Berita

Denny JA dan Joko Widodo, 2014/Net

Politik

Tentang Denny JA, Self Appointed Data Police

SELASA, 01 JANUARI 2019 | 10:43 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

KREATIF. Selain produksi meme, Surveyor Denny JA bikin kuiz menulis kebangsaan. Temanya "NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi".

Sebagai "mercenary academia", manuvernya tidak bisa dipisahkan dari dimensi politik. Sasaran indirect utama Denny JA adalah stigmatisasi Prabowo-Sandi. Sasaran antaranya; Habib Rizieq Syihab. Fabrikasi isu; Negara Islam atau Khilafah.

Naskah starter Denny JA menjadikan dirinya apa yang disebut Susan Fiske sebagai "methodological terrorist" dan "self-appointed data police".


Comot data Islamicity dan index-index PBB dengan tujuan mendeskreditkan komunitas Islam in general.

Benar saja, pancingan Denny JA dikunyah orang-orang sejenis. Ada Trisno S. Sutanto, aktifis Katolik dari Paritas Institute tapi berani bedah soal cosmology keislaman, dan manusia antah berantah bernama Al Chaidar.

Keduanya, plus Denny JA, punya spirit Anti FPI dan masuk gerombolan Habib Rizieq's haters. Ahoker-turned-Jokower. A misguided people.

Ketiganya punya kesamaan archetypal sebagai megalomaniac egotistical-cum-egotesticle culprits. Akademisi non intellectual personage. Kaum intelektual salon. Narcissistic homo scholasticus.

Di tangan mereka, Social science is falling victim to 'crisis of narcissism'. Argumentasi mereka berdasarkan Prejudis terhadap Habib Rizieq Syihab. Bias, cacat moral, subjektif dan ngasal. Sekali pun diperhalus dengan berbagai referensi, salah satunya dari Ulil Abhsar Abdallah, tetap saja, karya tulis mereka tidak lebih dari ekspresi Islamophobia dan bias-motivated crime literatures.

Target narcissistic mereka cuma satu; Seeking Attention with so many words count. Supaya nama mereka bisa muncul di glittering media profile. Berharap dapet pengakuan setelah publishing “a trophy journals” dan cultivating a network of academic frenemies.

Dari Judulnya saja sudah keliru. Indirectly, Denny JA hendak bilang "NKRI Bersyariah" itu bukan "Ruang Publik Yang Manusiawi".

Denny JA dan teman-temannya itu menyederhanakan ilmu sosial, mengkerdilkan sekaligus men-sophistifikasi figure Habib Rizieq Syihab dan gagasan NKRI Bersyariah. Mereka absurd sekali.

"They enjoy jargon and specific language. I suspect that immunology in the past attracted narcissists, but today neuroscience is probably the place to go,” kata Bruno Lemaitre.

Simplifikasi atas ilmu sosial, especially seputar revolusi, didasari ketidak-tauan mereka mengenai "replication crisis". Karena bukan revolusioner, tentu saja, mereka ngga menguasai metodologi dan tipologi perubahan sosial.

Chairman Mao Zedong, Lenin, Washington, Lee Kuan Yew atau Sukarno tidak memulai langkah dari modalitas data terukur dan diterima oleh scholastic society.

Chairman Mao Zedong keluar dari dictum Marxis-Leninist theory and praxis. Akhirnya, dia menciptakan apa yang disebut dunia sebagai "Maoism".

Indonesia tidak akan merdeka bila Sukarno menunggu approval dari Denny JA dan kedua temannya itu.

Deliberate simplification dan unconscious sophistication effort terhadap Habib Rizieq Syihab ditemukan dalam kecemasan mereka terhadap slogan "NKRI Bersyariah". Ngaco di soal securalism dan "blame it on Islam attitude".

Di otak mereka, seolah Habib Rizieq Syihab memainkan peran praxis seperti Ayatollah Khomeini dalam Revolusi Iran. Padahal, Prabowo-Sandi adalah figur yang maju dalam bursa pilpres.

Habib Rizieq Syihab tampil di depan saat Ahok menista agama. Peran sebagai "leader of the vanguards" itu diakui oleh banyak pihak. Termasuk Denny JA dan dua temannya yang tidak mampu menggalang umat sebanyak Aksi Bela Islam 1-3 dengan semua keelokannya seperti tak ada satu pun taman rumput yang dirusak.

Anehnya, Denny JA dan kedua temannya berani mencela serta memberi nasehat begini dan begitu kepada Habib Rizieq Syihab dalam rangka merealisasi "NKRI Bersyariah" yang mereka benci.

Bagi saya, istilah "NKRI Bersyariah" versi Habib Rizieq Syihab itu sepadan dengan Indonesia Adil Makmur yang diusung Prabowo-Sandi.

Dan itu relevan di saat di bawah Rezim Jokowi, seperti kata Denny JA, Indonesia menempati ranking 74 dalam skor Islamicity index. Karena itulah, Rezim Jokowi harus diganti di Pilpres April 2019. Supaya Happiness index rakyat Indonesia yang mayoritas muslim bisa naik dari urutan di bawah rangking 50 seperti sekarang.

Don't cha think so…? [***]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya