Berita

Presiden Jokowi/Net

Politik

Bahaya, Utang BUMN Lampaui Utang Pemerintah

SELASA, 11 DESEMBER 2018 | 14:44 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Belum selesai permasalahan utang pemerintah sebesar Rp. 4.416 triliun, saat ini Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjukkan tren kenaikan utang yang bombastis mencapai Rp. 5.271 triliun. BUMN melampaui utang pemerintah.

Direktur Eksekutif Bimata Politica Indonesia (BPI) Panji Nugraha mengatakan, utang-utang ini membuktikan Presiden Joko Widodo tidak punya solusi untuk membuat kebijakan tanpa mekanisme utang.

"Terlepas dari justifikasi utang produktif untuk pembangunan, faktanya masih ada proyek-proyek mangkrak yang belum terselesaikan dan molor dari target yang ditentukan. Masalah utamanya utang BUMN pun akan menjadi bom waktu seperti halnya utang pemerintah jika pemerintah gagal bayar bunga utang," tutur Panji, Selasa (11/12).


Panji menambahkan, utang perusahaan plat merah naik 132,92 persen dari Rp. 2.263 triliun pada 2016 menjadi sekitar Rp. 5.271 triliun di tahun 2018.

"Ada peningkatan sekitar Rp. 3.000 triliun dalam dua tahun terakhir," terangnya.

Apakah utang BUMN sekian besar dalam kategori aman? Panji menjelaskan justru dapat dikategorikan berbahaya.

Pertama, tren pertumbuhan utang BUMN melampui pertumbuhan ekonomi nasional mengundang kekhawatiran. Kedua, rasio utang BUMN terhadap aset saat ini sudah mencapai 67 persen artinya menuju lampu merah.

Ketiga, utang tersebut disumbang oleh 10 BUMN diantaranya tiga paling besar penyumbang utang adalah sektor BUMN perbankan yaitu BRI, Mandiri dan BNI. Padahal berdasarkan kriteria aset, skala usaha serta kompleksitas bisnis, bank-bank BUMN memiliki resiko yang sangat besar karena termasuk kualifikasi beresiko sistemik yang dapat mengguncang perekonomian nasional.

"Artinya dapat menjadi indikator krisis nasional jika ada sedikit saja kesulitan finansial," sebut Panji.

Menurutnya, Jokowi perlu bersikap, jangan mengambil resiko besar mempertaruhkan ekonomi nasional untuk pembangunan infrastruktur, apalagi potensi utang membengkak bisa saja terjadi dikarenakan kurs rupiah yang hingga saat ini mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

"Jika Jokowi tidak merubah arah kebijakan yang dapat mengamankan perkonomian Indonesia, wajar saja jika banyak pihak termasuk publik menganggap kinerja Jokowi gagal dalam mengelola perekonomian Indonesia khususnya mengembangkan BUMN menjadi landasan dan lokomotif pembangunan ekonomi Indonesia," tutup Panji. [rus]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

BRI Catat 6.022 Debitur KUR di Pangkalpinang, Didominasi Petani Sawit

Senin, 29 Juni 2026 | 22:23

Mengenal Emission Trade System

Senin, 29 Juni 2026 | 22:06

KPK Perpanjang Penahanan ASN BPK Sumsel Titin Rita Lestari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:52

DPR Minta Polisi Segera Penjarakan Penganiaya Caddy di Tangerang

Senin, 29 Juni 2026 | 21:36

Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Perkuat Resiliensi Media demi Pembangunan Papua

Senin, 29 Juni 2026 | 21:34

Ahmad Muzani Bicara Potensi Wisata Religi Saat Temui Ketua MPR Uzbekistan

Senin, 29 Juni 2026 | 21:32

Bupati Muara Enim Edison Masih Nginep di Rutan KPK dalam 40 Hari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:14

DMO dan RKAB Harus jadi Prioritas Amankan Pasokan Batu Bara

Senin, 29 Juni 2026 | 20:44

Hampir Rampung, Sekolah Rakyat Kementerian PU di Bekasi Usung Gentengisasi

Senin, 29 Juni 2026 | 20:36

Brasil vs Jepang: Duel Raksasa di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Senin, 29 Juni 2026 | 20:28

Selengkapnya