Berita

Tuti Tursilawati/Net

Dunia

Legislator PDIP Prihatin Eksekusi Mati 'Diam-Diam' TKI Di Saudi

RABU, 31 OKTOBER 2018 | 08:34 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pemerintah Arab Saudi tanpa notifikasi resmi telah mengeksekusi mati tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Majalengka, Tuty Tursilawati.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Evita Nursanty mengecam keras tindakan Saudi itu telah melanggar kaidah-kaidah hukum internasional.

"Saya mengecam eksekusi mati Tuti ini tanpa melalui notifikasi resmi ke Indonesia. Bahkan kita dengar pihak KJRI Jeddah sudah berkomunikasi dengan Tuti pada 28 Oktober namun tak ada indikasi akan dieksekusi mati," ujar Evita kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (31/10).


Sebagai negara sahabat, apalagi belum lama ini Menlu Arab Saudi Adel al-Jubeir berkunjung ke Indonesia untuk mengikuti Joint Commision Meeting, ia jelas kaget dan kecewa.

Menurut Evita, Indonesia sangat terganggu karena salah satu yang dibahas dalam Joint Commision Meeting kedua negara pada Selasa (23/10) pekan lalu mengenai WNI yang terjerat hukum dan pentingnya notifikasi.

Bahkan hal itu juga telah disampaikan Presiden Jokowi saat menerima kunjungan Menlu Adel al-Jubeir di Istana Bogor sehari sebelumnya.

"Secara psikologis kita sangat terganggu karena sebelumnya kita sudah wanti-wanti. Saya sulit untuk menggambarkan betapa kita sedih, prihatin dan menyesalkan dengan apa yang sedang terjadi. Saya menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga Tuty Tursilawati," tutur Evita.

Tuti sendiri didakwa hukum mati karena memukul majikannya, Suud Malhaq Al Utibi hingga tewas dengan kayu. Kejadian berlangsung di rumah Malhaq, di Kota Thaif pada 11 Mei 2010. Tuti juga dituduh membawa lari perhiasan.

Ibu Tuty, Iti Sarniti berkeyakinan anaknya tidak berniat membunuh majikannya, melainkan membela diri.

Setelah membunuh majikannya, Tuty berusaha kabur dari rumah namun bertemu dengan sembilan orang pria yang kemudian melakukan pelecehan seksual terhadapnya.[wid]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya