Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Wartawan Pakistan Keluhkan Peningkatan Sensor Di Media

RABU, 26 DESEMBER 2018 | 20:35 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Wartawan-wartawan di Pakistan mengeluhkan kondisi mereka saat ini yang menghadapi bentuk penyensoran yang lebih halus, namun tidak kalah mengerikan. Tindakan tersebut dituding dipelopori oleh dinas keamanan Pakistan.

Wartawan dan pembela kebebasan pers Pakistan, seperti dimuat Al Jazeera (Rabu, 26/12), mengatakan bahwa militer dan Intelijen Antar-Jasa yang kuat menekan media untuk meredam liputan kritis.

Pemerintah Perdana Menteri Imran Khan yang baru terpilih saat ini memangkas anggaran iklannya. Hal itu berarti memotong sumber pendapatan utama untuk surat kabar swasta dan stasiun TV di negara tersebut.


Qazi Salauddin, seorang wartawan veteran Pakistan yang telah menyaksikan periode berturut-turut pemerintahan militer langsung, mengatakan sensor hari ini adalah yang terburuk yang pernah ada.

"Hari ini kita tidak tahu apa yang akan mengganggu mereka," katanya tentang militer.

"Hari ini kita harus melakukan sensor diri dan itu adalah jenis sensor terburuk, karena dilakukan karena rasa takut," sambungnya.

Penutupan media terjadi di Pakistan saat ini. Sejumlah situs web ditutup, termasuk situs web Urdu dari Voice of America, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang diblokir, setelah melaporkan gerakan suku yang kritis terhadap operasi militer di wilayah yang berbatasan dengan Afghanistan.

Bukan hanya itu, sejumlah radio pun ditutup, seperti Radio Mashaal, yang berafiliasi dengan Radio Free Europe/Radio Liberty.

Selain mengincar media, penyensoran juga dilakukan terhadap wartawan itu sendiri. Salah satunya yang menimpa wartawan Cyril Almeida. Dia didakwa melakukan pengkhianatan setelah menerbitkan wawancara dengan Nawaz Sharif di mana mantan perdana menteri itu menuduh militer Pakistan membantu kelompok bersenjata yang melakukan serangan Mumbai 2008.

Pihak berwenang juga menargetkan media sosial, dengan meminta Twitter untuk menangguhkan akun dan mengirimkan ribuan permintaan ke Facebook untuk menghapus halaman karena berbagai alasan, mulai dari kritik terhadap militer hingga menyebarkan kebencian dan menghina Islam. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Jutaan Orang Tak Sadar Terkena Diabetes

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:17

Kejati Sumut Lepaskan Tersangka Penadahan Laptop

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:00

Sektor Energi Indonesia Siap Menggebrak Melalui Biodisel 50 Persen dan PLTN

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:35

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

Pasal Pembuka, Pasal Pengunci

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:21

Eggi Sudjana Perburuk Citra Aktivis Islam

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:19

Pratikno dan Jokowi Harus Dihadirkan di Sidang Sengketa Ijazah KIP

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:03

Dugaan Pengeluaran Barang Ilegal di Cileungsi Rugikan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:45

Eggi Sudjana Konsisten Meyakini Jokowi Tak Punya Ijazah Asli

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:15

Selengkapnya