Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Tolak Poligami Jadi Pemikat PSI Dipilih Kaum Hawa

RABU, 19 DESEMBER 2018 | 21:48 WIB | LAPORAN:

Penolakan praktik poligami oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kali ini mendapat apresiasi.

Langkah partai baru itu dianggap berani menjanjikan akan melarang aparatur sipil negara (ASN) dan pejabat publik melakukan poligami.

Pengamat politik dari President University Muhammad AS Hikam menilai, larangan poligami di kalangan ASN dan pejabat negara adalah salah satu platform politik partai terkait dengan hak asasi perempuan.


"Bagi saya platform politik seperti itu adalah suatu kemajuan besar dalam wacana dan praksis demokrasi di era pasca Reformasi. Terlepas ada yang pro dan kontra terhadap platform tersebut, dalam sistem demokrasi adalah sah-sah saja untuk dikemukakan dan diperjuangkan oleh PSI atau partai politik lainnya," jelasnya kepada wartawan, Rabu (19/12).

Namun, Hikam tidak memungkiri terdapat resiko bagi PSI seperti mengalami kesulitan mendapatkan dukungan masyarakat. Untuk itu, dia menyarankan, agar partai pimpinan Grace Natalie tersebut memberikan penjelasan mengenai langkah pelarangan poligami bagi ASN dan pejabat negara.

"Walaupun mayoritas masyarakat Indonesia muslim, belum tentu semuanya pro poligami untuk ASN dan pejabat negara. Toh PSI tidak mengatakan poligami harus dilarang total bagi seluruh umat Islam," ujarnya.

Hikam meyakini bahwa langkah politik yang diambil PSI akan mendapat perhatian dari pemilih perempuan.

"Pemilih perempuan khususnya kelompok milenial akan cenderung mendukung platform tersebut. Sehingga target PSI juga harus terarah sehingga bisa lebih efisien dan efektif dalam komunikasi publik," imbuhnya.

Pembahasan mengenai poligami kembali muncul setelah Ketum PSI Grace Natalie menyerukan revisi UU 1/1974 tentang Perkawinan. Grace menyatakan partainya tidak akan pernah mendukung praktik poligami di Indonesia.

Menurutnya, poligami adalah bentuk ketidakadilan yang dilembagakan oleh negara. Sehingga, undang-undang tersebut harus direvisi agar tidak ada lagi perempuan dan anak yang menjadi korban ketidakadilan. [wah]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

BRI Catat 6.022 Debitur KUR di Pangkalpinang, Didominasi Petani Sawit

Senin, 29 Juni 2026 | 22:23

Mengenal Emission Trade System

Senin, 29 Juni 2026 | 22:06

KPK Perpanjang Penahanan ASN BPK Sumsel Titin Rita Lestari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:52

DPR Minta Polisi Segera Penjarakan Penganiaya Caddy di Tangerang

Senin, 29 Juni 2026 | 21:36

Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Perkuat Resiliensi Media demi Pembangunan Papua

Senin, 29 Juni 2026 | 21:34

Ahmad Muzani Bicara Potensi Wisata Religi Saat Temui Ketua MPR Uzbekistan

Senin, 29 Juni 2026 | 21:32

Bupati Muara Enim Edison Masih Nginep di Rutan KPK dalam 40 Hari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:14

DMO dan RKAB Harus jadi Prioritas Amankan Pasokan Batu Bara

Senin, 29 Juni 2026 | 20:44

Hampir Rampung, Sekolah Rakyat Kementerian PU di Bekasi Usung Gentengisasi

Senin, 29 Juni 2026 | 20:36

Brasil vs Jepang: Duel Raksasa di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Senin, 29 Juni 2026 | 20:28

Selengkapnya