Berita

Perangkat iPhone besutan Apple terbaru/BBC

Dunia

Penjualan Menurun, Apple Jadikan China Kambing Hitam

KAMIS, 03 JANUARI 2019 | 15:09 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Raksasa teknologi Amerika Serikat, Apple, mengguncang investor dengan mengumumkan bahwa penjualannya melambat beberapa waktu terakhir.
Dalam pengungkapan mengejutkan itu, produsen iPhone tersebut dalam sebuah pernyataan, mengatakan, pihaknya mengantisipasi pendapatan sekitar 84 miliar dolar AS untuk tiga bulan terakhir di tahun 2018, hingga tanggal 29 Desember.

Padahal sebelumnya, pada bulan November 2018, perusahaan memperkirakan penjualan akan mencapai setidaknya 89 miliar dolar AS. Prediksi ini mengecewakan para investor.

Pasca pengumuman itu, harga saham Apple merosot lebih dari 7 persen dalam perdagangan, memperpanjang penurunan lebih dari 28 persen sejak November 2018 lalu.

Pasca pengumuman itu, harga saham Apple merosot lebih dari 7 persen dalam perdagangan, memperpanjang penurunan lebih dari 28 persen sejak November 2018 lalu.

Pendapatan yang diraih Apple sebesar 84 milliar dolar AS itu menandai penurunan hampir 5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya dan mewakili penurunan triwulanan tahun ke tahun perusahaan sejak 2016.

Pihak Apple menyalahkan China atas kemerosotan pendapatan itu. Dalam sebuah surat kepada investor pada hari Rabu (2/1), seperti dimuat BBC, kepala eksekutif Tim Cook mengatakan bahwa masalah penjualan perusahaan terutama terjadi di China, serta meliputi Hong Kong dan Taiwan dan menyumbang hampir 20 persen dari pendapatannya.

"Sementara kami mengantisipasi beberapa tantangan di pasar-pasar berkembang utama, kami tidak melihat besarnya perlambatan ekonomi, khususnya di China Raya," katanya.

Namun, dia menambahkan bahwa pasar negara maju juga mengalami masalah, karena lebih sedikit pelanggan dari yang diharapkan memilih untuk meningkatkan ke ponsel terbaru Apple.

Penurunan pendapatan dari perkiraan penjualan itu menandai pertama kalinya Apple telah merevisi pedomannya kepada investor dalam lebih dari 15 tahun terakhir.

Pengurangan produksi oleh pemasok utama telah menyebabkan kekhawatiran bahwa telepon terbaru perusahaan tidak mendapatkan daya tarik di antara pembeli, yang sebagian karena faktor harga yang terlalu tinggi.

"Pertanyaan bagi investor adalah sejauh mana harga agresif Apple telah memperburuk situasi ini dan apa artinya ini bagi kekuatan harga jangka panjang perusahaan dalam waralaba iPhone," kata seorang analis di Atlantic Equities, James Cordwell. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya