Berita

Pertahanan

PGI Minta Presiden Jokowi Kedepankan Dialog Di Papua

SENIN, 10 DESEMBER 2018 | 06:33 WIB | LAPORAN:

Presiden Joko Widodo beserta para aparaturnya diminta menghentikan pendekatan dan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan persoalan di Papua.

Pembangunan infrastruktur yang mulai gencar dilakukan di Papua, belumlah mampu menjangkau hati masyarakat Papua.

Karena itu, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyerukan agar semua pihak, terutama pemerintah dan aparat, tidak melakukan aksi-aksi balasan berupa tindak kekerasan dan senjata.


Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt Dr Henriette T.H. Lebang menyampaikan, di tengah gencarnya pembangunan ekonomi dan infrastruktur, pada saat yang sama Indonesia menyaksikan gejala semakin kuatnya aspirasi untuk menentukan nasib sendiri di kalangan sebagian masyarakat, baik yang terungkap di Papua, di berbagai kota di Indonesia, maupun dalam kampanye internasional.

"Hal ini menunjukkan bahwa cara penyelesaian yang parsial-pragmatis belum dapat memecahkan permasalahan Papua. Bahkan berbagai aksi kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat sipil dan kelompok bersenjata juga ditengarai sebagai bentuk protes atas tidak diindahkannya tuntutan masyarakat akan penyelesaian masalah Papua secara menyeluruh," tutur Pdt Dr Henriette T.H. Lebang dalam Pesan Pastoral Gerejawi, yang diterima redaksi, Senin (10/12).

Berkenaan dengan hal itu, PGI mengimbau semua masyarakat, khususnya elemen masyarakat terkait Papua, untuk dapat melihat masalah di wilayah paling timur Indonesia itu secara menyeluruh dan menemukan akar masalahnya, untuk selanjutnya diatasi bersama.

"Kami berpandangan, duduk bersama dalam percakapan dari hati ke hati, apakah itu dalam bentuk dialog nasional sebagaimana banyak dituntut oleh sementara pihak di Papua, atau dialog sektoral sebagaimana pernah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, adalah jauh lebih bermartabat dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan Konstitusi RI," ujarnya.

Kemudian, pelibatan masyarakat adat, gereja dan beragam pemangku kepentingan di Papua akan memudahkan pemerintah dalam menjalankan roda pembangunan menuju masa depan.

PGI melalui Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPH-PGI) menyampaikan dukacita mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa pembunuhan di Kabupaten Nduga, Papua, pada Minggu (2/12) lalu.

"Peristiwa ini telah menciderai harkat manusia sebagai citra Allah. Sejauh kami pahami, mereka adalah pekerja pada PT Istaka Karya, yang sedang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dalam kaitan ini, kami menyampaikan dukacita yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan seraya berdoa, semoga Tuhan yang Maha Pengasih menguatkan keluarga dalam menghadapi masa-masa yang sulit ini," tuturnya.

Terkait dengan peristiwa ini, PGI mengimbau aparat negara agar bekerja secara profesional dan proporsional, dalam menciptakan rasa aman dan damai bagi masyarakat Papua dan seluruh penduduk Indonesia di manapun berada. PGI juga mendorong aparat negara untuk menyelidiki dan mengusut tuntas peristiwa ini dengan mengutamakan pendekatan kultural.

"Demi mengurangi ketegangan di tengah masyarakat Papua dan mencegah jatuhnya semakin banyak korban di kalangan masyarakat sipil," ujar Pdt Dr Henriette.

Bagaimanapun, lanjut dia, semua pihak wajar menyampaikan sangat prihatin dengan pendekatan kekerasan dalam penyelesaian masalah Papua, baik yang dilakukan oleh masyarakat sipil, kelompok-kelompok bersenjata maupun aparat Negara.

"Pendekatan kekerasan, dalam bentuk apa pun, menurut hemat kami, tidak akan pernah menyelesaikan masalah, selain hanya akan menciptakan luka-luka baru yang pada gilirannya akan menciptakan lingkaran kekerasan," tuturnya.[wid]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya