Kelompok bantuan White Helmets yang didukung Barat dikabarkan terlibat dalam perdagangan organ tubuh manusia, dukungan logistik teroris dan penjarahan di Suriah.
Begitu bunyi laporan yang disampaikan oleh direktur Studi Yayasan Demokrasi yang berbasis di Rusia Maxim Grigoriev kepada PBB pekan ini.
Laporan ini didasarkan pada wawancara dengan lebih dari 100 saksi mata, termasuk 40 anggota White Helmets, 50 penduduk lokal dan 15 mantan pejuang teroris.
Selain itu, lebih dari 500 warga sipil juga disurvei di kota-kota Suriah, Aleppo dan Deraa.
"Ada banyak bukti yang membuktikan bahwa pusat-pusat White Helmets secara permanen terlibat dalam membangun benteng untuk posisi pertempuran bagi kelompok-kelompok bersenjata teroris dan ilegal yang telah memasok mereka dengan air dan makanan dan mengevakuasi teroris yang terluka dari garis depan," kata Grigoriev.
Grigoriev merinci bagaimana kelompok tersebut menyediakan dukungan logistik untuk kelompok-kelompok bersenjata, membantu mengangkut pasukan dan pasokan.
Peneliti melanjutkan dengan mengutip seorang anggota White Helmets dari kota Douma Suriah yang sebelumnya dihuni teroris.
"Orang-orang yang dievakuasi oleh White Helmets sering tidak kembali hidup," kata Grigoriev mengutip seorang saksi dari daerah tempat kelompok itu beroperasi.
"Sebagai contoh, seseorang menerima luka ringan, diselamatkan, dievakuasi dan kemudian dibawa kembali dengan perut mereka terbuka dan dengan organ dalam mereka hilang," sambungnya seperti dimuat
Press TV.
Mengutip laporan dari anggota organisasi di kota Suriah Saqba, penelitian ini juga mengungkapkan korupsi yang luas dalam jaringan kelompok, dengan para pemimpin membuat keuntungan pribadi dari sumbangan, sedangkan anggota menjarah penduduk sipil.
"Kadang-kadang kami datang untuk membantu, memasuki sebuah flat, dan, jika kami menemukan emas atau perhiasan, disita," kata Grigoriev mengutip seorang anggota White Helmets di Douma.
"Dalam satu flat, ada seorang wanita yang merasa sakit, kami datang membantunya, menemukan beberapa emas dan mencurinya," tambahnya saat membaca kutipan itu.
[mel]