Berita

Publika

Memantik Melayu Spring Dari Riau

KAMIS, 13 DESEMBER 2018 | 07:58 WIB

MOHAMED Bouazizi. Pemuda Tunisia, pertengahan bulan Desember delapan tahun yang lalu membakar tubuhnya.

Frustasi dalam bentuk perlawanan kepada rezim dengan cara yang tak wajar ini pun mengakhiri hidup penjual buah ini. Tragis.

Namun siapa menduga, tak lama setelah tubuh Bouazizi berkalang tanah, menjadi awal menyeruaknya kesadaran kolektif masyarakat ada yang harus disuarakan, bahkan lebih dari itu dan secara bersama. Terutama, tentang ketidakadilan, korupsi dan ekonomi yang memburuk.


Tidak tanggung-tanggung, ada empat kepala negara di tanah Arab yang berkuasa puluhan tahun terguling usai demonstrasi dan kerusuhan. Yang disebut-sebut buah dari pengorbanan Bouazizi. Disengaja? Tentu tidak. Namun jadi pemantik, jelas iya.

Sebagian orang berpendapat apa yang terjadi di Arab sewindu yang lalu itu bukanlah musim semi, tapi musim gugur. Sebab tanah Arab hingga saat ini masih juga labil. Namun kalau mau mengutip kata bijak negeri seberang "Perjalanan Satu Mil, Dimulai dari Satu Langkah," maka tidak ada yang menguap dari apa yang dibuat dan diucap. Bukankah Tuhan hanya menilai dari proses, bukan dari hasil yang didapat.

Di Tanah Melayu, yang meliputi beberapa negara, tumbangnya Najib Razak oleh Mahathir Mohamad disebut-sebut akan menjadi mula dari Melayu Spring. Dan diprediksi akan menular ke Indonesia, bolehlah dibuktikan tahun depan. Lalu pertanyaannya, akankah dengan itu kemudian menjalarkan kemakmuran bagi masyarakat Riau yang buminya melimpah ruah kekayaannya?.

Saya sendiri masih saja pesimis tanah Riau ini akan mengalami perubahan yang berarti tanpa ada perlawanan yang radikal. Sikap tamak, bingal dan bebal Jakarta pada Bumi Melayu Lancang Kuning ini sudah berurat-akar. Ditambah lagi, tidak sedikit elit daerah ini tak lebih hanya kacungnya Jakarta. Marah disebut kacung? Merajuk?

Sebab itulah saya membayangkan tetiba ada seorang anak muda, atau mungkin tak lagi muda seorang diri menyuarakan ketimpangan dan penzaliman kepada tanah Melayu Riau ini dengan cara yang gila? Seperti Bouazizi. Bisa saja.

Berangkat dari sebuah kesadaran bahwa perut bumi tempat ia berpijak berpuluh tahun terus dikuras tanpa ampun, yang mendapat madu hanya segelintir. Yang lain? Dadanya sesak menghirup udara dari cerobong asap pabrik-pabrik ketamakan, sungai-sungainya pekat mengalirkan anyir kerakusan. Tak lagi berhitung hari.

Lahan-lahan nenek moyangnya di kavling-kavling penguasa daerah dan Istana. Bahkan apa yang tumbuh dari atas tanahnya hasil peluh pun tak lagi berharga. Harga sawit, karet, kelapa menukik setajam-tajamnya. Pemimpinnya pun mengumban beribu alasan.

Di saat dihimpit kesulitan yang tak kunjung ada solusi nyata dari pengemban amanah, eh malah si nyonya dari Berkeley mewacanakan kenaikan Tunjangan Kepala Daerah. Tentulah kepala daerah girang. Belum cukup uang sikut? uang sikat? uang sipuk? Ini sama saja dengan pemimpin bersulang darah rakyatnya sendiri.
 
Dan lebih menggelikannya lagi, penguasa tertinggi di negeri ini pun akan dimahkotakan sebagai pemimpin yang cerlang-cemerlang berseri bak gemintang. Masak iya? Asli macam pulut.

Kembali saya membayangkan ada Bouazizi berhidung pesek akhir pekan ini, ya akhir pekan ini, melakukan ekspresi kekecewaan yang gila, seperti yang terjadi di Tunisia delapan tahun lalu, jika tidak sama, setidaknya mendekati. Di pusat ibu kota provinsi, jalan Sudirman, atau jalan Gajah Mada, atau lebih mantap lagi di jalan Diponegoro. Meski saya ragu, tapi apa yang mustahil di bumi yang masih bulat ini? [***]


Alwira Fanzary Indragiri

Ketua OKP Lingkar Anak Negeri Riau (LAN-R), Wartawan 

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Rayakan HUT Perusahaan Lewat Santunan Anak Yatim

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:59

Polisi Geledah Rumah terkait Kasus Dugaan Korupsi Kejagung, 74 Kg Emas Diamankan

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:40

Ketahanan Energi Indonesia Masih Pincang Tanpa Ada Cadangan Strategis

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:12

Polisi Geledah 12 Titik Kasus Korupsi, Rumah Mewah Jampidsus Tidak Termasuk

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:50

Peradi Profesional Catat Rekor Kerja Sama dengan 112 Perguruan Tinggi

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:45

IPW Dukung Polri Usut Dugaan Korupsi di Lingkungan Kejagung

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:26

Yogyakarta dan Takdir Dirgantara

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:01

Kritik terhadap Pemerintah Bagian dalam Kehidupan Demokrasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:41

Pertamina Berdayakan Difabel Kampung Rajut Inspirasi Green Warrior Bandung

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:18

Polisi Sita Uang Miliaran Rupiah Usai Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:14

Selengkapnya