Berita

Ilustrasi/CNA

Global

Kongres Filipina Perpanjang Darurat Militer Di Mindanao

RABU, 12 DESEMBER 2018 | 17:31 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kongres Filipina menyetujui perpanjangan 12 bulan undang-undang darurat militer di wilayah Mindanao yang bergolak pada hari Rabu (12/12).

Langkah ini diambil setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte berpendapat bahwa perlu untuk mempertahankan langkah-langkah keamanan yang ketat demi menghentikan ekstremis Muslim dari pengelompokan kembali.

Sesi legislatif gabungan yang digelar hari memilih 235 banding 28 untuk mempertahankan pemerintahan militer di Mindanao hingga akhir tahun 2019. Langkah ini memperpanjang periode darurat militer yang merupakan paling lama di negara itu sejak era 1970-an, di masa dari diktator Ferdinand Marcos.


Diketahui, sebagian besar wilayah Mindanao selama beberapa dekade telah dirundung konflik, pembajakan dan pemberontakan bersenjata oleh milisi separatis dan komunis, beberapa di antaranya telah dikelola oleh gencatan senjata dan desentralisasi.

Namun, Mei tahun lalu meletus konflik paling sengit di negara itu sejak Perang Dunia II, ketika sebuah aliansi ekstremis yang berusaha menciptakan wilayah Negara Islam menyerang dan menahan Kota Marawi melalui lima bulan serangan udara pemerintah dan serangan darat.

"Terlepas dari perolehan substansial yang dicapai selama masa darurat militer, kami tidak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa Mindanao berada di tengah-tengah pemberontakan," tulis Duterte dalam sebuah surat kepada Kongres, seperti dimuat Channel News Asia.

Juru bicara Duterte dan militer berterima kasih kepada anggota parlemen setelah pemungutan suara, dan mengatakan hak-hak dan kebebasan sipil akan dilestarikan di bawah darurat militer yang dimaksudkan untuk mencegah kelompok-kelompok radikal berkembang melampaui Mindanao. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya