Berita

Nicholas Haysom/BBC

Global

Dinilai Ikut Campur Urusan Negara, Somalia Usir Utusan PBB

RABU, 02 JANUARI 2019 | 19:38 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Somalia memaksa utusan utama PBB, Nicholas Haysom angkat kaki dari negara tersebut. Pengusiran itu dilakukan lantaran pemerintah Somalia menuduhnya telah mempermalukan PBB dengan bertindak seperti penguasa negara itu.

Haysom sendiri merupakan sosok yang memperingatkan soal kekhawatiran akan meningkatnya pembunuhan para demonstran yang bersekutu dengan mantan gerilyawan al Shabab, Mukhtar Robow.

Merujuk data PBB, pasukan keamanan diduga terlibat dalam kematian sekitar 15 pengunjuk rasa dan penahanan sekitar 300 orang yang terlibat dalam unjuk rasa tersebut.


Untuk diketahui, Somalia merupakan negara yang sangat bergantung pada bantuan asing.

PBB sendiri hadir di Somalia untuk memberikan pelatihan, seragam, dan tunjangan untuk pasukan keamanannya, yang memerangi kelompok militan Islam al-Shabab.

Sementara itu, Robow yang merupakan mantan wakil pemimpin al-Shabab, membelot dari kelompok itu pada 2017. Dia mengumumkan Oktober lalu bahwa dia bermaksud mencalonkan diri sebagai presiden negara bagian Barat Daya Somalia.

Namun, pemerintah melarangnya untuk ikut pemilihan dan pasukan keamanan menangkapnya pada awal Desember lalu. Pemerintah mengatakan dia tidak melepaskan ideologi ekstremisnya, meski telah membelot.

Namun Haysom menulis surat kepada pemerintah Somalia pada 30 Desember lalu untuk mempertanyakan dasar hukum penangkapan Robow dan tindakan keras selanjutnya terhadap para pendukungnya yang berdemonstrasi di Baidoa, ibukota negara bagian Barat Daya.

Tidak jelas apakah pemerintah menjawab keprihatinan Haysom, tetapi Menteri Luar Negeri Ahmed Isse Awad mengatakan utusan PBB tidak lagi diterima di negara itu.

"Haysom telah melanggar aturan diplomatik, dan bertindak seolah-olah dia adalah kepala atau penguasa Somalia. Dia memalukan terhadap tindakan PBB dan telah melanggar kedaulatan dan kemerdekaan Somalia," katanya kepada BBC.

Haysom merupakan warga negara Afrika Selatan dan penasihat hukum untuk Presiden kulit hitam pertama negara itu Nelson Mandela. Dia kemudian bertugas sebagai utusan PBB untuk Afghanistan, Sudan dan Sudan Selatan.

Dia diangkat sebagai wakil khusus kepala PBB Antonio Guterres untuk Somalia pada September 2018, dan ditugaskan tugas membantu mencapai perdamaian di negara itu. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya