Berita

Foto/Net

Wawancara

Data Jokowi Keliru Atau Komitmen Prabowo Yang Minim

Eks Napi Korupsi jadi Caleg
RABU, 23 JANUARI 2019 | 10:19 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pada debat perdana capres-cawapres 2019, Jokowi sempat menyinggung soal Partai Gerindra yang mencalonkan eks napi koruptor. Menurut Jokowi, capres Prabowo Subianto, yang juga Ketum Partai Gerindra, bertanggung jawab soal caleg Gerindra eks napi koruptor.

Prabowo pun menepis Jokowi. Ia lalu me­nyebut enam eks napi koruptor yang menjadi caleg Gerindra bisa maju pileg setelah melalui proses sesuai dengan aturan.

Perdebatan soal caleg Gerindra berstatus eks napi korupsi ini masih menghangat di tataran masyarakat. Banyak yang men­gatakan, Jokowi keliru jika menyalahkan Prabowo terkait hal tersebut, tapi tak sedikit pula yang mengatakan bahwa pernyataan Jokowi sudah tepat.


Sebenarnya data yang disampaikan Jokowi benar tidak sih? Dan apakah tepat Prabowo yang mesti bertanggung jawab atas lolosnya para eks napi korupsi sebagai caleg? Berikut ini pandangan dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga dan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin terkait perdebatan itu.

Andre Rosadie: Menepuk Air, Kepercik Muka Sendiri

 Bagaimana tanggapan BPN terkait pernyataan capres Jokowi yang mengatakan Partai Gerindra banyak mencalegkan eks napi ko­rupsi di Pemilu 2019?

Pak Jokowi telah melakukan hoaks pada debat itu menuduh Pak Prabowo menandatangani caleg eks napi koru­psi. Silakan kroscek di KPU para napi itu tidak ada yang menandatangani Pak Prabowo. Artinya yang disam­paikan Pak Jokowi itu hoaks. Kedua, Pak Jokowi mengatakan Gerindra merupakan paling banyak penyum­bang caleg eks napi dan itu hoaks lagi. Mantan napi itu paling banyak ada di partai pendukung Pak Jokowi seperti Golkar. Ketiga, bicara korupsi Pak Jokowi itu seperti menepuk air di wadah namun terpercik sendiri. Toh yang paling banyak korupsi itu adalah partai pendukung Pak Jokowi.

Jadi Prabowo tidak ada menan­datangani caleg eks napi korupsi?
Yang DPRD baik tingkat kabu­paten/kota dan provinsi itu yang tanda tangan ketua DPD atau DPC-nya masing-masing. Jadi tidak sampai ke Pak Prabowo urusan seperti itu.

Kalau caleg DPR bukankah ditandatangani Prabowo?

Enggak ada juga yang ditanda­tangani Pak Prabowo. Intinya caleg DPRD itu cukup ditandatangani ketua DPD Gerindra provinsi atau ketua DPC Gerindra kota/kabupaten. Sedangkan Pak Jokowi menuduh Pak Prabowo yang menandatangani semuanya. Jadi Pak Jokowi menuduh atau hoaks. Lalu mengatakan caleg napi korupsi Gerindra paling banyak korupsi padahal yang paling banyak itu dari partai pendukung Pak Jokowi. Dari partai pendukung Pak Jokowi itu paling banyak yang ditangkap KPK. Bahkan Gerindra itu satu-satunya partai yang tidak ada anggota DPR-nya ditangkap KPK.

Tapi toh bukankah belakangan Mahkamah Agung membolehkan eks napi nyaleg...
Iya, karena mereka itu menuntut haknya guna memenangkan gugatan­nya baik di Bawaslu maupun di MA. Secara konstitusi mereka sah. Lalu kenapa kita mesti ributkan hal itu. Padahal banyak dari partai pendu­kung Pak Jokowi yang mantan napi korupsi namun ributnya di Gerindra. Bahkan saya tegaskan Gerindra itu satu-satunya partai yang anggota DPR-nya tidak ditangkap KPK. Jadi Pak Jokowi seperti gajah di depan mata tidak kelihatan, tapi semut di seberang lautan kelihatan. Hal ini terjadi di Pak Jokowi.

Tapi Jokowi mengutip data dari Indonesia Corruption Watch (ICW) yang mengatakan Gerindra partai nomor dua penyumbang eks napi korupsi. Dan data ini dijadikan bukti Jokowi saat debat pertama lalu. Tanggapan Anda?
Lho kan kata Pak Jokowi paling banyak itu Gerindra. Padahal ke­nyataannya Golkar yang berada di ku­bu pendukung Pak Jokowi. Menurut saya, Pak Jokowi itu memproduksi hoaks karena menuduh Pak Prabowo menandatangani padahal bukan.

Kata anggota BPN yang lain pernyataan Jokowi ini didorong oleh tim pendukungnya untuk menyerang Prabowo. Benarkah demikian?
Kalau menurut saya Pak Jokowi ini kan pakai contekan saat debat pertama lalu. Terlebih di mejanya ada kertas kecil lalu ada smartphone kecil. Kami melihat bahwa ternyata sudah pakai contekan menuduh Pak Prabowo dan partai Gerindra soal eks napi koru­psi ternyata contekannya juga salah, gitu lho. Sangat menyedihkan itu. Memproduksi hoaks dengan melihat contekan, ternyata contekannya pun salah. Dan itu yang terjadi dalam debat pertama yang dilakukan Pak Jokowi.

Apakah ini serangan yang men­jatuhkan Pabowo?

Enggaklah bagi kami biasa saja.

Jika menurut Anda Jokowi telah menyebarkan hoaks lantas apa yang akan dilakukan BPN?
Biarlah masyarakat yang menilai bahwa ternyata Pak Jokowi dalam debat memproduksi hoaks. Bicaranya tidak pakai data artinya asal bunyi.

Raja Juli Antoni: Ini Bukan Soal Jokowi Salah Data

Menurut BPN Prabowo-Sandi, dalam debat kemarin Presiden Jokowi salah menyampaikan data soal caleg eks koruptor, karena bukan Prabowo yang menanda­tangani penetapan mereka. Apa pembelaan Anda? Kunci atau esensinya adalah, ka­lau dia punya political will untuk membersihkan partainya dari ana­sir korupsi, maka sebenarnya dia bisa melakukannya. Kalau dia punya komitmen yang tinggi seperti yang diklaimnya, maka sebenarnya dia bisa membersihkan para kader atau caleg yang pernah terlibat kasus korupsi dengan mudah. Sekarang problemnya dia enggak punya track record sama sekali bahwa memang mampu dan memiliki komitmen untuk memberantas korupsi. Bahkan dia bilang korupsi enggak gede-gede enggak apalah, asal enggak gede curi-curi enggak apa-apalah. Itu enggak boleh seorang pemipin ber­kata seperti itu. Setiap pelanggaran hukum harusnya ditindak. Justru itu yang membuat posisi dia buruk di depan rakyat. Bagaimana dia mau membersihkan Indonesia, bersihkan partainya sendiri saja dia enggak mau, dia enggak bisa.

Tapi kan yang berwenang un­tuk menetapkan para celag untuk DPRD memang bukan Ketum Partai Gerindra tapi pimpinan Gerindra di daerah. Bagaimana itu?
Memang secara legal formal de­mikian. Tapi Pak Prabowo ini adalah ketua umum dari partai yang sangat sentralistik. Coba saja lihat posisi Pak Prabowo di Gerindra, dia enggak han­ya ketua umum, dia juga jadi ketua dewan pembina dan lain-lain. Dengan demikian seperti yang saya bilang tadi, kalau beliau punya political will untuk membersihkan partainya dari anasir korupsi, maka sebenarnya dia bisa melakukannya. Kalau dia punya komitmen yang tinggi seperti yang diklaim, maka sebenarnya dia bisa membersihkan partainya ini dengan mudah. Masalahnya tinggal mau atau tidaknya.

Berarti harusnya Prabowo ber­tindak supaya para caleg itu tidak usah dicalonkan ya?
Iya, kalau dia memang berkomit­men untuk memberantas korupsi seperti itu. Jadi, inti masalahnya itu bukan soal Pak Jokowi salah data, karena bukan Pak Prabowo yang tanda tangan, bukan dia yang men­etapkan. Pokok masalahnya adalah soal bagaimana komitmen pember­antasan korupsinya.

Tapi para caleg ini kan sudah menjalani masa hukuman. Harusnya tidak masalah dong untuk dicalonkan?
Ya terserah, secara legal formal kan memang kita tahu begitu. Tapi kan lagi-lagi soal, apakah enggak ada orang lain di republik ini yang lebih baik? Secara legal formal me­mang dia berhak melakukan hal yang demikian. Tapi sekali lagi ini kan masalah komitmen pemberantasan korupsi. Lebih ke itu sih intinya menurut saya. Rakyat akan menilai itu nanti.

Tapi kalau memang masih banyak warga yang mau memilih mereka bagaimana?
Ya pasti ada persoalan dengan bu­daya kita juga yang permisif tentunya. Tapi sebenarnya, yang paling penting dari itu semua memang komitmen partainya. Partai harus memiliki ke­mauan untuk membersihkan diri dari anasir korupsi.

Maksudnya walaupun elekta­bilitasnya tinggi, partai harusnya tetap sadar diri untuk tidak men­calonkan ya?
Mestinya iya, kalau memang Pak Prabowo punya komitmen yang tinggi terhadap pemberantasan ko­rupsi. Di republik jabatan publik itu terbatas. Harusnya orang-orang yang terbaik yang menempati posisi terse­but. Kecuali memang dia Gerindra sudah defisit orang yang baik.

Makanya jadi terpaksa mengajukan mereka. Tapi lagi-lagi itu menunju­kan siapa Pak Prabowo sebenarnya. Beliau ternyata kompromistik dengan korupsi, yang permisif terhadap ko­rupsi. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya