Berita

Darmin Nasution/Net

Bisnis

Darmin: Jangan Teriak Mau Menang-menangan

Ajak Pengusaha Buka Hati Sikapi Relaksasi Investasi Asing
SABTU, 24 NOVEMBER 2018 | 08:59 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah mengimbau pelaku usaha bijaksana dalam menyikapi kebijakan relaksasi daftar negatif investasi (DNI). Kabinet Kerja meyakinkan, Indonesia tidak jor-joran memberikan akses buat investor asing.

Menteri Koordinator Pereko­nomian Darmin Nasution geram dengan pernyataan sejumlah pelaku usaha yang menganggap relaksasi DNI tidak diperlukan. "Enak saja ngomong kaya gitu. Kita ini situasinya, transaksi berjalannya itu turun saja belum bisa. Kalau tidak masuk modal jangka pendek, tidak akan ada yang mengimbangi defisit itu nanti," kata Darmin di Jakarta, kemarin.

Darmin mengatakan, relak­sasi DNI adalah kebijakan yang harus dilaksanakan di tengah defisit transaksi berjalan yang masih melebar seperti seka­rang. Pemerintah perlu mener­bitkan kebijakan yang dapat meningkatkan transaksi modal dan finansial sehingga dapat mengimbangi defisit.


Menurut Darmin, dengan di­naikkannya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), saat ini Indonesia memiliki momentum untuk meningkatkan transaksi modal dan finansial.

"Sekarang momentumnya modal asing mulai mau masuk, apalagi setelah kebijakan bunga BI dinaikkan. Momentum ini harus dimanfaatkan dan dijaga. Dengan apa? Dengan berita positif, bukan karena duit," terangnya.

Darmin meminta para pengu­saha membuka hati dan pikiran dalam merespons relaksasi DNI. Ditegaskannya, dirinya siap menjelaskan satu per satu alasan poin-poin dalam relak­sasi DNI.

"Kami sudah menyampaikan ke Kadin (Kamar Dagang dan Industri) dan Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), tapi katanya masih kurang, ya nggak apa-apa kami akan jelas­kan lagi," katanya.

Dia menilai, pandangan se­bagian pengusaha kacau karena dapat informasi yang keliru. Misalnya, informasi soal bi­dang usaha industri penguasaan umbi-umbian yang dibuka untuk investasi asing. Padahal, tidak benar.

"Kita fair aja. Kalau dia (pengusaha) punya bukti, ya kami akan ikuti. Pada dasarnya kami terbuka, kami tidak mau menang-menangan sendiri. Kami juga harapkan pengusaha juga bukan hanya teriak mau menang-menangan," cetusnya.

Ngerti Dunia Usaha


Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menegaskan, tidak semua kebijakan harus dibicarakan dengan pengusaha.

"Tidak semua kebijakan pe­merintah harus dibicarakan dengan pengusaha. Jangan lupa, Presiden dan saya dan juga Menko ini pengusaha juga, jadi ngerti juga. Bukan tidak mengerti. Pak Jokowi ngerti, saya ngerti, Menko Maritim (Luhut B Pandjaitan) mengerti soal-soal dagang itu," kata JK menjawab keluhan pelaku usaha yang tidak diajak bicara meru­muskan relaksasi DNI.

JK menegaskan, revisi DNI ini sama sekali tidak merugikan pengusaha nasional. Pemerintah masih membatasi investasi asing di dalam negeri. Indonesia tidak seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand yang jor-joran mem­buka investasi asing.

"Kalau kita tidak mempunyai peraturan yang bisa bersaing dengan negara-negara itu, lama-lama kita akan ketinggalan di sektor investasi," tuturnya.

JK yakin, relaksasi DNI bakal meningkatkan aliran modal asing ke Indonesia, khususnya dari bidang usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Selain meningkatkan investasi asing, JK juga yakin, relaksasi DNIbisa memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan pajak di Indonesia. Kemudian, masuknya perusa­haan asing ke Indonesia dapat memberi banyak manfaat. Salah satunya, transfer teknologi dari investor asing ke dalam negeri. Manfaat lainnya, makin terdorongnya pembangunan, salah satunya infrastruktur.

"Dulu kalau bikin gedung bertingkat 20, itu selalu kon­traktor asing, kita yang pengu­saha nasional hanya jadi sub-kontraktor. Sekarang, hampir semua gedung di Jakarta sudah (kontraktor) nasional. Itu karena terjadi transfer teknologi, mu­lanya kita tidak tahu, tapi lama-lama transfer teknologi seperti itu," ujarnya. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

KPK Panggil PNS dan Karyawan Swasta di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:21

Kapolda Riau: Penghargaan Nugraha Sakanti Prestasi Seluruh Personel

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:20

Mahfud MD Ajak Masyarakat Tetap Cintai Polri Seburuk Apa Pun Kinerjanya

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:16

KPK Panggil Sejumlah Pejabat Imigrasi di Kasus Pemerasan Silmy Karim

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:10

KPK Masih Periksa Bupati Kuansing Suhardiman Amby

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:48

Audit Dugaan Penyimpangan Impor Sianida PPI, KPK dan BPKP Didesak Turun Tangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:39

Komisi I DPR Ungkap Alasan Draf RUU KKS Belum Dibuka ke Publik

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:35

Bos Maktour yang Juga Mertua Dito Ariotedjo Dipanggil KPK

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:21

Masih Penyesuaian Sistem, Pajak Olshop di Marketplace Berlaku Mulai 1 Agustus

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:16

Prabowo Layak Dicontoh Bagi Siapa Pun yang Ingin Jadi Presiden

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:01

Selengkapnya