Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Impian Negara Hukum

SENIN, 29 OKTOBER 2018 | 23:51 WIB | OLEH: MARGARITO KAMIS

HASRAT, selalu hebat, untuk berkehidupan sebagai mahluk mulia, kehidupan berperikemanusiaan dan berperikeadilan menghasilkan temuan berupa hukum harus dijadikan platform bersama dalam kehidupan itu. Hasrat ini, begitulah sejarah menuliskannya dirangsang, digoda, dan dipeluk nilai-nilai hebat. Dalam tradisi barat nilai-nilai ini dicari, ditemukan dalam pelukan hukum alam.

Alam, kata para bijak memiliki bahasa sendiri, bahasa yang darinya keindahan-keindahan kemanusiaan menemukan maknanya. Keindahan itu, salah satunya, semua orang sama derajatnya, bukan sebagaimana dipraktikan di Eropa dan Amerika sampai pertengahan abad ke-20. Hingga abad itu, dibelahan kedua bumi itu eksistensi manusia masih tersusun menurut asal-usul. Belanda, tentu sebagai penjajah, tragisnya, mempraktekannya di Indonesia pada masanya.

Akal Sehat


Muncul sebagai reaksi atas tatanan feodal, tatanan yang memiliki defenisi khas tentang manusia; sebagian bereksistensi sebagai budak - benda yang dipertukarkan dan diperjualbelikan, negara hukum  menolak  supremasi kelompok, apapun alasan dan tujuannya. Perancis, melalui revolusinya yang terkenal pada tahun 1789 memimpin penolakan itu. Penolakan ini, dalam titah negara hukum  bersifat absolut.

Tatanan baru itu dipagari dengan hukum, dan lembaga-lembaga baru. Lembaga pelaksana hukum, didefenisikan wewenangannya. Harus didefenisikan, karena  wewenang  diterima sebagai metode esensial negara hukum mendekatkan, membimbing dan menuntun aparatur hukum ke relung-relung kemanusiaan dalam bertindak, bukan sebaliknya main hantam, ngarang, sikat dan gebuk. Wewenang tidak pernah lain substansinya selain "membatasi."

Negaralah, tentu melalui aparaturnya, senang atau tidak, suka atau tidak, memonopoli wewenang menegakan hukum. Ini absolut sifatnya. Demi menghormati hak setiap orang, negara hukum mewajibkan aparatur negara yang hendak  menegakkan hukum, terlebih dahulu memeriksa hukum yang menjadi dasar dan alasan tindakannya.

Hukum yang hendak digunakan mesti nyata dan masuk akal. Peristiwa yang dinilai melawan hukum juga mesti nyata, obyektif, dapat diperiksa oleh semua pihak yang berakal. Bukan tak bisa berkreasi, bertindak melampaui batas kewenangan konvensional, tetapi untuk hal itu pun negara hukum menentukan kriterianya. Begitulah cara negara hukum berikhtiar menjaga marwahnya.

Negara hukum, dimanapun, tidak meminta hal mustahil dari warga, juga aparaturnya. Negara hukum tidak membebankan hal mustahil menjadi tanggung jawab warga, juga aparaturnya. Tidak. Negara hukum hanya meminta dan atau membebankan "tanggung jawab hukum," yang secara alamiah "obyektif," dan dalam timbangan akal sehat. Praktis obyektifitas, bukan subyektifitas, yang diagungkan negara hukum.

Tak pernah, dimanapun, negara hukum meminta aparatur mengetahui niat seseorang  dengan cara menyelami bathinnya. Tidak. Karena aparatur negara tidak hidup dalam bathin seseorang, maka negara hukum mengharuskan aparatur hukum meneliti secara saksama semua fakta. Faktalah yang bicara, menurut hukum, ada atau tidaknya niat atau kelalaian seseorang yang disangka melakukan peristiwa pidana, actus reus.

Obyektif

Tindakan main pukul, dengan alasan dan tujuan apapun, yang dilakukan oleh satu komunitas, sebut saja seperti  Ku Klux Klan di Amerika, dihinakan oleh negara hukum. Tindakan sejenis tidak pernah menjadi impian negara hukum. Tidak di Indonesia, dimanapun negara hukum tidak menyediakan, sekecil apapun, ruang pembenaran kelompok warga, terorganisir atau acak  bertindak atas nama, alasan dan tujuan apapun terhadap warga lainnya.

Begitulah cara negara hukum menemukan metode pengagungan kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan. Begitu pulalah negara hukum mengagungkan setiap manusia, baik sebagai individu merdeka maupun sebagai individu merdeka yang berhimpun dalam satu perserikatan. Begitu pulalah negara hukum memelihara, memadu, merangkai, menjaga jalinan hubungan antarwarga sebagai sesama manusia merdeka.

Adab negara hukum adalah adab orang merdeka, orang mulia, bukan adab bar-bar. Negara hukum, dalam mimpinya yang esensial hendak mengadabkan orang bar-bar, mengubahnya menjadi beradab, menundukan mereka pada nilai-nilai bersama yang serasi dengan keindahan kemuliaan manusia, dan berkhidmat padanya. Moralitas negara hukum adalah moralitas hukum, yang  memiliki  keserasian dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Bukan jenis dan atau ragam kelembagaan negara yang menandai tipikal negara hukum. Negara hukum menandai tipikalnya dengan hal-ihwal yang disebut diatas, dalam esensinya sebagai cara pengagungan dan pemuliaan terhadap manusia. Tak ada tuntutan menjadi orang bijak, negara hukum hanya meminta, sangat, setiap manusia menaati hukum, tahu hak dan kewajiban, yang dengan itu keadilan merekah menyinari kehidupan.

Demi marwahnya, negara hukum tak menujuk legitimasi sebagai sumber hak dan kewajiban. Negara hukum menunjuk hukum sebagai sumber lahirnya hak atau kewenangan, bukan legitimasi. Dalam negara hukum, legitimasi, sekali lagi, tidak pernah diakui sebagai konsep hukum. Konsep ini sepenuhnya bersifat sosiologis, dengan konsekuensi legitimasi tak bisa ditunjuk sebagai pembenar lahirnya kewenangan menindak siapapun yang dicurigai memiliki niat jahat.[***]

Penulis adalah Doktor Hukum Tata Negara, Staf Pengajar pada Fakultas Hukum Universitas KHairun Ternate.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya