Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Ketika Beijing Berubah Menjadi Begging

JUMAT, 16 NOVEMBER 2018 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

DI judul berita itu tertulis 'Begging'. Artinya 'mengemis'.

Padahal si penulis bermaksud menulis kata 'Beijing'. Ibu kota Tiongkok.

Kesalahan itu menjadi sangat sensitif. Ketika dilihat media mana yang menulis. Dan ada kejadian apa saat itu.


Yang menulis adalah media Pakistan. Tepat saat Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, lagi berkunjung ke Beijing.

Pimred televisi pemerintah Pakistan itu langsung diberhentikan. Lantaran memberi kesan pimpinan negaranya lagi ke Begging untuk mengemis.

Imran Khan pada dasarnya memang lagi minta bantuan. Tapi kata 'begging' adalah penghinaan.

Imran, mantan kapten juara dunia kriket itu, memang lagi di simpang tiga: harus memilih ke arah mana. Agar ekonomi negaranya tidak bangkrut: ke Saudi Arabia, ke IMF atau ke Tiongkok.

Imran ternyata ke Saudi dulu: dapat janji USD 6 miliar. Lalu ke IMF. Minta USD 12 miliar. Tapi IMF masih minta banyak syarat.

Dan minggu lalu Imran ke Tiongkok. Berhari-hari. Selama lima hari!

Praktis semua air liur yang pernah Imran ludahkan sudah dijilat kembali.

Imran begitu benci IMF. Yang dianggap menyengsarakan rakyat Pakistan. Kini menyerah ke IMF.

Imran awalnya juga tidak suka Saudi. Yang memberi perlindungan kepada lawan politiknya: Nawaz Sharif. Kini Imran minta bantuan Saudi.

Ia juga begitu anti China.

Lantaran pemerintah sebelumnya sangat pro-Tiongkok. Bahkan sudah tergantung pada proyek-proyek besar One Belt One Roadnya Xi Jinping.

Tapi saat ke Beijing minggu lalu Imran kelihatan sangat asyik. Menikmati kunjungannya itu. Ke Beijing dan Shanghai. Bertemu Perdana Menteri Li Kejiang dan Presiden Xi Jinping.

Setidaknya 15 kontrak baru dibuat. Bahkan hubungan Pakistan-Tiongkok lebih baik lagi. Sudah dianggap sangat khusus: teman segala musim.

Dengan demikian: yang sudah pasti barulah komitmen Tiongkok. Yang sudah berjanji akan membantu apa pun kesulitan Pakistan.

Maka begitu tiba kembali di negaranya Imran memanggil sidang kabinet. Menjelaskan secara khusus hasil kunjungannya ke Beijing. Yang ia anggap sebagai kunjungan paling berhasil.

Apakah permintaannya ke IMF tetap dilanjutkan?

Pembicaraan masih terus berlangsung. Tapi Pakistan sudah menegaskan: tidak mau menjual BUMN strategis. Seperti yang diminta IMF.

Rakyat juga sudah mulai mengecam Imran: saat Imran nyerah ke IMF itu. Yang ditafsirkan harga-harga akan segera naik. Karena IMF pasti minta subsidi dicabut.

Perubahan juga terjadi di Srilanka. Pemerintah yang anti Tiongkok sudah digulingkan.

Partai kecil yang berkoalisi dengan Wicremeshinghe memisahkan diri. Pindah haluan ke kelompok oposisi: menjadi mayoritas baru. Memecat perdana menteri Wecremeshinghe. Yang pro-Amerika.

Ini berarti dua negara di Asia selatan sudah menjadi sahabat Tiongkok kembali.
Lalu yang ini....

Tim besar dari Argentina minggu lalu juga lagi di Beijing: minta bantuan penyelamatan ekonomi. Yang dilanda inflasi 40 persen.

Argentina minta jaminan USD 6 miliar dolar. Agar ekonominya selamat.
Xi Jinping sendiri akan ke Buenos Aires. Untuk menghadiri KTT G-20. Presiden Donald Trump juga akan hadir. Inshaallah. Bertemu Xi Jinping. Untuk pertama kalinya. Setelah  terjadi perang dagang sejak Juli lalu.

Mungkin suasana kebatinan Trump masih gundah. Di dalam negerinya lagi kalah Pemilu. Di Argentina harus nonton kemenangan Tiongkok.

Satu persatu negara Amerika Latin menjadi pro-Beijing. Meninggalkan dukungannya ke Taiwan. Seperti yang baru saja dilakukan El Salvador. Yang bikin Amerika sewot.

Kesimpulannya: ekonomi akhirnya mendikte politik.

Di mana pun.

Kapan pun. [***]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya