Berita

Foto/Net

On The Spot

Pagar Tertutup, Penghuni Kos Beraktivitas Seperti Biasa Saja

Melihat TKP Jenazah Dalam Lemari
RABU, 28 NOVEMBER 2018 | 08:43 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ciktuti Iin Puspita, ditemukan tewas di dalam kamar kosnya di Mampang, Jakarta Selatan. Wanita muda yang bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah tempat karaoke itu, pertama kali ditemukan di dalam lemari oleh penjaga kos-kosannya.

Kos-kosan tempat Ciktuti ditemukan tewas berada di Jalan Senang, RT 3, RW 2, Kelurahan Tegal Parang, Kecamatan Mampang Prapatan. Seminggu pasca penemuan mayat Ciktuti, aktivitas di tempat tersebut telah berlangsung seperti biasa.

Para penghuni tampak melakukan kegiatan mereka masing-masing di kos-kosan yang terdiri dari dua lantai itu. Dari pengamatan pada Senin (26/11), takada kegiatan istimewa yangterlihat di tempat tersebut. Penghuni keluar masuk seperti biasa.


Bangunan kos-kosan terbi­lang cukup mewah. Bergaya modern dengan pintu gerbang menjulang sekitar dua meter. Pintu gerbang yang dicat hitam itu juga dilapisi fiberglass warna biru yang menutupi sekitar dua pertiga tinggi gerbang.

Di bagian depan, terdapat ga­rasi yang bisa digunakan untuk menyimpan kendaraan roda dua maupun roda empat. Ukurannya lumayan luas. Sekitar 10 sepeda motor atau empat mobil bisa masuk ke dalam garasi yang dilapisi paving block itu.

Tak ada garis polisi di pagar maupun gerbang kos-kosan tersebut. Menurut warga setem­pat, garis polisi hanya dipasang di kamar Ciktuti yang berada di lantai satu.

Penemuan jenazah Ciktuti cu­kup mengejutkan warga sekitar. Ketua RT setempat Mamnun mengaku, mendapat kabar tewasnya korban dari Anita, me­nantu pemilik kos. Dia bilang, mendapat telepon dari Anita sekitar jam 12 siang.

Dalam percakapan di telepon, Mamnun menyebut, Anita tidak memberitahu peristiwa yang terjadi di kos-kosan tersebut. Dia hanya menyuruh Mamnun datang ke kos-kosan.

"Dia bilang sini-sini Bu, ke kosan," kata Mamnun, saat dijumpai.

Mendengar hal tersebut, Mamnun segera menghampiri Anita. Hingga saat itu, dia sama sekali tak terpikir ada sesuatu yang tidak beres di kos-kosan itu. Dalam pikirannya, mungkin Anita hanya ingin mengajak ngobrol. "Saya tidak curiga sa­ma sekali. Tidak tahu ada mayat di kosan," ucap Mamnun.

Setibanya di kosan, Mamnun diminta ke kamar, sekaligus ru­ang operator kamera pengawas. Di situ, Mamnun heran. Sebab, ada penjaga kos Wahyu Rowandi, Rofik Tri Riana sedang mengecek CCTV.

"Saya pikir ada kemalingan. Saya nggak tanya ada apa-apa, sibuk main WA saja," ucapnya.

Lalu, Anita dan penjaga kos lainmemutar ulang rekaman kamera pengawas. "Dilihat dari hari Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, Senin. Mau lihat ada yang mencurigakan tidak. Ternyata tidak ada," ujarnya.

Tak lama setelah itu, datang empat orang polisi. Mamnun yang penasaran langsung ber­tanya kepada Anita.

"Saya tanya ada apa. Dijawab, ada mayat di kamar," ucap dia menirukan suara Anita.

Di mata Mamnun, korban dikenal kerap keluar dari kamar kos saat malam hari. Meski tak kenal akrab, Mamnun tahu dari warga sekitar bahwa Ciktuti bekerjadi sebuah tempat karaoke bernama The Palace. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari kos yang ditempatinya.

Ada Seorang Pria Mengancamnya
  Menurut Ketua RT setempat Mamnun, hampir setiap hari korban keluar dari kamar kos sekitar pukul tujuh malam. Dia tak tahu pasti, di tempat karaoke Palace, korban bekerja sebagai pemandu karaoke atau bukan. "Pulangnya tidak tahu jam berapa," ujarnya.
Mamnun mengaku tak mengenal secara keseluruhan penghuni kos-kosan tersebut. Dia bilang, mayoritas penghuni kos itu bekerja sebagai karyawan.

"Ada 18 kamar kosan untuk cowok, cewek. Kalau di kamar kos, penghuni paling cuma dua bulan di sini dan nggak betah ya pindah lagi, seperti itu," kata Mamnun.

Di lingkungannya, cukup banyak rumah yang dijadikan kamar kos. Mamnun bilang, harga kamar kos di lingkungannya memiliki standar tarif Rp 2 juta per bulan.

Mamnun menuturkan, harga sewa kamar kos korban pun berkisar di harga Rp 2 juta. "Harga Rp 2 juta itu di sini fasilitasnya free wifi, ac, kamar mandi ten­tunya sudah di dalam semua," ucapnya.

Hana, rekan Ciktuti, mengaku sempat mendengar ancaman terhadap wanita asal Sumatera Selatan itu. Itu dia ketahui dari unggahan di media sosial. Kata Hana, ada seorang pria yang mengancamnya.

Disebut Hana, Ciktuti sempat mengunggah status Facebook Messenger dan WhatsApp dengan cara memasang tangkapan layar (screenshot) percakapan­nya dengan seorang laki-laki. Isinya mengandung ancaman. "Baru sekitar dua pekan yang lalu status itu," ucapnya.

Terpisah, Suhud, ayah Ciktuti, meminta agar pelaku pembunu­han putrinya dihukum berat. "Pelaku itu sudah didapat. Kita minta dihukum berat pelaku itu," ujar Suhud.

Latar Belakang
Cekcok Dengan 2 Pelaku Ciktuti Dipukul Pakai Palu

  Polisi menetapkan dua ter­sangka dalam kasus pembunu­han Ciktuti. Dua tersangka itu, Yustian, laki-laki dan Nissa Regina, perempuan, merupakan pasangan kekasih, teman kos korban. Mereka ditangkap di Merangin, Jambi, saat hendak melarikan diri ke Sumatera Barat.
Jumat pekan lalu, keduanya telah menjalani rekonstruksi di kamar kos korban. Dari rekonstruksi tersebut, ter­ungkap fakta-fakta soal keg­iatan Ciktuti dengan Nissa sehari sebelum terjadinya pembunuhan.

"Pada saat pelaksanaan rekonstruksi, urutan-urutan­nya sudah cukup jelas. Apa yang dituangkan dalam ber­ita acara pemeriksaan yang disampaikan tersangka, ada 13 adegan yang dilakukan," ujar Kapolres Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar.

Selain soal kegiatan karaokekorban bersama tersangka Nissa, polisi memastikan tidak ada duit titipan untuk Nissa lewat korban. Sebelumnya disebutkan, Nissa merasa dijanjikan uang Rp 1,8 juta, namun ternyata diberikan korban Rp 500 ribu.

Indra menjelaskan, sehari sebelum pembunuhan, Sabtu (17/11), Ciktuti, tersangka Nissa, dan seorang perem­puan lainnya pergi ke tempat karaoke. Tempat karaoke itu bukan tempat kerja Ciktuti.

"Mereka pergi ke tempat hiburan yang bukan di tempatkerja mereka. Mereka datang ke sana dan korban sebelum­nya sudah janjian dengan em­pat orang tamu," ujar Indra.

Dari tempat karaoke, merekamelanjutkan ke tempat lain. Tempat apa yang dituju dan kegiatan yang dilakukan tersangka Nissa, korban ber­sama tamu karaoke, masih didalami polisi.

Dari pengakuan tersangka Nissa, terkait kegiatan ini, dia merasa dijanjikan mendapat imbalan Rp 1,8 juta dari tamu saat ditemani karaoke. Tapi pada Minggu (18/11), Nissa merasa tidak menerima uang seperti yang dijanjikan.

"Sebelumnya Nissa ini merasa ada perjanjian, atau mungkin ada juga informasi dia akan mendapatkan sejum­lah uang yang tadi Rp 1,8 juta itu. Tapi pagi itu, dia dengan salah satu pelanggan hanya mendapat Rp 500 ribu," sam­bung Indra.

Persoalan ini diadukan Nissa kepada kekasihnya, Yustian. Kekasih Nissa itu lantas menelepon korban dan terjadi cekcok.

Dari telepon itu, korban kemudian datang ke kosnya di Jalan Senang, Mampang Prapatan VIII, Jakarta Selatan. Yustian dan Nissa, disebut Indra sudah satu minggu menumpang di kamar kos yang disewa Ciktuti.

"Terlebih dulu Yustian tele­pon ke korban, bahkan sampai ribut. Telepon-teleponan sam­pai ribut dan lain sebagainya. Jadi korban datang dalam keadaan panas, makanya menen­dang pintu dan bahkan ada ba­hasa mengusir keluar mereka dari situ," terang Indra.

Di luar itu, korban, sam­bung Indra, disebut tersangka kerap marah dengan pelaku Yustian dan Nissa. Kedua pelaku mengaku tersinggung dengan kelakuan korban ke­pada mereka.

"Mereka merasa tersing­gung bahwa kita dapat segini berharap lebih, tapi kok malah dimarah marahin. Menurut pengakuan tersangka, korbanini sering mengeluarkan ba­hasa-bahasa yang membuat mereka tersinggung," ujar Indra.

Setelah cekcok di kos, Yustian memukulkan palu ke kepala Ciktuti. Leher korban juga dijerat dengan tali. Nissa kemudian menyarankan agar Yustian memasukkan jasad Ciktuti ke lemari.

Sebelumnya, kasus pembunuhan ini terungkap berawal dari temuan mayat dalam lemari karena penjaga kos Ciktuti curiga dengan bau dari kamar korban. HIngga akhirnya Yustian dan Nissa di­tangkap di Jambi dan dibawa ke Polres Jaksel pada Kamis siang (22/11).

"Jadi, urut-urutan jelas. Tampak jelas bahwa mereka pelaku pembunuhan," tegas Indra. ***

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya