Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Tidak Makan Anthony Bourdain

SELASA, 25 DESEMBER 2018 | 05:13 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

MAKAN apa selama di Lebanon? Saya justru ingin tahu, Anthony Bourdain makan apa di mana? Kalau ia lagi di Beirut?

Bourdain kan ahli makan sedunia. Pengasuh acara tv di Amerika. Tentang masakan seluruh dunia. Terkenal sekali.

Meninggal tahun lalu. Bunuh diri. Dengan cara tradisional, gantung diri. Di kamar hotelnya. Di Paris. Saat mau rekaman untuk acaranya nanti.


Anthony Bourdain ternyata makan di Onno Bistro. Saya harus ke situ. Harus.

Saya cari alamatnya. Mudah. Tinggal tanya Google. Hanya 5 km dari hotel saya. Hanya 15 menit, menurut peta.

Tapi menjalaninya ternyata tidak mudah. Rasanya seperti ke Jalan Karet di Surabaya. Atau ke Pintu Kecil di Jakarta.

Ruwet. Salah jalan terus. Banyak cabang kembar. Ada yang belok kiri dan belok agak kiri. Tanda panah di Googlenya hanya kiri. Macet pula. Satu jam belum sampai. Perut kian melilit.

Ternyata yang salah saya sendiri. Kurang teliti membaca keterangan di bawah alamat itu, ditutup. Pantesan tidak ketemu-ketemu. Mata saya tadi kan terus ke atas. Ke papan nama. Tidak ada nama itu. Muter lagi. Gak ketemu.

Akhirnya jalan kaki. Ke alamat yang di Google. Ups. Dari dekat baru ketahuan: ditutup. Karena renovasi. Tidak ada pengumuman sampai kapan. Ya sudah.

Sejak awal sopir saya sudah keberatan saya ke situ. Tidak jelas alasannya. Rupanya karena ruwetnya daerah itu. Aneh juga. Host acara tv Amerika pilih makan di situ.

Tapi, ternyata, sopir punya alasan khusus. “Itu masakan Armenia,” katanya.

Suku Armenia memang punya sejarah panjang di Lebanon. “Itu tadi tidak halal,” kata sang sopir. Ya sudah.

Seandainya sejak awal diberitahu. Saya kan tidak ke situ. Berlapar-lapar. Atau tetap ke situ. Ingin tahu.

Akhirnya saya keluarkan kata-kata sapujagat: carikan restoran apa saja. Yang penting dekat. Terserah Anda.

Waktu melewati KFC saya bilang, stop. Di situ saja. Sopir tidak mau.

Waktu melewati restoran Sushi saya bilang: stop. Di sushi itu saja. Sopir tidak mau.

“Satu menit lagi,” katanya. Ya sudah.

Saya sudah tahu. Tidak mungkin satu menit lagi. Pun lima menit. Saya sudah hafal kelakuannya. Tapi sepuluh menit pun saya belum akan meninggal dunia. Ya sudah.

Berapa menit pun. Saya harus sabar. Saya ini yang punya uang, pikir saya, kok tidak berkuasa sama sekali.

Ternyata saya dibawa ke restoran ‘Abdul Wahab’. Bisa saya baca dari huruf Arab yang menempel itu.
Wow. Keren sekali. Elit modern. Bukan elit mewah.

Saya lihat ada satu meja panjang penuh dengan canda. Beberapa dari meja itu berpakaian ayatullah. Beberapa wanita pakai jilbab. Beberapa lagi wanita rambut urai.

“Heran juga banyak orang Syiah makan di sini” bisik sopir saya. Melihat para ayatullah itu.

“Kenapa heran?” bisik saya.

“Ini kan restorannya orang Kristen,” jawabnya.

Selera ternyata mengalahkan apa saja.

“Dari mana Anda tahu restoran ini enak? “ tanya saya.

“Banyak tamu minta diantar ke sini,” katanya.

Saya pun minta berfoto dengan orang-orang Syiah itu. Saya perkenalkan diri, asal saya.

Mereka menyilakan saya ikut duduk di meja panjang itu. Saya memilih meja yang lain.Saya ingin bebas memilih menu.

Saya pun memesan sup lentil. Biji-bijian yang disebut dalam Injil. Khas meditaranian. Seperti zaitun disebut dalam Quran. Khas meditaranian. Saya juga memesan kebbeh. Mirip ontok-ontok Banjar. Atau jemblem Jawa. Hanya isinya daging kambing.

Tentu saya juga memesan salad lokal.

Sedang minumnya saya pilih jus promanade. Tidak hanya di resto Abdul Wahab ini. Makan di mana pun. Jam berapa pun. Minum saya jus pomegranate. Mumpung di Lebanon. Pomegranate manis. Harganya murah. Anti oksidannya tertinggi. Sulit mencarinya di Indonesia.

Sopir saya tidak salah memilihkan resto Kristen Abdul Wahab ini.

Rasanya Anthony Bourdain harus bertanya ke sopir saya. Kalau ia hidup lagi. Dan ingin makan di Beirut lagi. [***]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya