Berita

Said Salahudin/Net

Politik

Wajar, Keprihatinan Prabowo Terhadap 'Ojol' Dan Kegemasan Jokowi Ingin Menabok

SABTU, 24 NOVEMBER 2018 | 15:59 WIB | OLEH: SAID SALAHUDIN

PERNYATAAN Prabowo Subianto soal pekerjaan pengemudi ojek online (ojol) dan pernyataan Joko Widodo yang ingin menabok penebar isu dirinya aktivis PKI perlu dibaca utuh agar dapat dipahami konteksnya.

Suatu pernyataan itu harus dilihat konteksnya. Apa yang disampaikan oleh Pak Prabowo itu sebetulnya hanyalah ungkapan keprihatinan. Sedangkan perkataan Pak Jokowi semata ekspresi kegemasan.

Setelah menyaksikan utuh pidato Prabowo di acara 'Indonesia Economic Forum' (21/11), saya tidak menemukan ada yang salah dari pernyataan Prabowo terkait pekerjaan 'driver' ojol.


Pengemudi ojek hanyalah salah satu contoh dari sejumlah profesi lain yang dicontohkan oleh Prabowo untuk mengkomparasikan jenis pekerjaan masyarakat yang lebih ia harapkan.

Prabowo misalnya berkata ia lebih menginginkan anak Indonesia menjadi pemilik restoran daripada menjadi 'waiters'. Bukankah itu harapan yang baik?

Begitu pula saat ia berharap masyarakat bisa memiliki lahan pertanian sendiri daripada menjadi 'coolie'.

Kesemuanya itu adalah pernyataan komparatif tentang profesi di masyarakat yang lebih ia harapkan: dari sesuatu yang kecil menjadi menjadi sesuatu yang besar.

Lalu apa yang salah dari suatu keinginan atau harapan untuk menaikkan taraf hidup masyarakat? Dia bicara soal tingkat kesejahteraan masyarakat di forum yang tepat.

Jadi, tudingan bahwa Prabowo menghina atau merendahkan profesi pengemudi ojol itu saya kira muncul dari suatu kesalahpamahaman belaka, akibat informasi yang diterima tidak utuh dan kurang dipahami konteksnya.

Kalau kita baca naskah visi, misi, dan program Prabowo sebagai capres, dia justru menunjukan keberpihakannya kepada para pengemudi ojol.

Dalam dokumen resmi Pilpres itu Prabowo menjanjikan akan memberikan kepastian hukum pada ojol sebagai alat tranportasi umum.

Bahkan jika pengemudi ojol ingin membentuk suatu organisasi, paguyuban atau serikat pekerja sekalipun, Prabowo berjanji akan memberikan jamiman hak berserikat kepada para 'driver'.

Hubungan kemitraan antara pengemudi ojol dengan pihak perusahaan pun dijanjikan oleh Prabowo akan diperkuat dan melalui suatu Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang adil dan berkekuatan hukum.

Saya juga tidak melihat ada yang perlu dipersoalkan dari pernyataan Jokowi yang ingin mencari dan menabok orang-orang yang dianggap telah memfitnahnya sebagai aktivis PKI.

Kalau kita lihat utuh pidato Jokowi, dia tidak terlihat sungguh-sungguh ingin melakukan hal itu. Walaupun diksi yang digunakan bermakna kekerasan, tetapi saya menangkap itu hanya ekspresi kegemasan belaka.

Kalau dia sungguh-sungguh ingin melakukannya, sejak dulu dia bisa dengan mudah menemukan orang-orang yang dianggap telah memfitnahnya.

Sebagai Presiden dia bisa memerintahkan Kapolri untuk mencari dan memproses hukum para netizen yang selalu mengaitkan dirinya dengan PKI di media sosial.

Tetapi faktanya kan orang-orang itu sampai hari ini masih aman-aman saja. Kita masih bisa dengan mudah menemukan mereka di dunia maya.

Bahwa diantara mereka ada yang pernah dihukum, itu lantaran dia terbukti bersalah menyebarkan fitnah mengaitkan Jokowi dengan PKI. Tetapi yang menghukum dia lembaga pengadilan, bukan Jokowi sebagai Presiden.

Jadi, saya kira dapat dimaklumi jika Jokowi sampai melontarkan kata "tabok" untuk mengekspresikan kejengkelannya, setelah bertahun-tahun dia bersabar atas penyebaran fitnah itu. Apalagi kalimat itu dia sampaikan secara spontan. [***]

Said Salahudin
Direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma), Dewan Pakar Pusat Konsultasi Hukum Pemilu.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Protelindo Masuk BTEL, Kuasai 10,86 Persen Saham Bakrie Telecom

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:26

Prabowo ke NTT Hari Ini, Pastikan Penanganan Korban Gempa Berjalan Baik

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:17

Pengamat: Rekam Jejak Mumpuni Bikin KH Marsudi Syuhud Unggul di Bursa Ketum PBNU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:13

Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU Besok

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:12

Emas Antam Merosot Rp18.000, Satu Gram Jadi Segini

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:03

DEEP Ingatkan Percepatan Pemilu Harus Punya Alasan Konstitusional

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:55

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:44

SHOW Token Dorong Transformasi Industri Hiburan Global lewat Teknologi AI dan Blockchain

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:21

Bursa Asia Variatif, Investor Pantau Pergerakan Timur Tengah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:06

THMP Bantah Pertemuan Jokowi-Relawan Bahas Pemilu 2029

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:03

Selengkapnya