Berita

Lim Guan Eng/CNA

Global

Pasca Investigasi WSJ, Malaysia Teliti Ulang Kontrak Dengan China Di Era Najib Razak

SELASA, 08 JANUARI 2019 | 15:09 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah Malaysia akan meneliti perjanjian bilateral yang dibuat dengan China di bawah pemerintahan sebelumnya. Begitu kata Menteri Keuangan Malaysia, Lim Guan Eng pada hari ini (Selasa, 8/1).

Langkah itu diambil setelah muncul laporan Wall Street Journal awal pekan ini yang mengatakan bahwa Beijing pernah menawarkan kepada pemerintahan mantan perdana menteri Najib Razak, sebuah kesepakatan untuk menjamin dana negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB) sebagai imbalan atas sejumlah  kontrak.

"Kami tahu bahwa harga (proyek dengan China) meningkat, tetapi apakah ada kesepakatan seperti itu, saya harus memeriksa," kata Lim saat konferensi pers di kementerian keuangan di Putrajaya, seperti dimuat Channel News Asia.


Laporan WSJ menuduh bahwa pemerintah Najib telah bekerja dengan Beijing pada proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan atau One Belt One Road, seperti East Coast Rail Link (ECRL) di Malaysia.

Pemerintah Najib dikatakan telah menggelembungkan nilai proyek untuk mengalihkan uang ke 1MDB, yang berjuang untuk membayar utangnya.

Najib mengawasi pengaturan 1MDB itu pada tahun 2009. Departemen Kehakiman Amerika Serikat memperkirakan, dana senilai 4,5 miliar dolar AS telah disalahgunakan oleh Najib dan sejumlah pejabat di jajarannya antara tahun 2009 dan 2014.

Laporan WSJ mengutip risalah pertemuan antara anggota pemerintah Najib dengan para pemimpin China serta dari pembicaraan rahasia antara kedua belah pihak.

"Saya akan tertarik untuk memiliki salinan dari notulen itu oleh WSJ," kata Lim.

“Saya harus merujuk kembali ke setiap detail yang secara eksplisit dikatakan. Jika dikatakan hitam putih, maka itu adalah sesuatu yang akan kita kejar," tambahnya. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya