arus. Penyu yang jadi korban tsumani Selat Sunda saja bisa ditemukan setelah terombang-ambing di lautan," cetusnya.[wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya