Berita

Fahri Hamzah/Net

Politik

Fahri Hamzah: Masyarakat Perlu Waspada Di Pilpres 2019

JUMAT, 28 DESEMBER 2018 | 13:54 WIB | LAPORAN:

. Masyarakat diwanti-wanti untuk mewaspadai para provokator yang melemparkan isu Indonesia bakal mengalami kemunduran, bahkan intoleran dan anti kebhinekaan kalau  dipimpin Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Demikian disampaikan  Wakil Ketua DPR  Fahri Hamzah, Jumat (29/12).

Menurut dia, para provokator yang melemparkan pesan adalah orang yang sama pada  di Pilkada DKI Jakarta 2017.


Dalam Pilkada Jakarta, lanjut Fahri, hampir saja rasa takut menyebar tidak saja di Ibukota tapi di seluruh nusantara serta nyaris terjadi perpecahan akibat Pilkada di satu titik menjadi beban seluruh bangsa.

“Di sini saya apresiasi kepada Agus Harimurti Yudhoyono dan Mpok Sylvi di tengah. Dan alhamdulilah, akhirnya pemilu kepala daerah Ibukota berlangsung relatif aman, meski residunya muncul di mana-mana,” ujar Fahri Hamzah.

Bahkan residu dari Pilkada DKI tahun lalu itu, dirasakan oleh dirinya saat berkunjung ke Manado. Fahri Hamzah mengatakan pihaknya  dihadang oleh sekelompok orang bersenjata, Ustadz UAS, Ustaz Zul, dan lain-lain juga kena akibat. Padahal, dirinya mau pun ke dua tokoh agama itu semua bukan tim sukses.

“Kita yang bersaudara jadi bersengketa. Padahal kita tidak punya hubungan apapun dengan Pilkada, nyoblos juga nggak. Tapi itulah, rasa takut membuat kita menjadi nggak rasional dan itu target mereka. Mereka nggak mau pemilih itu cerdas, mereka bikin kita gila,” sebut Fahri.

Dalam Pilkada Jakarta, ungkap Fahri, digambarkan seolah-olah kalau Anies-Sandi menang, Ibukota akan jadi tempat bahaya. Jakarta akan penuh intoleransi karena swiping akan ada di mana-mana dan orang berjubah sorban akan melakukan sembarangan melakukan razia.

Bukan itu saja, Pilkada Jakarta juga digambarkan seolah sebagai momen yang sempurna bagi persekongkolan kelompok-kelompok intoleran dan anti kebhinekaan. Di dalamnya ada Prabowo, Anies Baswedan Sandi Uno dan para ulama yang anti NKRI.

“Begitulah kecemasan dipompa jadi komoditi politik. Tapi alhamdulilah , Anies dan Sandi memimpin Ibukota, tidak ada masalah. Kedua pemuda putra bangsa yang cemerlang itu membuat kita bangga, karena mereka punya pergaulan dunia. Wajarlah pada mereka terhambat optimisme bangsa ini," katanya.

Menghadapi Pilpres 2019, para provokotor tadi pun bermain dan isu yang dijual yakni Indonesia di bawah Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno akan jadi mundur, intoleran dan anti kebhinekaan.

"Masyarakat jangan percaya dan jangan terprovokasi. Mereka adalah kelompok provokator  dimainkan oleh satu kelompok, sebagai modus untuk menguasai ingatan dan mood politik publik," tegas Fahri.

Sekarang mood itu, lanjutnya, dipakai untuk menolak Prabowo setelah gagal mereka pakai untuk menolak Anies Baswedan di Pilkada 2017 lalu.

Menurut Fahri, sebagai warga negara perlu menetralisir imajinasi dan mood publik. Tujuannya agar perdebatan pada awal tahun 2019 nanti benar-benar dicerna dengan akal sehat dan tanpa rasa takut.

Masyarakat pun diingatkan Fahri untuk melihat kapasitas pemimpin apa adanya.

"Jangan besar bayangan dari orangnya,” ujarnya mengingatkan.

Sebaliknya, masyarakat, dia melanjutkan harus optimis dengan pemilu 2019 aman dan damai, dengan tidak terpengaruh oleh provokasi-provokasi yang justru bisa menjerumuskan negeri ini.

“Mari kita optimis dengan Pilpres 2019. Insya Allah jangan mau dibikin cemas. Pilkada DKI telah membuktikan bahwa bangsa ini waras. Itu saja,” pungkas Fahri. [jto]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya