Berita

Menanamkan Nilai-Nilai Empat Pilar Di Bumi Reog Ponorogo

SELASA, 30 OKTOBER 2018 | 10:26 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Masyarakat Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur yang biasanya menonton pertunjukan reog, kali ini mendapat suguhan pagelaran wayang kulit.

Pagelaran wayang dengan dalang Ki Anom Suroto dengan mengangkat lakon 'Bimo Labuh' digelar di Lapangan Monumen Bantarangin, Ponorogo pada 28 Oktober 2018.

Sebagai seni dan budaya masyarakat Jawa, tidak heran bila pentas itu dibanjir para penggemar wayang yang datang tidak hanya masyarakat di Sumoroto namun masyarakat desa, kecamatan lain bahkan datang dari Pacitan, Madiun, Magetan dan Wonogiri, Jawa Tengah.


Pertunjukan wayang biasanya digelar untuk acara ritual bersih desa, hajatan pernikahan, syukuran, memperingati hari jadi kota, bahkan tolak bala. Namun kali ini, digelar untuk mensosialisasikan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau yang lebih popular disebut Empat Pilar MPR.

Hadir dalam keramaian itu tiga Anggota MPR dari Fraksi Partai Demokrat, Edhy Baskoro Yudhoyono; Guntur Sasono; dan Sartono Hutomo; Kepala Biro Humas MPR, Siti Fauziah; Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antarlembaga dan Layanan Informasi Humas MPR, Muhammad Jaya. Sedang dari pihak tuan rumah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ponorogo, Lilik sekaligus mewakili Bupati Ponorogo; dan Camat Kauman Joko Waskito.

Sebelum pentas dimulai, di hadapan undangan dan ribuan penonton, Siti Fauziah menuturkan seni budaya nusantara banyak mengandung tuntunan.

"Banyak tuntunan lewat tontonan," ucap perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat itu.

Alasan inilah yang membuat MPR menggunakan wayang kulit sebagai media mensosialisasikan Empat Pilar. Dikatakan, pentas wayang merupakan salah satu dari metode puluhan metode yang lain. Dirinya berharap pertunjukan itu bisa dinikmati masyarakat dan selanjutnya pesan-pesan yang ada diimplementasikan dalam keseharian.

Edhy Baskoro dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, dirinya ke Ponorogo selain untuk bersilaturahim dengan masyarakat juga bertugas melakukan Sosialisasi Empat Pilar. Bagi pria yang akrab dipanggil Ibas, sosialisasi dikatakan sangat penting untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Disampaikan, Indonesia negara besar yang memiliki penduduk mencapai 260 juta jiwa. Wilayahnya terbentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Kebesaran dan keragaman inilah yang diharapkan menjadi kebanggaan. "Harus bangga hari ini kita masih tegak berdiri sebagai bangsa," ujar Ibas.

Dia mengajak semua terus menjaga kebersamaan, persatuan dalam bingkai Empat Pilar MPR. "Agar kita tidak terpecah belah, tetap menjadi bangsa yang damai, bersatu, dan bergerak maju demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama," katanya.

Terkait dengan sosialisasi dengan metode seni dan budaya, Ibas mengajak penonton untuk mendengarkan dan mencerna cerita, filosofi, serta motivasi yang disampaikan lewat lakon Bimo Labuh. "Melalui metoda ini, saya mengajak mengimplementasikan Empat Pilar dalam keseharian," ucapnya.

Lakon ini mengisahkan Raja Astina, Bimo, yang juga dikenal sebagai Brotoseno, sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana. Dia rela berkoban demi kepentingan rakyat dan kebenaran. Seandainya harus kehilangan tahta dia tidak akan mengeluh, bahkan selalu berupaya dan memastikan rakyatnya hidup sejahtera. Caranya, dengan memberi bantuan, memberikan program pembangunan, memberikan penyuluhan, dan tentunya mengajak rakyat lebih optimistis dalam menghadapi kehidupan.

Dari singkat cerita itu, Bimo Labuh sesuai dengan karakter yang terkandung nilai-nilai Empat Pilar. Dirinya mengakui, datang ke Ponorogo bukan kali pertama. "Saya sering ke kota reog," ungkapnya.

Sosialisasi di Monumen Bantarangin dikatakan cucu Sarwo Edy Wibowo itu sangat istimewa sebab di tempat ini pernah ada Kerajaan Bantarangin dengan Raja Klono Sewandono. Kerajaan ini merupakan cikal bakal Ponorogo dan kesenian reog. "Tak heran bila monumen ini dikenal sebagai kota lama Ponorogo," ungkapnya.

Dari pentilasan inilah membuat dirinya mendukung rencana Pemda Ponorogo yang ingin pada tahun 2019 memiliki Kampung Reog dan Kampung Batik. Ini dilakukan agar Ponorogo tak hanya menjadi tujuan wisata namun juga sebagai upaya melestarikan budaya leluhur.

"Kalau ingin reog tidak mau dicuri negara lain, mari lestarikan bersama. Reog telah menjadi kebanggaan Indonesia  dan termasuk salah satu budaya yang sangat penting di dunia. Maka harus kita jaga," demikian Ibas. [rus]

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Kultus “Benda-benda Suci” di Eropa Abad Pertengahan

Minggu, 15 Maret 2026 | 06:16

Lulusan IPDN Disiapkan Wujudkan Standar Pelayanan Minimal di Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:59

Roy Suryo Cs Dilarang Ladeni Rismon Beradu Argumentasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:32

Abdul Malik bin Marwan, Revolusi Birokrasi yang Mengubah Sejarah Islam

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:23

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

Trump Berbaju Fir’aun

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:31

Enam Bulan Purbaya, Rupiah Melemah tiap Bulan

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:08

Pendekatan Teman Sebaya Efektif Cegah Bullying di Sekolah

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:02

Rismon Menelan seluruh Omongannya Tanpa Ada Terkecuali

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:21

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Selengkapnya