Berita

Din Syamsuddin/Net

Publika

Memahami Dan Memaknai Bintang Jasa Yang Diterima Din Syamsuddin Dari Jepang

MINGGU, 04 NOVEMBER 2018 | 19:53 WIB

PROF. Dr. Din Syamsuddin diundang ke Tokyo untuk menerima penganugrahan Bintang Jasa dari Pemerintahan Jepang atas jasa-jasanya meningkatkan saling pengertian antara ummat Islam di Indonesia dengan para aktifis, cendekiawan, para politisi, dan tentu juga Pemerintah Jepang.

Sahabat Din seorang antropolog senior yang sangat berpengaruh dari Universitas Chiba, Prof. Mitsuo Nakamura menemukan fakta bahwa Muhammadiyah sudah dikenal masyarakat Jepang sejak tahun 1970-an. Bahkan menurutnya jauh sebelum Indonesia merdeka tepatnya pada tahun 1937, organisasi yang didirikan oleh K. H. Ahmad Dahlan ini sudah melakukan hubungan harmonis dengan Jepang.

Bila merujuk pada temuan Nakamura yang ditulis dalam disertasi doktornya yang telah diterbitkan dengan judul 'Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin', maka penghargaan yang diterima Din sebenarnya merupakan apresiasi terhadap perannya melanjutkan hubungan harmonis antara dua masyarakat yang sudah dirintis Muhammadiyah.


Din memang Ketua Muhammadiyah di era modern yang paling aktif mengembangkan dialog antar agama dan peradaban lintas negara. Bahkan posisinya sebagai Ketua Umum Muhammadiyah dirasa tidak cukup untuk menampung gagasan dan semangatnya. Untuk itu ia dan sejumlah tokoh senior Muhammadiyah mendirikan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC).

Kiprahnya juga tidak bisa dilepaskan dari kapasitasnya sebagai tokoh agama baik dalam posisinya sebagai pimpinan MUI, maupun sebagai cendekiawan yang mengajar di Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Din seolah selalu kekurangan wadah untuk menampung gagasan dan energinya untuk terus- menerus mengembangkan gagasan dan pemikiran Islam yang moderat dan toleran ( Islam Wasathiah ) agar Ummat Islam dapat membawa Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi penghuni alam semesta).

Din Syamsuddin sejatinya tidak melakukannya hanya untuk Pemerintah dan masyarakat Jepang, akan tetapi terhadap semua masyarakat di dunia melalui berbagai bentuk dialog antar agama dan peradaban demi kebaikan dan kemajuan bersama.

Di dalam negri sebenarnya ia telah mendapatkan penghargaan lebih dahulu atas kiprahnya membangun toleransi dan saling pengertian diantara ummat beragama oleh Pemerintah Indonesia dengan ditunjuk sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban.

Bagi para politisi di Indonesia, Din dipandang bukan hanya sebagai tokoh agama dan cendekiawan, akan tetapi ia juga seorang politisi. Akan tetapi ia bukan politisi kebanyakan yang berpolitik dengan cara mengumbar kemarahan, mencari kesalahan lawan, lebih suka menggunakan telunjuk untuk menuding dalam mengungkapkan sebuah gagasan politik. Din memilih cara merangkul dan mengulurkan tangan siap berjabat tangan kepada semua orang. Karena itu, baginya seolah tidak ada lawan, semuanya kawan. Karena itu ia tidak memilih partai politik sebagai kendaraan.

Sebagai ulama atau cendekiawan ia sudah mendapatkan berbagai bentuk penghargaan dari dunia internasional, akan tetapi sebagai politisi non partisan dan langkahnya yang non konvensional masih perlu waktu untuk menilainya. [***]

Dr. Muhammad Najib
Direktur Eksekutif CDCC (Center for Dialogue and Cooperation among Civilization)

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Rayakan HUT Perusahaan Lewat Santunan Anak Yatim

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:59

Polisi Geledah Rumah terkait Kasus Dugaan Korupsi Kejagung, 74 Kg Emas Diamankan

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:40

Ketahanan Energi Indonesia Masih Pincang Tanpa Ada Cadangan Strategis

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:12

Polisi Geledah 12 Titik Kasus Korupsi, Rumah Mewah Jampidsus Tidak Termasuk

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:50

Peradi Profesional Catat Rekor Kerja Sama dengan 112 Perguruan Tinggi

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:45

IPW Dukung Polri Usut Dugaan Korupsi di Lingkungan Kejagung

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:26

Yogyakarta dan Takdir Dirgantara

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:01

Kritik terhadap Pemerintah Bagian dalam Kehidupan Demokrasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:41

Pertamina Berdayakan Difabel Kampung Rajut Inspirasi Green Warrior Bandung

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:18

Polisi Sita Uang Miliaran Rupiah Usai Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:14

Selengkapnya