Berita

Polusi udara/Net

Dunia

Polusi Udara Di New Delhi Melonjak Ke Level Darurat

KAMIS, 03 JANUARI 2019 | 21:53 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Polusi udara yang terjadi di India melonjak ke tingkat darurat pekan ini.
Indeks kualitas udara Dewan Kontrol Polusi Pusat yang dikelola pemerintah, menunjukkan konsentrasi zat partikulat beracun yang dikenal sebagai PM 2.5, berdiri di level 440 pada Kamis (3/1).

Angka itu naik dari 430 pada hari sebelumnya. Angka itu sekitar 12 kali lebih tinggi dari tingkat 35 yang direkomendasikan pemerintah Amerika Serikat.
Tingkat polusi mencapai bahkan mencapai level 500 di beberapa bagian Delhi, dan terdapat visibilitas yang sangat buruk di beberapa daerah.


Penurunan tajam dalam suhu dan kecepatan angin, dikombinasikan dengan emisi kendaraan dan industri, debu dari situs bangunan dan asap dari pembakaran limbah, telah meningkatkan polusi di sebagian besar India utara termasuk Delhi, yang merupakan rumah bagi lebih dari 20 juta orang.

Cuaca dingin telah memaksa beberapa orang, terutama yang menghabiskan malam di tempat terbuka, untuk membakar api kecil agar tetap hangat, menambah kabut asap.

Dikabarkan The Guardian, pada bulan Oktober dan November tahun lalu ketika polusi melonjak, pemerintah mengambil langkah-langkah mulai dari larangan sementara pada kegiatan konstruksi dan pembakaran limbah hingga tindakan keras terhadap polusi pabrik industri seperti pembangkit listrik tenaga batu bara.

Para kritikus mengatakan, langkah-langkah itu tidak memadai dan diimplementasikan dengan buruk, sebagian besar karena kurangnya sumber daya dan kemauan politik.

"Kondisi iklim telah berkontribusi pada krisis, tetapi mari kita akui bahwa sebagian besar langkah yang diumumkan pada 2018 telah gagal total," kata seorang jkuru kampanye senior Greenpeace, Sunil Dahiya.

India sendiri merupakan rumah bagi 14 kota paling tercemar di dunia. Organisasi Kesahatan Dunia (WHO) bahkan menempatkan Delhi dalam posisi terburuk keenam. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya