Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Amnesty International: Bentrok Petani-Penggembala Renggut 3.641 Nyawa

SENIN, 17 DESEMBER 2018 | 16:22 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Bentrokan yang terjadi antara petani dan penggembala semi-nomaden di Nigeria telah menewaskan lebih dari 3.600 orang sejak tahun 2016 lalu. Sebagian besar dari para korban tersebut tewas pada tahun ini.

Begitu data terbaru yang dirilis Amnesty International awal pekan ini (Senin, 17/12).

Amnesty International mendokumentasikan peningkatan kekerasan yang dapat mempengaruhi hasil pemilihan yang akan digelar di Nigeria pada Februari 2019 mendatang.


Dalam pemilu tersebut, calon petahana, Muhammadu Buhari sedang mencari masa jabatan kedua dalam pemilihan tersebut.

Tetapi kampanyenya telah menerima sejumlah ganjalan, salah satunya adalah isu bahwa dia lemah untuk menangani kasus bentrokan petani dan penggembala tersebut.

Konflik tersebut kerap juga disebut sebagai masalah etno-religius, terutama karena para penggembala Muslim Fulani bertikai dengan para petani Kristen.

Tetapi banyak ahli dan politisi mengatakan perubahan iklim dan perluasan pertanian menciptakan persaingan untuk lahan yang mendorong para petani dan penggembala ke dalam konflik, tanpa memandang agama atau etnis.

"Kegagalan otoritas Nigeria untuk menyelidiki bentrokan komunal dan membawa pelaku ke pengadilan telah memicu eskalasi berdarah dalam konflik antara petani dan penggembala di seluruh negeri, mengakibatkan setidaknya 3.641 kematian dalam tiga tahun terakhir dan pemindahan ribuan orang lagi," begitu bunyi laporan Amnesty seperti dimuaty Reuters.

Kelompok HAM tersebut mencatat, dari 310 serangan yang terjadi antara Januari 2016 dan Oktober 2018, 57 persennya terjadi pada tahun 2018 ini.

Setelah musim hujan yang lebih tenang di musim panas, para ahli khawatir bentrokan bisa melonjak lagi ketika musim kemarau dimulai. Karena kondisi memaksa para penggembala bergerak ke selatan menuju tanah yang lebih hijau dan pasokan air. Tidak jarang rute yang diambil melintasi lahan pertanian.

"Serangan-serangan ini direncanakan dengan baik dan terkoordinasi, dengan menggunakan senjata seperti senapan mesin dan senapan AK-47," kata direktur Nigeria Amnesty, Osai Ojigho.

"Namun, sedikit yang telah dilakukan oleh pihak berwenang dalam hal pencegahan, penangkapan dan penuntutan, bahkan ketika informasi tentang tersangka pelaku tersedia," tutupnya. [mel]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya