Berita

James Mattis/Reuters

Dunia

Inikah Percakapan Trump Dengan Erdogan Yang Picu Menhan AS Mundur?

SABTU, 22 DESEMBER 2018 | 22:58 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis mengundurkan diri secara tiba-tiba pekan ini. Langkah Mattis tersebut mengejutkan banyak pihak, terutama sekutu-sekutu Amerika Serikat. Pasalnya, Mattis merupakan sosok penting dalam sejumlah kebijakan pertahanan negeri Paman Sam.

Pengunduran dirinya memicu banyak spekulasi. Di surat penggunduran dirinya, Mattis mengatakan bahwa dia tidak lagi sejalan dengan Trump dalam kebijakan pertahanan. Terutama setelah awal pekan ini, Trump secara tiba-tiba memutuskan untuk membatalkan kebijakan Amerika Serikat sebelumnya dan menarik sepenuhnya pasukan Amerika Serikat dari Suriah.

The Guardian pada Jumat (21/12) memuat kabar yang menyebut bahwa langkah Mattis untuk mengundurkan diri dari kursi Menteri Pertahanan dipicu oleh percakapan telepon antara Donald Trump dan presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan pekan lalu. Saat itu Trump tiba-tiba memutuskan untuk membatalkan kebijakan Amerika sebelumnya dan menarik pasukan dari Suriah.


Akun-akun di pers Amerika Serikat dan Turki tentang pembicaraan antara Trump dan Erdogan itu menunjukkan bahwa Trump memenuhi tuntutan Erdogan dan mengejutkan penasihatnya sendiri.

Menurut versi peristiwa di Associated Press, posisi Amerika Serikat dalam percakapan telepon itu adalah untuk menuntut agar Turki menghentikan serangan terencana ke Suriah yang ditujukan pada elemen-elemen Kurdi, yakni Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat. Namun bagi Turki, SDF dianggap sama dengan pemberontak Kurdi.

"Poin pembicaraan sangat tegas," kata salah satu pejabat yang dikutip oleh Associated Press.

"Semua orang mengatakan mundur dan mencoba menawarkan (Turki) sesuatu yang merupakan kemenangan kecil, mungkin memegang wilayah di perbatasan, sesuatu seperti itu," jelasnya.

Erdogan menanggapi Trump dengan mengatakan bahwa ISIS telah dikalahkan 99 persen.

"Mengapa kamu masih di sana?" kata Erdogan, menurut sumber tersebut.

Di saat itu, dengan Erdogan yang masih tersambung di telepon, Trump mengajukan pertanyaan yang sama dari penasihat keamanan nasionalnya, John Bolton, yang mengulangi kebijakan Amerika Serikat sampai saat itu, bahwa kekalahan ISIS harus dipertahankan dan dicegah agar tidak bangkit.

Namun Trump mengejutkan Bolton dengan memihak pada Erdogan.

Menurut surat kabar Turki Hurriyet, Trump menyatakan "Oke - lakukan saja," tanpa mendengar jawaban dari Bolton.

Bolton dan mitranya dari Turki, Ibrahim Kalin kemudian dibiarkan untuk membahas rinciannya.

Laporan Hurriyet mengatakan, jadwal awal penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah adalah antara 30 hingga 60 hari, yang kemudian diperpanjang hingga 100 hari.

Penarikan mendadak seperti itu akan membuat SDF rentan terhadap serangan Turki.

Mengetahui hal itu, Mattis dan pejabat keamanan nasional Amerika Serikat lainnya kemudian berusaha mengubah pikiran Trump selama akhir pekan kemarin, namun hasilnya nihil.

Kabar yang sama yang dimuat The Guardian menyebut bahwa Mattis pergi menemui Trump dalam upaya terakhir untuk mengubah pikiran Trump terkait kebijakannya.

Dia kemudian berdebat untuk mendukung Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, yang telah mengambil peran utama dalam mengeluarkan kelompok ISIS dari kekuasaannya di Suriah. Trump menolak argumen Mattis selama pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit itu.

Trump sendiri sudah merekam video di taman Gedung Putih untuk mengumumkan dia akan membawa pasukan pulang dari Suriah. Video itu telah diperlihatkan kepada Mattis.

Mattis pun sebelumnya telah menyusun surat pengunduran diri. Namun dia tidak menyebutkan SDF atau Suriah tetapi berulang kali menyebut pentingnya keamanan nasional Amerika Serikat untuk menghormati sekutu, dan menghadapi musuh strategis.

Di akhir pertemuan itu, Mattis juga mengejutkan Trump dengan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Menurut New York Times, Mattis memerintahkan 50 salinan atas surat pengunduran dirinya dan segera diedarkan ke sekitar Pentagon, sekembalinya dia ke kantornya usai menemui Trump. [mel]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya