Berita

Aksi di depan Istana Jakarta/Net

Politik

Waspadai Demo Pesanan Yang Menolak Gelar Kehormatan Untuk Presiden

JUMAT, 14 DESEMBER 2018 | 11:54 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Masyarakat Indonesia khususnya Riau diminta untuk mewaspadai aksi demo pesanan politik dan korporasi asing yang menolak pemberian gelar kehormatan Adat Datuk Sri Setia Amanah Negara ke Presiden Joko Widodo.

Permintaan itu disampaikan massa aksi Himpunan Mahasiswa Anti Kapitalis dan Komite Pemuda Peduli Adat Nusantara saat berunjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (14/12).

Koordinator aksi Abdillah menyebutkan, aksi yang kontroversi menolak pemberian gelar kehormatan kepada Presiden menjadi tanda tanya, bahkan berpotensi beraroma politis.


"Gerakan tersebut tidak murni dan membawa misi terselubung, bisa jadi ada dugaan membawa misi paslon penantang Jokowi," tegas Abdillah dalam keterangannya.

Menurut dia, ada upaya jahat yang ingin membentuk citra negatif untuk menjatuhkan Jokowi di mata publik. Sehingga tergiring opini seolah-olah masyarakat Riau menolaknya.

"Sekali lagi awas ada penyesatan opini untuk digiring ke ranah politik, apalagi ini masuk tahun politik. Awas ada udang di balik batu," terang Abdillah.

Padahal, kata dia, Lembaga Adat Melayu (LAM) sudah mempertimbangkan matang-matang alasan pemberian gelar kehormatan, karena Jokowi serius mengatasi persoalan asap yang di masa lalu sulit diselesaikan.

"Jadi atas dasar kebencian dan bayaran, gerakan massa yang akan melakukan penolakan gelar adat kepada Jokowi ini sudah tidak obyektif lagi," ucap dia.

Baca: Presiden Jokowi Dipinang Untuk Menerima Gelar Datuk Sri Setia Amanah Negara

Selain itu, tambah Abdillah, pihaknya menduga ada korporasi asing di belakang layar yang merasa dirugikan dengan keputusan pemerintah Jokowi yang berhasil merebut Blok Rokan. Selama ini masyarakat Riau tidak mendapat keuntungan dari adanya Blok Rokan karena dikuasai asing.

"Ketika Jokowi berhasil merebut Blok Rokan dan masyarakat akan mendapat keuntungan, kenapa ada yang mengaku mahasiswa justru marah dengan Jokowi? Kemarahan itu adalah marahnya korporasi asing bukan marahnya masyarakat Riau. Publik Indonesia harus berpikir jernih, jangan mau tergiring opini sesat," tutupnya. [rus]

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya