Berita

Korban penculikan/The Guardian

Dunia

Bongkar Misteri Penculikan Siswa Di Masa Lalu, Presiden Bentuk Komisi Kebenaran

SELASA, 04 DESEMBER 2018 | 16:05 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Meksiko yang baru dilantik, Andres Manuel Lopez Obrador segera memerintahkan pembentukan komisi kebenaran untuk memeriksa kembali salah satu kejahatan tak terpecahkan yang paling terkenal di negara itu, yakni penculikan dan dugaan pembunuhan 43 guru peserta pelatihan yang hilang setelah mereka diserang oleh orang-orang bersenjata dari kartel dan petugas kepolisian korup.

Dia menegaskan bahwa komisi tersebut akan menyelidiki semua sudut dari serangan yang terjadi pada bulan September 2014 di kota Iguala. Serangan itu menargetkan siswa dari perguruan tinggi Ayotzinapa.

Insiden itu adalah salah satu kejahatan paling terkenal yang dilakukan selama pemerintahan pendahulu, Lopez Obrador, yakni Enrique Pena Nieto dan menjadi simbol impunitas dan ketidakadilan yang merajalela di tengah perang militer negara itu terhadap kejahatan terorganisasi.


Keluarga para siswa yang hilang berulang kali mengungkapkan kekecewaan mereka dengan penyelidikan resmi, yang sebagian didasarkan pada pengakuan yang diperoleh melalui penyiksaan, dan yang tidak diizinkan untuk memeriksa kegiatan tentara Meksiko pada malam serangan itu.

"Saya jamin tidak akan ada kekebalan hukum dalam kasus yang menyedihkan dan menyakitkan ini, tidak juga dalam hal lain," kata Lopez Obrador pada pengumuman di Istana Nasional awal pekan ini.

“Saya berharap kita akan segera mengetahui kebenaran. Bahwa ada keadilan dan contoh yang ditetapkan agar tidak pernah lagi melanggar hak asasi manusia di negara kita, sehingga tidak ada orang Meksiko lain yang menderita hilangnya anak-anak mereka," sambungnya seperti dimuat The Guardian.

Pemerintah Pena Nieto berusaha untuk mengabadikan versi resmi dari insiden tersebut yang digambarkan sebagai kebenaran sejarah". Versi tersebut mengatakan bahwa jasad para siswa yang hilang hancur dalam kebakaran besar di tempat pembuangan sampah. Tetapi ahli forensik independen menemukan bahwa tidak ada bukti untuk mendukung narasi itu. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Pabrik Bioetanol Bakal Diperbanyak, Pemerintah Siapkan Revisi Perpres 40

Selasa, 08 September 2026 | 18:19

BUK Migas Harus Lebih Gesit Kejar Investasi dan Lifting

Selasa, 08 September 2026 | 17:57

Menimbang Ulang Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 17:41

Pemerintah Harus Antisipasi Kekeringan dan Gagal Panen akibat El Nino

Selasa, 08 September 2026 | 17:34

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

Selasa, 08 September 2026 | 17:23

KPK Panggil Anggota DPRD Hingga Pengurus Golkar Jateng di Kasus Bupati Pemalang

Selasa, 08 September 2026 | 17:14

Masa Jabatan Kapolri: Open Legal Policy atau Celah Subjektivitas?

Selasa, 08 September 2026 | 16:47

Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Darat Pertama di Perbatasan

Selasa, 08 September 2026 | 16:40

RUU Pemilu Jangan Keluar dari Filosofi Dasar Demokrasi

Selasa, 08 September 2026 | 16:34

Purbaya Curhat Suka Duka jadi Menkeu, Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Selasa, 08 September 2026 | 16:31

Selengkapnya